Sukses

Lifestyle

Lady Boss: Franka Franklin, Berbisnis dan Berdayakan Perempuan Lewat Tulola

Fimela.com, Jakarta Menjadi seorang enterpreneur sempat jadi profesi yang 'seksi' bagi kaum muda seiring besarnya eksposur dari tayangan dan media sosial belakangan ini. Namun pada kenyataannya jumlah pebisnis di Indonesia masih minim, yakni 3,47 persen dari total penduduk berdasarkan pernyataan Menteri BUMN, Erick Thohir April lalu.

Satu di antara presentase kecil tersebut, adalah Franka Franklin yang sudah bertahun-tahun menekuni dunia bisnis. Sejak lima tahun terakhir Franka bergabung dengan Happy Salma dan Sri Luce mengembangkan Tulola, brand perhiasan berbahan dasar perak Bali dengan sentuhan Nusantara sebagai identitas.

Tulola juga dikenal akan produknya yang dirangkai layaknya karya seni. Proses kreatif dan pencarian inspirasi jadi dasar pembuatan setiap koleksi mereka, sehingga lahirlah cerita di setiap karya. Sisi craftmanship memperkuat karakter Tulola yang kini memiliki gerai di Jakarta dan Bali.

"Dari segi branding sendiri, kita mencoba mengingat bahwa inspirasi di Indonesia itu banyak sekali. Di mana bisa diambil dari buku, daerah, lagu, teater, motif yang ada dari leluhur kita," tutur Franka Franklin dalam sesi wawancara virtual dengan FIMELA belum lama ini.

Menjadi co-founder sekaligus CEO, Franka turut menyusun strategi bisnis yang dijalankan Tulola. Tak melulu soal laba-rugi, mereka bertiga sepakat untuk memberi perhatian lebih terhadap kesejahteraan perempuan, setidaknya dalam lingkup bisnis internal mereka.

"Jadi salah satu yang paling spesial bekerja di Tulola karena kita percaya dengan kekuatan wanita dan kekuatan di dalam masyarakat. Kami bertiga Sri, Happy dan saya, dibesarkan oleh wanita kuat, ibu kita ini yang berkarya, karier dan berdampak lingkungan. Dari situ kita percaya wanita itu luar biasa dan harus disupport," tegasnya.

Di balik konsistensinya dalam berbisnis dan memberdayakan perempuan, Franka juga mendapat dukungan orang-orang terdekat sebagai support system. Ia mengungkap dukugan suami tecinta, Nadiem Makarim menjadi salah satu energi terbesar selama ini.

"Nomor satu adalah peran suami saya. Jujur saya beruntung memiliki pasangan hidup selama sudah lebih dari belasan tahun, saling mendukung satu sama lain melakukan apa yang kita inginkan, mau sekolah lagi, memulai karier di organisasi yang belum pernah orang dengar, menjalankan usaha yang belum diketahui orang. Apapun itu, kita saling mendukung. Kedua, bagaimana saya dan suami saling support dalam berkeluarga, itu sesuatu yang paling penting buat saya," terangnya.

Berbagai cerita menarik diungkap Franka Franklin dalam sesi wawancara eksklusif secara virtual ini, mulai dari cita-cita, adaptasi bisnis di tengah pandemi hingga koleksi perhiasan Tulola yang paling berkesan untuknya. Simak hasil perbincangan selengkapnya berikut ini.

Keseruan dan Tantangan Berbisnis Perhiasan

Dunia bisnis sudah jadi bagian penting dari perjalanan karier Franka Franklin. Dulu ia tak punya bayangan akan menjadi salah satu enterpreneur sukses seperti sekarang. Namun tentu saja ada tantangan yang ia hadapi seiring waktu, termasuk saat pandemi COVID-19 melanda.

Dikenal sebagai businesswoman, sebenarnya ini cita-cita dari kapan?

Mungkin kalau ditanya pebisnis nggak ada ya, karena dari kecil ganti terus ya. Waktu SD sempat ditanya mau jadi apa. Aku sempat bilang mau jadi guru, pernah mau jadi insinyur, dll. Tahun 2000an, kita baru tahu programming, e-commerce, semua itu nggak ada di bayangan kita. Cita-cita pebisnis ada sejak kapan, ya nggak ada karena dari pengalaman hidup yang mengatur kita ada di sini berbisnis perhiasaan yang menggabungkan pengalaman saya di retail, IPTEK, organisasi dan lain-lain. Semua jadi satu dan bisa jadi di pekerjaan ini.

Apa yang membuat Anda tertarik mendalami dunia bisnis?

Yang pertama mungkin untuk Tulola karena kan konteksnya saya kerja di sana sebagai co-founder dan CEO, yang pertama adalah produk dan potensi dari brand ini sendiri. Apa yang kita lakukan visi dan misi tiga founder kaya Sri Luce dan Happy Salma itu kita ber-3 punya visi yang sama untuk mengembangkan Tulola dan semakin menghargai heritage leluhur kita dalam bentuk seni perhiasan dan juga secara bisnis ini adalah sesuatu yang sangat baik bentuknya dan dampak sosialnya juga ada dan secara brand membuat kita semakin bangga yang kita buat di Indonesia.

Sempat ada ketakutan yang dirasakan sebelum dan saat terjun ke dunia entrepreneurship?

Banyak dong, setiap hari justru ada yang membuat takut dan ragu. Definisi keberanian itu adalah di mana kita melihat sesuatu yang menantang dan menakutkan tapi kita bisa mengatasinya dan melampauinya dengan suatu kepercayaan ini akan work out dan baik-baik saja. dengan persiapan dan keterampilan kita masing-masing. Kalau ditanya ada ketakutan, jelas ada apalagi di masa pandemi ini yang sudah satu setengah tahun di mana kita bisa melihat semua itu tidak menentu, dari segi market, segi produksi, persiapan, skalabilitas, itu semua jadi sesuatu yang semu, tidak terlalu jelas, tapi kita yakin dengan prinsip yang harus kita jaga dari kualitas, customer service, dari segi menghargai nilai-nilai atau keahlian dari leluhur kita dan kita buat lebih baik lagi. Itulah sesuatu yang kita percaya dapat kita pakai menjalani dan melewati pandemi.

Kenapa akhirnya memilih untuk bisnis di produk jewelry? 

Kalau kenapa jewelry bentuknya, ini sebenarnya dimulai dari Sri Luce, partner saya, di saat dia baru melahirkan anak pertama juga dan dia memilih seni dalam perhiasan perak karena memang juga dari keluarganya selama 15 - 20 tahun pun sudah mulai berusaha di bidang tersebut. Jadi istilahnya sudah mendarah daging di dalam Sri. Sejalannya dengan waktu, saya sebagai teman dekat dan investor, karena bekerja di dalam Tulola, kita melihat bergerak di dalam seni perak itu adalah sesuatu yang sangat unik, available di Indonesia, dibuat leluhur kita, ratusan tahun lalu, bukan hanya Bali tapi di hampir seluruh Indonesia karena bendanya sendiri dapat menahan bentuk-bentuk yang sangat rumit dan dapat dipoles, dicelup emas, dan dapat mengambil warna dan menahan batu. 

Menurut Anda, perhiasaan berkualitas itu yang seperti apa?

Kalau perhiasan yang berkualitas, mungkin kita semua punya definisi yang sama ya, yaitu tahan lama dan tidak gampang patah dan rusak. Tidak gampang berubah bentuk, sesuatu yang istilahnya dapat dipertanggungjawabkan dengan customer kita. Hal ini suatu hal yang sifatnya inovasi dan juga original, tidak copy. Meskipun kita ngambil inspirasi tapi harus orisinal. Itu sebabnya juga di Tulola, memberikan suatu janji bahwa perhiasaan yang Anda beli dalam waktu dua tahun, kita masih tanggung jawab jika ada kerusakan minor, seperti batu copot, warna yang pudar karena terkena parfum, alkohol dan lain-lain, karena bisa saja terjadi. Itu semua bisa revisi, pembenaran untuk poles lagi masih dalam tanggungan kita, itu servis yang diberikan sebagai brand yang mau tanggung jawab pada barang.

Keseruan dan tantangan apa yang Anda hadapi dalam mengembangkan Tulola?

Segi branding sendiri, kita mencoba mengingat bahwa inspirasi di Indonesia itu banyak sekali. Di mana bisa diambil dari buku, daerah, lagu, teater, motif yang ada dari leluhur kita.Kedua, harus menjaga konsistensi kita dalam bersentuhan dengan customer, dari yang mereka merasakan perhiasan kita di suatu event, toko, website, maupun ngobrol aja di sales chat di WhatsApp. Itu sesuatu yang kita jaga sekali biar nggak bingung 'kok bagus di sini, di sini nggak'. Terakhir, kualitas itu sendiri, kita tidak mau berkompromi sebagai brand. Kualitas imaging, rupanya, bagaimana kita kontak dengan mereka. Itu yang terus kita refresh, kita harus bangun inovasi supaya tidak berhenti sampai di situ saja.

Sektor bisnis juga terdampak pandemi, bagaimana Tulola beradaptasi?

Untuk menghadapi pandemi, saya rasa semua perusahan besar, sedang, kecil ya belum siap. Karena semua ini tiba-tiba terjadi, salah satu yang kita belajar melewati pendemi ini dan masih dijalani sekarang adalah kekuatan team work dalam perusahaan, mengedepankan kesejahteraan pekerja yang ada, kesehatan mereka dulu. Misalnya ada PPKM dan tidak ada PPKM. Kalau kantor tidak aman, kita berhentikan kerja dari kantor dan work from home. Saat COVID meningkat, produksi diberhentikan dulu, semua orang bisa kerja dari rumah, ataupun mereka gantian shift. Fleksibiltas dalam bekerja itu sangat sangat penting buat kita. Yang lain juga bisnis sendiri, secara kelas, kita melihat dan review lagi, apa yang harus dan tidak dikurangi karena itu mempengaruhi pekerja yang ada. Jadi harus menjaga sekali hal itu. Dari segi kreativitas nggak berhenti juga karena brand kita di bidang seni. Di mana perhiasan bentuk artikulasi seni itu sendiri. Koleksi itu tetap keluar, seberapa besar koleksi itu keluar, cepat, banyak yang dibuat mungkin berbeda di masa pandemi ini. Mungkin kreativitasnya dan bagaimana kita mencurahkan itu ke dalam koleksi tidak berhenti.

Craftmanship jadi salah satu prinsip penting, lalu bagaimana menemukan titik tengah antara art dan comodity?

Itu adalah perjalanan aku dan Sri setiap harinya. Paling bisa di share sih, saya dari segi bisnis dan product planing, kita dapat memberikan feedback, tentang apa yang telah secara historical, melihat ke belakang apa yang terjual. Misalnya selama ini kita buat 50 cincin, ada bentuk-bentuk tertentu yang flat yang dibeli banyak orang dengan harga tertentu dengan waktu tertentu. Nah feedback akan diberikan pada studio di bawah Sri dan Sri akan melihat 'kalau buat ini akan lebih cepat'. Jadi ada beberapa koleksi yang didesain banyak sekali, tapi nantinya adalah yang kita paling koleksi pilihan terkuat karena dari design dan ceritanya dan pengetahuan di harga segini, dibentuk segini, contoh ini jadi best seller kita. Jadi mengawinkan bisnis dan kreatif itu sangat mungkin karena dari pihak kami di bagian business development dan bagian mereka studio kreatif, saling terbuka mendengarkan ini dan itu yang saya rasa menjadikan Tulola sangat berbeda dalam pengembangan.

Mempercantik dan Memberdayakan

Melalui Tulola, Franka mengusung semangat untuk mempercantik dan memberdayakan perempuan. Bisnis menjadi sesuatu yang bermakna ketika memiliki dampak sosial, terlebih dalam hal ini bagi perempuan.

Koleksi apa yang paling berkesan dan punya cerita personal dengan Anda?

Semua koleksi itu kayak punya cerita khusus banget dan pengalaman tersendiri dengan setiap koleksi. Tapi ada dua yang bisa dibicarakan sekarang pertama Bumi Manusia karena itu satu koleksi pertama saya lihat di Jakarta. Itu adalah bentuk waktu itu kaget pas lihat, diambil dari buku paling penting dalam sejarah, dikaryakan, dibaca di atas panggung secara monolog, abis itu lihat inspirasinya dalam bentuk perhiasan, jadi kayak salah satu pertama paling berkesan buat saya. Kedua koleksi Ubud di tahun 2017 akhir, itu koleksi saya pertama juga join dengan Tulola membuat eventnya, jadi dimulai dari diskusi, ngobrol bertiga, melihat proses Sri membuat koleksi itu sampai akhirnya buat berbagai macam sampel abis itu pergi ke Ubud, ibah terus foto dan sampai ke Jakarta melihat konsep event padahal belum buka toko, tapi event yang luar biasa. Itu suatu yang sangat hati buat terharu.

Tulola juga turut memberi dukungan untuk perempuan, penerapannya seperti apa?

Jadi salah satu yang paling spesial bekerja di Tulola karena kita percaya dengan kekuatan wanita dan kekuatan di dalam masyarakat. Jadi, kita sangat terbuka dengan orang-orang yang join baik di Bali maupun di Jakarta. Dengan kepentingan mereka sebagai wanita yang tidak terpatri dengan pekerjaannya. Kita punya banyak sekali karyawan dan teman-teman di Tulola yang mereka perempuan tulang punggung keluarganya. ataupun kalau bukan sendiri, tapi income lebih besar dari suaminya, sehingga mereka harus juga di antaranya urus anak, orang tua dan mereka membutuhkan fleksibilitas dalam bekerja itu yang kita support. Kalau misalnya mereka butuh masuk lebih telat atau tidak masuk, kita tuh result oriented, asalkan kerja dengan baik yang lainnya kita fleksibel.

Kedua, saat sebelum pandemi, banyak pekerja di Bali, kalau mereka mau belajar perak, hanya untuk laki-laki. Ini zaman dulu banget. Kita buka program, kalau perempuan yang ingin mendalami hal-hal tentang perak, kita membuka. Lainnya juga kita sebelum pandemi, kalau sekarang berubah, rumah mereka juga berubah. Ada yang kita bantu juga, sebagai bentuk bantuan kalau kita menjalani kerjaan perak, banyak sekali yang tidak lolos dan kita bantu, tiga kali kesalahan pertama yaitu bahan-bahan , alat-alat kita yang modalkan, itu bentuk lain support kita di dalam Tuloa untuk mensupport terutama perempuan yang bekerja di dalam perusahaan kita.

Prinsip itu datang dari mana?

Datang dari mana ya, kita bertiga aja sih, karena Sri, Happy dan saya, dibesarkan oleh wanita kuat, ibu kita ini yang berkarya, karier dan berdampak lingkungan. Dari situ kita percaya wanita itu luar biasa dan harus di-support. Nggak cuma dibilang 'kamu ok banget'. Kalau bekerja, ya kita bisa membantu, membantu situasi mereka di rumah, kepercayaan lebih, ruang, itu rasa support yang kita bayangkan dapat membantu kita juga. Karena sebelum ini punya pengalaman bekerja dalam lingkup luar. Itu yang kurasa kita bagi bertiga bahwa kepercayaan membantu dan mensupport wanita lain dengan cara-caranya harus dilakukan Tulola.

Bagaimana Anda melihat representasi perempuan di sektor penting seperti industri dan pemerintahan?

Saya optimis, kita sudah semakin jauh perkembangan dalam merepresentasikan dalam dunia industri dan pemerintahan, tapi jalannya lebih jauh lagi yang harus dijalankan. Istilahnya, apakah sudah baik? Sudah lebih baik, apakah cukup? Belum dan harus lebih banyak, caranya ya kita percaya dan mau berkarya di dalam jalan itu.

Setiap orang punya cara sendiri memaknai kesuksesan. Apa indikasi sukses bagi Anda?

Saya rasa indikasi kesuksesan untuk saya pribadi adalah saya sudah bisa merasakan keseimbangan dan merasakan keseimbangan itu ada dalam kehidupan pribadi dan profesional sekarang. Saya memiliki tiga putri, di mana mereka masih kecil-kecil dan saya ingin memberikan yang terbaik untuk mereka. Di saat yang sama, saya ingin memberikan contoh terbaik untuk mereka. Sebagai ibu, saya ingin melihatkan bahwa peran saya bukan sebagai ibu, tapi saya juga wanita, partner dengan pernikahan saya dan menjadi anggota masyarakat yang harus berdampak positif terhadap sesama. Nggak tahu kapan keseimbangan kapan terjadi secara full, tapi ya kalau bisa saya bisa terus mencapai ke sana.

Sejauh mana support system mendukung Anda dalam bisnis dan kehidupan?

Nomor 1 adalah peran suami saya. Jujur saya beruntung memiliki pasangan hidup selama sudah lebih dari belasan tahun, saling mendukung satu sama lain melakukan apa yang kita inginkan, mau sekolah lagi, memulai karier di organisasi yang belum pernah orang dengar, menjalankan usaha yang belum diketahui orang. Apapun itu, kita saling mendukung. Kedua, bagaimana saya dan suami saling support dalam berkeluarga, itu sesuatu yang paling penting buat saya. kalau saya tidak didukung dalam menjadi orang tua, mungkin saya akan tidak bisa memberikan yang terbaik kepada pekerjaan saya juga karena akan kepikir gimana bantuin hari ini baca buku, siapa yang bantuin nemenin di saat saya ke Bali. Karena kita dalam partner kita sangat cukup komunikasi baik dan peran penuh itu sangat membantu. Kemudian dukungan dari keluarga yang sangat terbuka pada hal yang dilakukan saat ini. Misalkan kita butuh mereka dalam bermain, cerita, ataupun bersama-sama kumpul supaya semangat lagi itu di keluarga saya dan suami saya suasana kebersamaan dan kekeluargaan sangat hadir.

Dan terakhir tentunya, harus bilang sahabat-sahabat saya apalagi perempuan dari kecil sampai sekarang itu jadi salah satu tempat di mana kita saling membantu, berkeluh kesah, menjaga, sehingga semangat tidak pudar dan bisa menopang satu sama lain jika diperlukan.

Apakah ada project terdekat Tulola yang bisa dibagikan infonya?

Selalu ada, karena Tulola selalu mencoba refresh dan inovasi. Kebetulan kita ada acara di bulan depan di kota yang bukan Jakarta, nanti kita bakal umumkan. Semoga keadaan aman dan memungkinkan, kita akan launching koleksi baru di bulan November dan di 2022 berencana meluncurkan line baru juga yang masih dalam Tulola tali baru dan semoga membuat customer senang dan melihat kita dengan kacamata yang baru lagi.

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Lady Boss: Silvia Halim, Srikandi Pemimpin Konstruksi MRT Jakarta