Sukses

Lifestyle

7 Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Menggunakan Rute yang Sama Setiap Hari, Simak Ulasannya

ringkasan

  • Manusia cenderung memilih rute yang sama setiap hari karena kebutuhan akan kenyamanan, prediktabilitas, dan rasa aman.
  • Otak menghemat energi kognitif melalui pembentukan kebiasaan, menjadikan rute familiar sebagai pilihan efisien untuk mengurangi beban keputusan.
  • Pilihan rute tidak hanya dipengaruhi jarak atau waktu, tetapi juga faktor kenyamanan, keamanan, biaya, dan asumsi rute terbaik berdasarkan pengalaman.

Fimela.com, Jakarta - Ada alasan psikologis di balik kebiasaan menggunakan rute yang sama setiap hari, meski sebenarnya tersedia banyak jalan lain menuju tempat tujuan. Bagi sebagian orang, melewati jalan yang sama saat berangkat kerja, mengantar anak, kuliah, atau berbelanja terasa lebih nyaman karena sudah begitu familiar.

Kebiasaan tersebut terkadang terlihat membosankan dari luar. Namun, bagi otak, jalan yang sudah dikenal justru menawarkan kepastian. Kita tahu persimpangan mana yang biasanya ramai, kapan harus berpindah jalur, di mana kendaraan sering melambat, hingga berapa lama kira-kira perjalanan berlangsung.

Penelitian tentang perilaku mobilitas manusia juga menunjukkan bahwa pilihan rute tidak selalu ditentukan oleh pencarian jalan yang paling optimal. Studi Antonio Lima dan rekan-rekannya yang menganalisis 92.419 perjalanan GPS anonim menemukan bahwa sebagian besar pengemudi menggunakan sejumlah kecil rute untuk perjalanan rutin dan cenderung memiliki rute favorit, Rabu (23/9/2026).

1. Rute yang Sama Mengurangi Beban Berpikir

Setiap kali seseorang memilih rute baru, ada serangkaian pertimbangan yang secara sadar maupun tidak perlu diproses. Apakah jalan tersebut lebih macet? Apakah ada persimpangan yang sulit? Apakah waktu tempuh benar-benar lebih singkat? Apakah jalan tersebut mudah ditemukan?

Ketika pertanyaan semacam itu muncul setiap hari, memilih rute yang sudah dikenal menjadi cara sederhana untuk mengurangi pekerjaan mental. Jalan yang sama tidak lagi membutuhkan banyak pertimbangan karena otak telah memiliki gambaran mengenai urutan perjalanan.

Dalam kajian Psychology of Habit yang diterbitkan Annual Review of Psychology, Wendy Wood dan Dennis Rünger menjelaskan bahwa kebiasaan terbentuk ketika seseorang berulang kali melakukan respons yang sama dalam konteks yang serupa. Seiring pengulangan, kebiasaan dapat menjadi respons yang lebih otomatis dan menjadi cara yang efisien dalam menjalankan perilaku sehari-hari.

Hal inilah yang dapat menjelaskan mengapa seseorang terkadang tiba di tujuan dan baru menyadari bahwa sepanjang perjalanan ia hampir tidak memikirkan setiap belokan yang dilewati. Bukan berarti perhatian sepenuhnya hilang, melainkan sebagian proses sudah terbantu oleh pola yang telah terbentuk.

Dengan demikian, salah satu alasan psikologis di balik kebiasaan menggunakan rute yang sama setiap hari adalah keinginan otak untuk membuat aktivitas yang berulang menjadi lebih ringan.

2. Rute Familiar Memberikan Rasa Prediktabilitas

Ada kenyamanan tertentu ketika seseorang mengetahui apa yang akan ditemuinya sepanjang perjalanan. Jalan yang sudah biasa dilewati memiliki pola yang mudah dikenali: lampu lalu lintas, toko di pinggir jalan, jembatan, tikungan, halte, atau persimpangan tertentu.

Prediktabilitas semacam ini dapat membuat perjalanan terasa lebih terkendali. Seseorang tidak perlu terus-menerus menebak apa yang akan terjadi beberapa ratus meter di depan.

Penelitian Jeremiah, Butson, dan Oke dalam Psychological Research pada 2025 menjelaskan bahwa rutinitas dan kebiasaan dapat memberikan stabilitas, mengurangi beban kognitif, membantu pencapaian tujuan, dan mengurangi stres. Namun, penelitian tersebut juga menekankan adanya sisi lain: pola yang terlalu kaku dapat membatasi fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, fungsi stabilisasi tersebut cukup mudah terlihat. Ketika seseorang sedang menghadapi banyak pekerjaan, tenggat waktu, atau persoalan lain, memilih jalan yang sudah dikuasai dapat membuat setidaknya satu bagian dari hari terasa lebih sederhana.

Rute yang sama akhirnya menjadi semacam titik pasti di tengah aktivitas yang terus berubah. Kita mungkin tidak bisa mengendalikan kondisi pekerjaan, cuaca, atau berbagai urusan lain, tetapi kita tahu jalan mana yang akan dilalui untuk sampai ke kantor.

3. Pengulangan Membuat Pilihan Rute Menjadi Kebiasaan

Awalnya, memilih rute tertentu biasanya merupakan keputusan yang cukup sadar. Seseorang mungkin mencoba beberapa jalan, membandingkan waktu tempuh, lalu menemukan rute yang dianggap paling nyaman.

Setelah dilakukan berkali-kali, proses tersebut dapat berubah. Jalan yang sama mulai terhubung dengan waktu keberangkatan, tujuan tertentu, kondisi lalu lintas, dan berbagai petunjuk lingkungan. Kombinasi tersebut membuat rute semakin mudah diingat dan diikuti.

Wood dan Rünger menjelaskan bahwa kebiasaan sangat berkaitan dengan konteks yang berulang. Respons yang terus dilakukan dalam kondisi serupa menjadi lebih mudah diaktifkan ketika konteks tersebut kembali muncul.

Penelitian Lima dan kolega mengenai perilaku memilih rute juga memperlihatkan bahwa perjalanan rutin tidak selalu mengikuti prinsip sederhana "pilih jalan dengan biaya paling rendah". Dari data perjalanan yang mereka teliti, pengemudi cenderung menggunakan sejumlah kecil rute dan memiliki preferensi tertentu, bahkan ketika pilihan tersebut tidak selalu merupakan rute paling optimal.

Artinya, keputusan seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh jarak atau waktu tempuh. Pengalaman sebelumnya dan pola yang sudah terbentuk juga ikut berperan.

Itulah sebabnya seseorang mungkin tetap memilih jalan yang sedikit lebih panjang karena jalan tersebut sudah terasa familiar, mudah diprediksi, dan tidak membutuhkan banyak penyesuaian.

4. Rute yang Sama Bisa Menjadi Cara Menghemat Energi Mental

Kehidupan sehari-hari dipenuhi keputusan kecil. Mulai dari menentukan pakaian, sarapan, pekerjaan yang harus diselesaikan, pesan yang perlu dibalas, hingga menentukan apa yang harus dibeli.

Di tengah banyaknya keputusan tersebut, kebiasaan dapat berfungsi sebagai penyederhana. Kita tidak harus mengambil keputusan baru untuk setiap aktivitas yang dilakukan berulang.

Jeremiah, Butson, dan Oke dalam penelitian 2025 menggambarkan rutinitas sebagai pola yang dapat membantu mengurangi cognitive load. Ketika sebagian aktivitas sudah memiliki struktur yang jelas, perhatian dapat dialihkan pada persoalan lain yang membutuhkan pertimbangan lebih besar.

Rute perjalanan termasuk salah satu aktivitas yang dapat memperoleh manfaat tersebut. Daripada setiap pagi membandingkan beberapa jalan, seseorang cukup mengikuti rute yang sudah dikenalnya.

Ini juga membantu menjelaskan mengapa kebiasaan yang tampak sederhana dapat bertahan selama bertahun-tahun. Bukan karena orang tersebut tidak mengetahui adanya jalan lain, melainkan karena jalan lain membutuhkan eksplorasi dan penilaian tambahan.

Dalam kondisi tertentu, efisiensi mental justru lebih berharga daripada mencari alternatif yang mungkin hanya menghemat beberapa menit.

5. Kebiasaan Memberikan Rasa Nyaman dan Kendali

Ada dimensi emosional di balik kebiasaan menggunakan rute yang sama. Jalan yang dikenal dapat memberikan perasaan bahwa perjalanan berada dalam kendali.

Seseorang mungkin sudah mengetahui tempat yang aman untuk berhenti ketika hujan, lokasi yang biasanya ramai, ruas jalan yang perlu diwaspadai, atau titik tertentu yang menandakan bahwa tujuan sudah dekat. Pengetahuan tersebut menciptakan rasa familiar yang tidak selalu diperoleh ketika melewati jalan baru.

Jeremiah dan rekan-rekannya menyoroti bahwa pola berulang bukan hanya berkaitan dengan efisiensi, tetapi juga dapat terhubung dengan rasa stabilitas, kenyamanan, dan cara seseorang menempatkan dirinya dalam lingkungan. Rutinitas yang sudah melekat bahkan dapat berhubungan dengan identitas, misalnya seseorang melihat dirinya sebagai orang yang selalu berangkat pagi atau selalu menggunakan jalan tertentu.

Karena itu, perubahan rute yang sebenarnya kecil bisa terasa lebih mengganggu daripada yang diperkirakan. Ketika jalan langganan ditutup karena perbaikan, misalnya, seseorang harus kembali memperhatikan persimpangan, membaca kondisi lalu lintas, dan memperkirakan waktu tempuh.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa kenyamanan sebuah rute tidak semata-mata berada pada jalan secara fisik. Kenyamanan juga terbentuk dari pengalaman berulang yang membuat lingkungan tersebut terasa mudah dipahami.

6. Rute Favorit Tidak Selalu Berarti Takut pada Perubahan

Memilih jalan yang sama setiap hari tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang tidak menyukai perubahan. Kebiasaan dan keterbukaan terhadap pengalaman baru merupakan dua hal yang dapat berjalan bersamaan.

Seseorang bisa saja menggunakan rute yang sama selama bekerja setiap hari, tetapi memilih jalan berbeda ketika sedang berlibur. Ada pula orang yang senang mencoba restoran baru atau bepergian ke tempat baru, tetapi tetap memilih jalur yang familiar untuk perjalanan rutin.

Penelitian Jeremiah, Butson, dan Oke justru menekankan bahwa rutinitas memiliki dua sisi. Pola yang terstruktur dapat membantu menciptakan stabilitas, tetapi jika terlalu kaku dapat mengurangi fleksibilitas, eksplorasi, dan peluang menemukan sesuatu yang tidak terduga.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah seseorang menggunakan rute yang sama atau berbeda. Yang lebih penting adalah seberapa fleksibel ia ketika keadaan memang menuntut perubahan.

Jika jalan biasa ditutup dan seseorang dapat dengan mudah menyesuaikan diri menggunakan rute lain, kebiasaan tersebut kemungkinan hanya berfungsi sebagai pola praktis. Sebaliknya, apabila perubahan kecil selalu menimbulkan kesulitan besar dan mengganggu aktivitas, pola yang sangat kaku mungkin perlu diperhatikan.

7. Sesekali Mengubah Rute Bisa Membantu Menjaga Fleksibilitas

Kebiasaan memiliki manfaat, sehingga tidak perlu sengaja dihilangkan hanya karena terlihat repetitif. Rute yang familiar dapat membantu seseorang bergerak lebih efisien dan mengurangi kebutuhan untuk membuat keputusan kecil.

Namun, sesekali mencoba jalan alternatif juga dapat menjadi bentuk eksplorasi sederhana. Jeremiah, Butson, dan Oke mengemukakan bahwa memasukkan gangguan kecil terhadap pola yang sudah mapan dapat membantu meningkatkan fleksibilitas, terutama ketika rutinitas mulai terlalu kaku.

Perubahan tidak harus besar. Seseorang dapat mencoba rute berbeda satu kali dalam seminggu, berjalan kaki melewati jalan yang belum pernah dicoba, atau memilih jalur alternatif ketika memiliki waktu lebih longgar.

Dengan cara tersebut, rutinitas tetap menjadi fondasi, tetapi tidak berubah menjadi aturan yang harus selalu dipatuhi.

Pada akhirnya, alasan psikologis di balik kebiasaan menggunakan rute yang sama setiap hari berkaitan dengan bagaimana manusia mengelola pengulangan, perhatian, pengalaman, dan kebutuhan akan prediktabilitas. Jalan yang sama dapat menjadi pilihan karena sudah familiar, mudah diproses, dan memberikan rasa nyaman.

Kebiasaan semacam ini pada dasarnya bukan sesuatu yang aneh. Penelitian mengenai perilaku manusia justru menunjukkan bahwa pola berulang merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Yang perlu dijaga adalah keseimbangannya: rutinitas dapat memberikan struktur, tetapi tetap perlu ada ruang untuk beradaptasi ketika keadaan berubah.

Tanya Jawab Seputar Kebiasaan Harian

1. Mengapa seseorang suka melakukan aktivitas dengan cara yang sama setiap hari?

Karena pengulangan membuat aktivitas menjadi lebih mudah diprediksi dan dapat mengurangi kebutuhan untuk mengambil keputusan baru. Kebiasaan juga dapat menjadi lebih otomatis ketika dilakukan berulang dalam konteks yang sama.

2. Apakah menggunakan rute yang sama setiap hari termasuk kebiasaan?

Bisa. Rute yang terus digunakan dalam konteks perjalanan yang sama dapat berkembang menjadi bagian dari pola kebiasaan. Penelitian tentang kebiasaan menunjukkan bahwa konteks yang berulang dapat membantu memicu respons yang sama secara lebih otomatis.

3. Apakah kebiasaan selalu berdampak positif?

Tidak selalu. Rutinitas dapat membantu efisiensi, stabilitas, dan pengelolaan aktivitas sehari-hari. Namun, Jeremiah, Butson, dan Oke mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada pola yang sama dapat mengurangi fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi.

4. Mengapa perubahan kecil dalam rutinitas terkadang terasa mengganggu?

Rutinitas yang sudah terbentuk membuat seseorang memiliki ekspektasi mengenai apa yang akan terjadi. Ketika pola tersebut berubah, seseorang perlu kembali memberikan perhatian dan melakukan penyesuaian. Karena itu, perubahan kecil seperti jalan ditutup atau tempat biasa berpindah dapat terasa lebih mengganggu daripada yang terlihat.

5. Perlukah sesekali mengubah kebiasaan harian?

Tidak ada keharusan untuk mengubah kebiasaan yang masih membantu dan tidak mengganggu aktivitas. Namun, mencoba variasi kecil sesekali dapat menjadi cara untuk mempertahankan fleksibilitas, terutama jika rutinitas mulai terasa terlalu kaku atau membuat seseorang sulit beradaptasi dengan perubahan.

 

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading