Sukses

Lifestyle

Generasi Muda Harus Paham Literasi Investasi Digital, Jadi Bagian dari Gaya Hidup Finansial Baru

Fimela.com, Jakarta - Beberapa tahun terakhir, percakapan tentang uang di kalangan generasi muda berubah cukup drastis. Jika dulu topiknya berkisar pada tabungan, kerja kantoran, atau investasi konvensional, kini istilah seperti “crypto”, “wallet digital”, hingga “aset digital” mulai muncul dalam obrolan santai—bahkan di sela kopi sore atau scroll media sosial.

Namun di balik semua hype itu, ada satu hal yang pelan-pelan menjadi pembeda antara mereka yang sekadar ikut tren dan mereka yang benar-benar siap menghadapi masa depan dengan literasi investasi digital.

Di era sekarang, investasi bukan lagi sesuatu yang terasa “berat” atau eksklusif. Ia sudah menjadi bagian dari lifestyle, seperti cara kita mengatur keuangan, memilih aplikasi, hingga membangun kebiasaan finansial sehari-hari. Tren global juga menunjukkan arah yang sama. Lembaga seperti World Economic Forum mencatat bahwa generasi muda menjadi kelompok paling adaptif terhadap teknologi finansial baru, termasuk aset digital yang berkembang cepat seperti crypto.

Fenomena ini juga terlihat jelas di Indonesia. Berdasarkan kajian LPEM FEB UI tahun 2025, mayoritas pemilik aset keuangan digital saat ini berada di bawah usia 35 tahun. Artinya, generasi muda bukan hanya penonton dalam transformasi ini—mereka adalah pemain utamanya.

 

Crypto: antara peluang, rasa penasaran, dan FOMO

Tidak bisa dipungkiri, crypto punya daya tarik tersendiri. Ia cepat, dinamis, dan dekat dengan dunia digital yang sudah akrab dengan generasi muda. Tapi justru di situlah tantangannya.

Banyak yang masuk ke dunia ini karena rasa penasaran, ikut teman, atau sekadar takut tertinggal tren. Istilah FOMO (fear of missing out) pun sering jadi pintu masuk pertama. Padahal, seperti diingatkan oleh berbagai lembaga keuangan global termasuk Bank for International Settlements, aset digital memiliki karakter volatil yang tinggi dan membutuhkan pemahaman mendalam sebelum benar-benar dijadikan bagian dari strategi finansial pribadi.

Di Indonesia sendiri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Otoritas Jasa Keuangan juga terus menekankan pentingnya literasi agar masyarakat tidak sekadar mengikuti hype, tetapi benar-benar memahami risiko, mekanisme pasar, dan perlindungan konsumen yang tersedia.

Menariknya, di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk memahami dan memilah justru menjadi semacam “new luxury”—keterampilan yang tidak semua orang punya, tapi semua orang butuhkan.

Inilah yang coba dijawab oleh PT Central Finansial X (CFX) melalui berbagai inisiatif literasi, salah satunya CFX Connect. Lebih dari sekadar forum diskusi, CFX Connect hadir sebagai ruang pertemuan antara regulator, pelaku industri, dan generasi muda. Tujuannya sederhana tapi penting: membangun pemahaman yang lebih sehat tentang aset keuangan digital—bukan hanya dari sisi peluang, tapi juga dari cara kerjanya, risikonya, dan masa depannya.

Direktur Utama CFX, Subani, menyampaikan bahwa pertumbuhan industri aset digital perlu diiringi dengan edukasi yang kuat agar tidak hanya menjadi ruang inovasi, tetapi juga tetap aman dan berkelanjutan.

 

 

Generasi Muda Sebagai Pusat Ekosistem

Menariknya, literasi ini tidak lagi hanya berhenti di seminar atau webinar formal. Di beberapa kampus, termasuk Universitas Indonesia, diskusi tentang ekonomi digital mulai menjadi bagian dari pengalaman belajar yang lebih hidup.

Melalui kolaborasi dengan industri dan regulator, mahasiswa kini tidak hanya belajar teori, tetapi juga ikut memahami dinamika pasar secara langsung. Bahkan dalam program seperti CFX Lab, mereka diajak untuk menganalisis strategi pasar aset digital layaknya seorang analis profesional.

Pendekatan seperti ini membuat literasi tidak lagi terasa “serius dan jauh”, tetapi lebih dekat, aplikatif, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari generasi muda.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading