Sukses

Lifestyle

7 Alasan Seseorang Bisa Tiba-Tiba Ingin Membereskan Rumah saat Banyak Pikiran, Ini Penjelasan Psikologinya

ringkasan

  • Dorongan membersihkan rumah saat stres seringkali merupakan mekanisme koping untuk mendapatkan kembali rasa kendali.
  • Lingkungan yang rapi dapat mengurangi tingkat hormon stres kortisol dan meningkatkan fokus, sementara kekacauan visual dapat memicu kecemasan.
  • Aktivitas fisik saat bersih-bersih melepaskan endorfin, meningkatkan suasana hati, dan memberikan kepuasan dari hasil yang nyata.

Fimela.com, Jakarta - Ketika pikiran sedang penuh, alasan seseorang bisa tiba-tiba ingin membereskan rumah saat banyak pikiran ternyata tidak selalu karena rumah memang berantakan. Ada kalanya seseorang justru terdorong merapikan meja, melipat pakaian, menyapu lantai, atau menata ulang barang ketika sedang menghadapi tekanan.

Sekilas, kegiatan tersebut mungkin terlihat seperti cara mengalihkan perhatian. Namun, dalam psikologi, aktivitas membersihkan dan menata lingkungan dapat berkaitan dengan kebutuhan untuk mengembalikan rasa teratur dan kendali ketika situasi lain dalam hidup terasa sulit dikendalikan.

Menariknya, sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara perilaku membersihkan dan respons terhadap stres. Meski demikian, efeknya tidak berarti bahwa beres-beres rumah dapat menyelesaikan masalah psikologis. Aktivitas tersebut lebih tepat dipahami sebagai salah satu kemungkinan cara seseorang mengelola tekanan, Senin (21/9/2026).

1. Membereskan rumah memberi rasa kendali

Salah satu alasan seseorang bisa tiba-tiba ingin membereskan rumah saat banyak pikiran adalah munculnya kebutuhan untuk merasakan kembali kendali atas sesuatu yang dapat dilakukan secara langsung.

Ketika menghadapi masalah pekerjaan, konflik hubungan, tekanan finansial, atau ketidakpastian mengenai masa depan, seseorang tidak selalu bisa segera mengubah sumber masalahnya. Persoalan tersebut mungkin membutuhkan waktu, keputusan orang lain, atau proses panjang untuk diselesaikan.

Sebaliknya, merapikan rumah memberikan sasaran yang lebih konkret. Meja yang penuh barang bisa ditata dalam beberapa menit. Pakaian yang menumpuk dapat dilipat. Barang-barang yang berserakan dapat dikembalikan ke tempatnya.

Penjelasan ini sejalan dengan Compensatory Control Theory yang dikembangkan Aaron C. Kay dan kolega. Teori tersebut menjelaskan bahwa ketika seseorang merasa kontrol pribadinya terancam, ia dapat mencari cara lain untuk memulihkan keyakinan bahwa kehidupannya tetap memiliki keteraturan dan dapat diprediksi.

Dalam konteks sehari-hari, membersihkan rumah menjadi aktivitas yang relatif mudah dikendalikan. Seseorang mungkin tidak dapat langsung menyelesaikan persoalan pekerjaan, tetapi ia dapat memutuskan bahwa dapurnya akan kembali rapi dalam waktu setengah jam.

Hasilnya pun terlihat secara langsung. Kondisi sebelum dan sesudah membersihkan memberikan tanda konkret bahwa sebuah tindakan telah menghasilkan perubahan.

2. Kekacauan yang terlihat dapat terasa seperti pekerjaan yang belum selesai

Rumah juga menjadi lingkungan yang terus-menerus dilihat dan digunakan. Karena itu, kondisi ruangan dapat berhubungan dengan bagaimana seseorang mengalami kesehariannya.

Penelitian Darby Saxbe dan Rena Repetti yang diterbitkan dalam Personality and Social Psychology Bulletin pada 2010, berjudul No Place Like Home: Home Tours Correlate With Daily Patterns of Mood and Cortisol, mengamati bagaimana perempuan menggambarkan rumah mereka serta kaitannya dengan pola kortisol sepanjang hari.

Dalam penelitian tersebut, partisipan yang menggambarkan rumahnya menggunakan kata-kata seperti "berantakan" atau "belum selesai" menunjukkan pola kortisol harian yang lebih datar dibandingkan mereka yang menggambarkan rumahnya sebagai tempat yang lebih tenang dan memulihkan.

Temuan ini tidak berarti bahwa setiap rumah berantakan otomatis menyebabkan stres atau bahwa setiap orang yang stres pasti membutuhkan rumah yang sangat rapi. Namun, penelitian tersebut menunjukkan bahwa cara seseorang memandang lingkungan rumahnya dapat berkaitan dengan pengalaman psikologis sehari-hari.

Ketika pikiran sudah dipenuhi banyak persoalan, tumpukan pakaian, piring kotor, meja penuh barang, atau ruangan yang tidak tertata mungkin terasa seperti tambahan daftar tugas yang belum selesai.

Karena itu, dorongan untuk membereskannya dapat muncul sebagai upaya membuat lingkungan terasa lebih sederhana dan tidak terlalu membebani perhatian.

3. Membersihkan memberikan hasil yang bisa dilihat secara langsung

Ada perbedaan besar antara menyelesaikan pekerjaan rumah dan menyelesaikan masalah kehidupan.

Masalah pekerjaan mungkin membutuhkan rapat. Konflik dengan pasangan membutuhkan komunikasi. Persoalan keuangan membutuhkan perencanaan. Sementara itu, menyapu lantai hanya membutuhkan sapu, waktu, dan tenaga.

Perbedaan tersebut dapat membuat aktivitas bersih-bersih terasa memuaskan ketika seseorang sedang menghadapi banyak ketidakpastian. Ada hubungan yang jelas antara tindakan dan hasil: lantai kotor menjadi lebih bersih, pakaian berserakan menjadi tertata, dan barang yang tidak pada tempatnya kembali tersimpan.

Dalam artikel penelitian Spike W. S. Lee dan kolega pada 2023 di Social Psychological and Personality Science, para peneliti menguji gagasan bahwa perilaku membersihkan dapat membantu meredakan dampak pengalaman yang menimbulkan stres.

Penelitian tersebut melibatkan serangkaian eksperimen dengan total ribuan partisipan. Hasilnya menunjukkan bahwa simulasi visual mengenai kegiatan membersihkan dapat mengurangi kecemasan setelah paparan terhadap situasi yang memicu stres. Eksperimen lain juga menemukan bahwa perilaku membersihkan secara nyata berkaitan dengan perubahan respons kardiovaskular dalam menghadapi tekanan sosial.

Temuan tersebut menarik karena stres yang diberikan kepada partisipan tidak berkaitan dengan kotoran yang harus dibersihkan. Artinya, efek yang diamati tidak semata-mata karena seseorang sedang menghilangkan sumber kontaminasi.

Menurut Lee dan kolega, salah satu kemungkinan penjelasannya adalah bahwa tindakan membersihkan secara fisik memberikan pengalaman "memisahkan" sesuatu dari diri. Pengalaman konkret tersebut mungkin kemudian berhubungan dengan proses psikologis untuk mengambil jarak dari pengalaman yang sebelumnya mengganggu.

4. Beres-beres bisa menjadi bentuk pengalihan perhatian yang aktif

Saat sedang banyak pikiran, seseorang membutuhkan sesuatu yang dapat membuat perhatiannya berhenti berputar pada persoalan yang sama.

Membersihkan rumah dapat menjadi bentuk pengalihan perhatian yang bersifat aktif. Alih-alih hanya berusaha memaksa diri untuk tidak memikirkan masalah, seseorang melakukan kegiatan yang membutuhkan perhatian pada gerakan, benda, dan urutan pekerjaan.

Misalnya, ketika sedang memikirkan masalah pekerjaan, seseorang mungkin mulai menyortir pakaian. Ia perlu menentukan pakaian mana yang harus dilipat, mana yang dicuci, dan mana yang disimpan. Perhatian untuk sementara berpindah dari persoalan abstrak menuju tugas konkret di hadapan mata.

Namun, penting membedakan pengalihan perhatian yang membantu dengan penghindaran masalah. Membersihkan rumah dapat memberikan jeda yang sehat, tetapi masalah yang menjadi sumber stres tetap membutuhkan penyelesaian apabila memang memerlukannya.

Dengan kata lain, seseorang mungkin merasa lebih tenang setelah rumah rapi, tetapi ketenangan tersebut tidak otomatis berarti sumber stres sudah hilang.

5. Aktivitas sederhana membuat seseorang merasa mengalami kemajuan

Ketika banyak pikiran datang bersamaan, seseorang dapat merasa tidak bergerak ke mana-mana. Bahkan setelah bekerja atau berpikir sepanjang hari, masalah utama mungkin masih belum terselesaikan.

Membereskan rumah menawarkan bentuk kemajuan yang berbeda. Kemajuan tersebut kecil, tetapi dapat diamati.

Satu laci selesai dirapikan. Satu keranjang pakaian selesai dilipat. Satu meja menjadi kosong. Satu sudut rumah terasa lebih lega.

Perubahan kecil semacam itu dapat memberikan pengalaman bahwa tindakan yang dilakukan menghasilkan sesuatu. Inilah salah satu alasan kegiatan rumah tangga terkadang terasa lebih memuaskan ketika seseorang sedang menghadapi persoalan yang hasilnya tidak bisa segera terlihat.

Dalam konteks psikologi, hal tersebut tidak perlu dianggap sebagai mekanisme ajaib untuk meningkatkan mood. Lebih tepat melihatnya sebagai aktivitas yang menyediakan struktur, tujuan sederhana, dan umpan balik langsung.

6. Keinginan membersihkan tidak selalu berarti sedang cemas

Penting pula untuk tidak menganggap setiap dorongan mendadak untuk membersihkan rumah sebagai tanda seseorang sedang mengalami kecemasan.

Orang bisa saja membereskan rumah karena memang sedang punya waktu luang, ingin mencari barang, merasa lebih nyaman dengan ruangan rapi, atau sekadar mendapatkan kepuasan dari aktivitas tersebut.

Bahkan dalam situasi stres, respons setiap orang berbeda. Ada yang memilih membersihkan rumah, berolahraga, memasak, berjalan kaki, menonton film, berbicara dengan orang lain, atau justru beristirahat.

Penelitian Lee dan kolega juga tidak menyatakan bahwa semua orang yang stres akan membersihkan rumah. Temuannya lebih spesifik: perilaku membersihkan dapat memiliki fungsi sebagai salah satu cara untuk menghadapi atau meredakan dampak stres.

Jadi, apabila seseorang mendadak ingin mencuci kamar mandi atau menata lemari ketika pikirannya sedang penuh, hal itu tidak otomatis merupakan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.

7. Perlu diperhatikan jika bersih-bersih berubah menjadi dorongan yang sulit dikendalikan

Membersihkan rumah dapat menjadi aktivitas yang menyenangkan atau membantu seseorang memperoleh jeda dari tekanan. Namun, situasinya berbeda apabila kegiatan tersebut menjadi repetitif, menghabiskan banyak waktu, atau dilakukan karena ketakutan yang intens.

Misalnya, seseorang merasa harus membersihkan benda berulang kali karena takut terjadi sesuatu jika tidak melakukannya, atau merasa sangat tertekan ketika sebuah benda tidak berada dalam posisi tertentu.

Penelitian Lee dan kolega membahas bahwa perilaku membersihkan juga dapat muncul dalam konteks gangguan obsesif-kompulsif (OCD), tetapi hal ini merupakan konteks yang berbeda dari aktivitas beres-beres biasa.

Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan sekadar seberapa sering seseorang membersihkan rumah, melainkan bagaimana perilaku tersebut terjadi dan seberapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan sehari-hari.

Jika membersihkan rumah terasa sebagai pilihan yang dilakukan untuk mendapatkan jeda, konteksnya berbeda dengan perilaku yang terasa tidak dapat dihentikan meskipun sudah mengganggu aktivitas lain.

Pertanyaan dan Jawaban tentang Pengaruh Membersihkan Rumah pada Mood

1. Apakah membersihkan rumah bisa membuat mood lebih baik?

Bisa membantu sebagian orang, terutama karena aktivitas tersebut memberikan tugas konkret, hasil yang terlihat, dan rasa keteraturan. Penelitian Lee dan kolega pada 2023 juga menemukan bukti bahwa perilaku atau simulasi membersihkan dapat berkaitan dengan berkurangnya dampak stres dalam kondisi eksperimen tertentu.

2. Mengapa saat stres justru ingin membereskan rumah?

Salah satu penjelasannya adalah kebutuhan untuk mendapatkan kembali rasa kendali. Ketika sumber stres sulit dikendalikan, aktivitas seperti menyapu, mencuci, atau menata barang menawarkan sesuatu yang dapat langsung dilakukan dan hasilnya dapat diamati.

3. Apakah rumah berantakan bisa memengaruhi suasana hati?

Kondisi lingkungan dapat berkaitan dengan pengalaman psikologis seseorang. Penelitian Saxbe dan Repetti menemukan hubungan antara cara partisipan menggambarkan rumahnya dengan pola kortisol harian. Namun, hubungan tersebut tidak berarti rumah berantakan secara otomatis menyebabkan masalah suasana hati pada setiap orang.

4. Apakah membersihkan rumah bisa menjadi terapi untuk stres atau kecemasan?

Membersihkan dapat menjadi salah satu aktivitas koping, tetapi tidak dapat dianggap sebagai pengganti penanganan profesional untuk gangguan kecemasan atau masalah kesehatan mental. Jika tekanan psikologis berlangsung lama atau mengganggu kehidupan sehari-hari, diperlukan pendekatan yang lebih sesuai dengan kondisi masing-masing.

5. Kapan kebiasaan bersih-bersih perlu diperhatikan?

Kebiasaan tersebut patut diperhatikan jika menjadi sulit dikendalikan, dilakukan berulang kali karena ketakutan yang kuat, menyita banyak waktu, atau mengganggu pekerjaan dan hubungan sosial. Dalam kondisi seperti itu, berkonsultasi dengan psikolog atau profesional kesehatan mental dapat membantu memahami penyebab dan pola perilakunya.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading