Sukses

Lifestyle

Kebiasaan Menyimpan Kardus Barang yang Sudah Tidak Terpakai, Kepribadian Enggan Melepaskan

Fimela.com, Jakarta - Pernahkah Anda membeli mainan baru, perangkat elektronik, atau sepatu, lalu merasa sayang membuang kardus kemasannya? Alih-alih memasukkannya ke tempat daur ulang, kardus tersebut justru disimpan di lemari, gudang, atau bawah tempat tidur dengan pikiran, “Siapa tahu nanti dibutuhkan.”

Kebiasaan menyimpan kardus barang yang sudah tidak terpakai ternyata tidak selalu berkaitan dengan rumah yang berantakan atau sekadar lupa membuangnya. Ada berbagai alasan psikologis yang membuat seseorang merasa sulit melepaskan benda yang sebenarnya sudah tidak memiliki fungsi.

Kardus kosong bahkan dapat memberikan rasa nyaman, mengingatkan pada kenangan tertentu, hingga membuat seseorang merasa lebih siap menghadapi kemungkinan yang akan datang. Berikut penjelasan selengkapnya sebagaimana dilansir fimela.com dari berbagai sumber, Sabtu (26/9/2026).

Kotak Itu Memberi Rasa Aman

Dilansir dari laman Bolde, penelitian yang dilakukan Daniel Kahneman dan Amos Tversky soal loss aversion atau keengganan kehilangan bisa menjelaskan kebiasaan menyimpan kardus barang yang sudah tidak terpakai. Otak manusia cenderung menganggap kehilangan sesuatu yang sudah dimiliki jauh lebih menyakitkan dibanding mendapat sesuatu dengan nilai setara. Begitu sebuah barang sudah jadi milik kita, nilainya di mata kita otomatis naik dibanding sebelum dimiliki.

Karena itulah, membuang kotak bisa terasa seperti melepas sedikit rasa terlindungi, walau kotak itu sudah tidak berguna dan masa pengembaliannya sudah lewat berbulan-bulan. Sebenarnya bukan kardusnya yang disimpan, melainkan rasa amannya.

Pikiran "Siapa Tahu Dibutuhkan" yang Bikin Barang Menumpuk

Membuang barang berarti harus yakin dulu bahwa benda itu memang tidak akan dipakai lagi. Sebaliknya, menyimpan terasa jauh lebih gampang karena tidak perlu mengambil keputusan seberat itu.

Pikiran "bagaimana kalau nanti butuh ini?" sering kali terasa lebih kuat ketimbang kenyataan bahwa barang tersebut sudah lama sekali tidak disentuh, dan inilah salah satu pemicu utama kebiasaan menyimpan kardus barang yang sudah tidak terpakai terus berlanjut dari waktu ke waktu. Ada pemikiran bahwa suatu hari nanti kardus tersebut mungkin akan berguna.

Walaupun belum memiliki rencana yang jelas, seseorang tetap memilih menyimpannya untuk berjaga-jaga. Melansir laman Medium, perasaan ini berkaitan dengan kecenderungan manusia untuk memikirkan kemungkinan di masa depan. Memiliki sesuatu yang bisa digunakan nanti dapat memberikan kesan bahwa kita lebih siap menghadapi situasi yang belum diketahui.

Ikatan Emosional dan Identitas Diri pada Kardus Bekas

Melansir laman Medium, salah satu pendorong utama di balik kebiasaan menyimpan kardus barang yang sudah tidak terpakai adalah nilai sentimental atau ikatan emosional yang melekat padanya. Kardus-kardus ini bisa menjadi pengingat akan peristiwa penting, orang-orang terkasih, atau momen bahagia saat barang yang ada di dalamnya pertama kali didapatkan.

Psikolog Russell Belk memperkenalkan konsep "extended self" atau diri yang diperluas. Konsep ini menjelaskan bagaimana seseorang mengintegrasikan kepemilikan mereka ke dalam identitas diri mereka. Oleh karena itu, membuang benda yang memiliki makna sentimental bisa terasa seperti melepaskan sebagian dari diri sendiri atau cerita hidup.

Benda-benda ini seringkali membawa beban emosional. Meskipun tingkat keterikatan pada benda bervariasi antar individu, sebagian besar dari kita cenderung menyimpan setidaknya beberapa benda sentimental yang sudah tidak terpakai namun sulit untuk dilepaskan. Selain itu, benda-benda, termasuk kardus, mampu memberikan rasa stabilitas dan keakraban, serta berfungsi sebagai sumber kenyamanan dan keamanan.

Potensi Kreatif dan Batasan Gangguan Menimbun

Kardus kosong juga dapat dilihat sebagai kanvas yang penuh potensi kreatif. Otak manusia menyukai imajinasi akan berbagai kemungkinan, dan kardus kosong mewakili banyak dari kemungkinan tersebut.

Penting untuk membedakan kebiasaan menyimpan kardus barang yang sudah tidak terpakai ini dengan hoarding disorder atau gangguan menimbun. Meskipun keduanya melibatkan penumpukan barang, hoarding disorder adalah kondisi psikologis yang lebih serius. Gangguan ini ditandai dengan kesulitan parah untuk membuang atau berpisah dengan barang-barang, terlepas dari nilainya, yang menyebabkan penumpukan hingga mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari dan menimbulkan penderitaan signifikan. Penderita hoarding disorder sering merasa cemas atau tertekan ketika diminta membuang barang.

Barang yang ditimbun cenderung tidak memiliki nilai atau kegunaan yang jelas, seperti kertas coretan atau barang rusak. Perbedaan mendasar lainnya adalah bahwa orang yang menimbun berbeda dengan kolektor. Kolektor mencari barang spesifik, mengorganisirnya, dan bangga memajangnya, sementara penderita hoarding disorder menyimpan barang secara acak dan sembarangan.

Secara keseluruhan, kebiasaan menyimpan kardus barang yang sudah tidak terpakai dapat dijelaskan oleh kombinasi kompleks dari faktor emosional, kognitif, dan antisipatif. Ini mencerminkan bagaimana otak kita memproses nilai, potensi, dan risiko, serta bagaimana benda-benda dapat terjalin erat dengan identitas dan memori pribadi kita.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kebiasaan Menyimpan Kardus Barang yang Sudah Tidak Terpakai

1. Kenapa orang sulit membuang kardus yang sudah tidak terpakai?

Karena ada faktor psikologis seperti loss aversion, rasa aman semu, dan keterikatan emosional terhadap barang.

2. Apa itu loss aversion dalam konteks menyimpan kardus?

Konsep dari Kahneman dan Tversky yang menjelaskan bahwa kehilangan sesuatu yang sudah dimiliki terasa lebih menyakitkan daripada mendapat hal setara, sehingga membuang barang terasa seperti kehilangan.

3. Bagaimana cara mulai mengurangi kebiasaan ini?

Dengan menyadari alasan psikologis di baliknya, lalu memilah kardus mana yang benar-benar masih punya fungsi dan mana yang hanya disimpan karena rasa sayang semu.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading