Sukses

Lifestyle

Ingin Lebih Open-Minded? Ini Cara Membuka Diri pada Sudut Pandang Baru

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah kamu merasa sulit menerima pendapat yang berbeda dari apa yang selama ini kamu yakini? Hal tersebut sebenarnya cukup wajar. Setiap orang tumbuh dengan pengalaman, lingkungan, dan cara berpikir yang berbeda. Namun, bukan berarti kita harus selalu berpegang pada satu sudut pandang. Memahami cara membuka diri terhadap perspektif baru dapat membantu kita melihat suatu hal dengan lebih luas tanpa harus mengabaikan nilai dan keyakinan yang sudah dimiliki.

Dilansir dari Verywell Mind, menjadi open-minded berkaitan dengan kesediaan untuk menerima ide, pengalaman, dan perspektif baru, sekaligus berani menantang keyakinan yang sudah dimiliki. Sikap ini juga dapat membantu seseorang mengembangkan empati, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan beradaptasi. 

Open-minded bukan berarti harus menyetujui semua pendapat yang kita dengar. Justru, sikap terbuka membuat kita mampu mendengarkan terlebih dahulu sebelum menentukan apakah sebuah pandangan masuk akal atau tidak.

Misalnya, ketika teman memiliki pendapat yang berbeda tentang pekerjaan, hubungan, gaya hidup, atau hal sederhana seperti pilihan tempat makan. Kita tidak harus langsung mengatakan bahwa pendapat tersebut salah. Cobalah memahami alasan di balik pilihan tersebut.

Kebiasaan kecil seperti ini dapat membantu kita melihat bahwa satu situasi bisa memiliki lebih dari satu cara pandang. Sesuatu yang menurut kita tidak masuk akal, mungkin memiliki alasan tertentu bagi orang lain.

Menjadi open-minded juga bukan berarti kehilangan prinsip pribadi. Kita tetap boleh memiliki pendapat dan batasan sendiri. Bedanya, kita tidak menutup kemungkinan bahwa ada informasi baru yang bisa membuat kita belajar atau bahkan mengubah cara melihat sesuatu.

 

Cara Melatih Diri agar Lebih Open-Minded

Menjadi open-minded tidak harus dilakukan melalui perubahan besar. Kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari justru bisa menjadi langkah awal untuk melatih cara berpikir yang lebih terbuka.

1. Dengarkan sampai selesai

Ketika seseorang menyampaikan pendapat, cobalah tidak langsung menyiapkan jawaban atau bantahan di dalam kepala. Dengarkan sampai selesai dan pahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan.

2. Biasakan bertanya “kenapa?”

Daripada langsung menganggap sebuah pendapat aneh atau salah, coba tanyakan alasan di baliknya. Pertanyaan sederhana seperti “Kenapa kamu berpikir begitu?” dapat membuka percakapan yang lebih menarik.

3. Cari perspektif yang berbeda

Sesekali, konsumsi informasi dari sumber atau orang yang memiliki pandangan berbeda. Tidak perlu langsung percaya atau mengikuti semuanya. Tujuannya adalah melihat bagaimana orang lain memahami sebuah persoalan.

4. Jangan takut mengakui belum tahu

Ada kalanya kita memang tidak memiliki cukup informasi tentang sesuatu. Mengatakan “aku belum tahu” bukan tanda kurang pintar. Justru, hal tersebut bisa menjadi kesempatan untuk belajar lebih banyak.

5. Beri waktu sebelum bereaksi

Ketika mendengar pendapat yang membuat tidak nyaman, tidak perlu langsung memberikan respons. Beri diri sendiri waktu untuk memahami informasi tersebut. Setelah pikiran lebih tenang, barulah tentukan respons yang paling tepat.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa membantu mengurangi kecenderungan untuk langsung menolak sesuatu hanya karena berbeda dari apa yang selama ini kita percaya.

Dengan lebih sering mendengarkan dan bertanya, kita juga dapat menemukan bahwa perbedaan tidak selalu berarti pertentangan. Terkadang, perbedaan justru membuka wawasan baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Tetap Kritis Saat Menjadi Open-Minded

Ada satu hal penting yang perlu dipahami ketika belajar menjadi open-minded; pikiran terbuka bukan berarti menerima semua informasi tanpa pertimbangan.

Justru, menjadi terbuka juga membutuhkan kemampuan untuk berpikir kritis. Ketika menemukan pendapat baru, kita bisa mendengarkannya terlebih dahulu, kemudian mempertimbangkan alasan, pengalaman, atau informasi yang mendukungnya.

Misalnya, ketika melihat sebuah opini di media sosial yang berbeda dari pandangan pribadi. Tidak perlu langsung membagikan, menolak, atau mempercayainya. Luangkan waktu untuk mencari tahu konteks dan mempertimbangkan apakah informasi tersebut memang dapat dipercaya.

Hal yang sama berlaku ketika berdiskusi dengan orang lain. Kita bisa menghargai seseorang yang memiliki pandangan berbeda tanpa harus mengubah pendirian sendiri. Menghargai pendapat orang lain dan menyetujui pendapat tersebut merupakan dua hal yang berbeda.

Menjadi open-minded juga berarti bersedia mengakui ketika ternyata kita keliru. Mungkin awalnya kita memiliki keyakinan tertentu berdasarkan pengalaman yang terbatas. Setelah mendapatkan informasi baru, kita kemudian melihat persoalan tersebut dari sisi yang berbeda. Mengubah pendapat dalam kondisi seperti ini bukan berarti tidak memiliki pendirian.

Sebaliknya, kemampuan untuk mengevaluasi kembali pemikiran sendiri menunjukkan bahwa kita bersedia belajar. Kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling benar dalam sebuah percakapan.

Pada akhirnya, menjadi open-minded adalah proses yang terus berjalan. Semakin banyak pengalaman dan perspektif yang kita temui, semakin banyak pula kesempatan untuk memahami dunia dari sisi yang berbeda.

Jadi, mulai dari hal sederhana. Dengarkan lebih banyak, bertanya tanpa menghakimi, berani mengatakan “aku belum tahu”, dan jangan buru-buru menutup diri terhadap sesuatu yang terasa asing.

Karena terkadang, sudut pandang baru tidak datang untuk menggantikan cara berpikir kita, tetapi untuk membuat kita melihat sesuatu dengan lebih luas.

Penulis: Revania Immanuela

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading