Sukses

Lifestyle

Pesona Payakumbuh, Kota Elok yang Kini Aku Rindukan

Fimela.com, Jakarta Punya cerita atau pengalaman tentang rasa rindu kepada kampung halaman, berbagai macam makanan khas daerahmu yang menggugah selera, hingga objek wisata yang bagai surga dunia? Atau punya cara tersendiri dalam memaknai cinta Indonesia? Pada bulan Agustus kali ini, kamu bisa membagikan semuanya dalam Lomba Share Your Stories bulan Agustus dengan tema Cinta Indonesia seperti tulisan yang dikirim oleh Sahabat Fimela ini.

***

Oleh: Dianty Rosirda

Payakumbuh adalah tempat yang ingin kembali kukunjungi. Tentu bersama keluargaku. Tahun 2011 adalah kali terakhir aku mengunjungi Payakumbuh. Tahun saat ayahku berpulang setelah sempat mudik dan berjalan-jalan di sana bersama anak, menantu, dan semua cucu-cucunya.  

Payakumbuh memang tempat kedua orang tuaku dibesarkan. Hal yang paling kuingat setiap pulang ke sana adalah makanannya. Makanan di sana selalu terasa enak di lidah. Selain itu, jenis makanannya pun beragam. Banyak hal spesial tentang Payakumbuh yang bermain di memoriku karena bagiku semua menarik. Tahun 2011 itulah saat aku mulai mengamati dan menikmati setiap hal-hal kecil termasuk lukisan alam yang terbentang.

Kenangan Masa Kecil

Tanah Mati. Di sanalah rumah peninggalan kakek dan nenek dari ibuku berdiri. Entah kenapa daerah itu disebut Tanah Mati, hingga kini aku belum menggali sejarahnya. Di sana terdapat makam kakek dan nenekku, yang kupanggil uwo dan datuk. Makam itu hanya beberapa meter jaraknya dari masjid yang diwakafkan beliau. 

Dulu, dekat makam dan masjid masih dikelilingi sawah. Kini sudah dibangun rumah-rumah penduduk. Dari rumah kakek-nenekku ke masjid, harus melewati sebuah kolam ikan. Tabek, begitu ibuku menyebutnya. Tabek itu berisi ikan-ikan yang besar, tetapi di tabek itu pulalah, aku saat kecil buang air besar. Saat itu, rumah kakek-nenekku belum dilengkapi dengan WC. Saat anak-anakku ke sana tahun 2011 lalu, mereka sudah tidak mengalami hal itu karena WC sudah dibangun.

Selain Tanah Mati, daerah yang menjadi tujuan mudik adalah Simalanggang. Simalanggang adalah sebuah nagari yang berjarak sekitar 5 km dari Payakumbuh. Dari Tanah Mati, transportasi yang tersedia adalah delman, sebuah kereta kuda yang disebut bendi. Rumah Gadang peninggalan nenek moyangku ada di sana. Kerabat dekatku pun banyak yang tinggal di Simalanggang. Di sanalah aku bisa bebas melihat tanaman coklat di halaman rumah. Jujur saja, di sana pula aku baru mengetahui bentuk buah coklat dan memakannya secara langsung. 

Kuliner yang Beragam

Payakumbuh meninggalkan memori tentang kuliner yang beragam dan lezat. Tidak jauh dari Tanah mati, terdapat kedai martabak yang terkenal. Martabak mesir H. Wan namanya. Sensasi rasanya memang berbeda dengan martabak telur yang biasa dijual di sekitar tempat tinggalku di Bandung. 

Selain martabak, banyak juga produsen rendang di sepanjang jalan Lampasi. Rendang yang terkenal adalah rendang telur yang dimasak kering seperti kerupuk. Meski tak hanya rendang telur yang dijual, tetapi itulah yang terkenal dari Payakumbuh. Tak cukup hanya martabak dan rendang, gelamai, bareh randang, soto padang, sate, katupek samba, pisang goreng ketan, keripik balado, aneka kerupuk, dan masih banyak kuliner lain yang kelezatannya tidak terlupakan.

Lukisan Alam yang Memukau

Alam yang indah dan permai merupakan anugerah yang tak ternilai harganya. Karunia dari Sang Pencipta yang harus dijaga kelestariannya. Salah satu tempat yang sering dikunjungi wisatawan adalah Lembah Harau, yaitu lembah yang diapit oleh dua buah bukit. Di sana terdapat air terjun dengan sungai-sungai kecil yang airnya jernih.

Di sekitar Lembah Harau, ada lokasi menarik lain yaitu Ngalau Seribu dan Puncak Marajo. Tak hanya di dalam lokasi Lembah Harau, saat perjalanan pun pemandangan alam nampak sangat indah. Kelok Sembilan adalah jembatan yang melengkapi keindahan alam Payakumbuh.

Tempat berenang yang memiliki sensasi berbeda juga ada di Payakumbuh, namanya pemandian Batang Tabik. Meski hanya kolam pemandian, tetapi sumber air yang berasal dari mata air di perbukitan membuat air kolam selalu segar. Saat kecil dulu, aku dan anak-anak kecil lainnya bahkan berenang di saluran air, lo. Meski demikian, airnya bersih dan segar.

Masih banyak lokasi lain yang dapat dikunjungi, seperti rumah Tan Malaka, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Karena itulah, Payakumbuh menjadi tempat mudik yang dirindukan. Aku berharap dapat kembali ke sana bersama keluarga meski kini ayahku tak bisa lagi menemani.

 

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Pengumuman Pemenang Share Your Stories Agustus 2021
Artikel Selanjutnya
Memiliki Ayah Berdarah Jawa dan Ibu dari Sunda, Hidupku Punya Warna Berbeda