Sukses

Lifestyle

Body Positivity di 2026, Ketika Standar Kecantikan Mulai Berubah

Fimela.com, Jakarta - Scroll media sosial beberapa menit saja sudah cukup untuk menemukan berbagai standar kecantikan. Ada tubuh yang dianggap ideal, wajah yang terlihat tanpa cela, hingga bentuk tubuh tertentu yang kembali populer. Standar tersebut pun dapat berubah seiring waktu, membuat definisi tentang tubuh “sempurna” terasa seperti sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.

Dilansir dari Vogue, pembicaraan mengenai tubuh perempuan kembali mendapat perhatian pada 2026 ketika komentar dan pengawasan terhadap penampilan sejumlah figur publik semakin ramai. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap tubuh masih menjadi bagian dari budaya populer, meskipun gerakan seperti body positivity sebelumnya telah membuka ruang untuk membicarakan penerimaan tubuh dan keberagaman bentuk tubuh.

Body positivity sendiri membawa gagasan yang cukup sederhana: tubuh tidak harus memenuhi satu standar tertentu agar layak dihargai. Cara pandang ini membuat pembicaraan mengenai kecantikan menjadi lebih luas, tidak hanya berpusat pada ukuran tubuh atau penampilan fisik. Di media sosial, perubahan cara pandang tersebut juga dapat terlihat dari semakin banyaknya percakapan tentang menerima tubuh dengan segala perbedaannya. Foto tanpa terlalu banyak penyuntingan, pakaian yang dikenakan sesuai kenyamanan, hingga konten yang membicarakan pengalaman pribadi dengan tubuh menjadi bagian dari percakapan tersebut.

Namun, menerima tubuh bukan berarti setiap hari harus merasa percaya diri dengan penampilan. Ada hari ketika seseorang merasa nyaman, ada pula saat ketika rasa tidak percaya diri muncul kembali. Justru di situlah body positivity menjadi relevan. Tujuannya bukan menciptakan standar baru bahwa semua orang harus selalu mencintai tubuhnya, tetapi memberikan ruang untuk melihat tubuh tanpa terus-menerus merasa harus menjadi versi yang sempurna.

Tidak Harus Selalu Suka, Body Positivity Mengajak Berdamai dengan Tubuh Sendiri

Ada anggapan bahwa body positivity berarti seseorang harus selalu merasa cantik, percaya diri, dan menyukai semua bagian tubuhnya. Padahal, hubungan seseorang dengan tubuhnya tidak selalu sesederhana itu. Ada hari ketika seseorang merasa nyaman mengenakan pakaian tertentu. Di hari lain, pakaian yang sama mungkin membuatnya kurang percaya diri. Perasaan seperti ini merupakan bagian dari pengalaman manusia dan tidak otomatis membuat seseorang gagal menerapkan body positivity.

Karena itu, menerima tubuh bisa dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana. Tidak perlu memaksakan diri untuk mengatakan bahwa setiap bagian tubuh terlihat sempurna. Cukup dengan berhenti menganggap perubahan kecil pada tubuh sebagai sesuatu yang harus selalu diperbaiki. Cara melihat tubuh juga dapat bergeser dari sekadar penampilan menuju apa yang bisa dilakukan tubuh setiap hari. Tubuh yang digunakan untuk berjalan ke kampus, bekerja, menari, berolahraga, atau sekadar beristirahat tetap memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar terlihat bagus di depan kamera.

Media sosial terkadang membuat proses tersebut menjadi lebih rumit. Foto yang sudah dipilih, pencahayaan tertentu, sudut kamera, hingga berbagai fitur penyuntingan dapat menciptakan gambaran penampilan yang tidak selalu sama dengan kehidupan sehari-hari. Karena itu, melihat unggahan orang lain sebagai bagian kecil dari kehidupan mereka dapat membantu mengurangi kebiasaan membandingkan diri. Tidak semua yang terlihat di layar menggambarkan keseluruhan cerita seseorang.

Body positivity pada akhirnya bukan tentang menghapus keinginan untuk merawat diri. Seseorang tetap boleh menggunakan skincare, berolahraga, memilih pakaian yang disukai, atau mengubah gaya rambut. Bedanya, semua pilihan tersebut tidak harus dilakukan karena merasa tubuh yang sekarang belum cukup baik. Merawat diri dan menerima diri dapat berjalan bersamaan. Seseorang boleh ingin berubah, sekaligus tetap menghargai dirinya selama proses tersebut.

Standar Kecantikan Boleh Berubah, tetapi Tubuh Tidak Harus Selalu Mengikutinya

Tren kecantikan selalu memiliki siklusnya sendiri. Bentuk tubuh, gaya berpakaian, hingga cara merias wajah dapat berubah dari satu periode ke periode berikutnya. Apa yang dianggap ideal hari ini belum tentu memiliki tempat yang sama beberapa tahun kemudian. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa standar kecantikan sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar tetap. Karena itu, menjadikan satu bentuk tubuh sebagai patokan untuk semua orang dapat membuat seseorang terus merasa harus mengejar sesuatu yang selalu berubah. Body positivity hadir dengan perspektif yang lebih luas. Tubuh tidak harus mengikuti tren tertentu untuk dianggap layak ditampilkan atau dihargai. Setiap orang dapat memiliki bentuk tubuh, ukuran, warna kulit, dan karakter fisik yang berbeda.

Di kehidupan sehari-hari, penerapannya bisa dimulai dari hal kecil. Misalnya, memilih pakaian karena merasa nyaman, berhenti mengikuti akun yang membuat diri terus membandingkan penampilan, atau tidak menjadikan foto orang lain sebagai patokan untuk melihat tubuh sendiri. Bukan berarti rasa tidak percaya diri akan langsung hilang. Proses menerima tubuh juga tidak selalu berjalan lurus. Ada kalanya seseorang kembali membandingkan diri atau merasa kurang puas dengan penampilannya.

Namun, memiliki perspektif yang lebih sehat dapat membantu seseorang tidak langsung menjadikan perasaan tersebut sebagai alasan untuk membenci tubuhnya. Pada akhirnya, body positivity bukan tentang menciptakan versi baru dari “tubuh sempurna”. Justru, gerakan ini memberi ruang untuk mempertanyakan mengapa kesempurnaan harus memiliki bentuk tertentu sejak awal.

Di tahun 2026, ketika standar penampilan terus muncul dan berubah di media sosial maupun budaya populer, pembicaraan mengenai penerimaan tubuh masih memiliki tempatnya sendiri. Tidak harus selalu mencintai penampilan setiap saat. Tidak juga harus berhenti merawat diri. Terkadang, menolak kesempurnaan hanya berarti memberi diri sendiri kesempatan untuk hidup tanpa terus merasa harus memenuhi standar yang dibuat orang lain.

Penulis: Najwa Maulidina

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading