Sukses

Lifestyle

MRT Culture, Saat Perjalanan Pulang Jadi Ruang untuk Bersosialisasi

Fimela.com, Jakarta - Setelah seharian bekerja atau kuliah, perjalanan pulang biasanya menjadi waktu untuk beristirahat. Earphone terpasang, ponsel di tangan, lalu berharap perjalanan terasa cepat sampai tujuan. Namun, ada kebiasaan lain yang mulai terasa akrab di tengah rutinitas pengguna MRT yaitu menjadikan perjalanan pulang sebagai waktu untuk bersosialisasi.

Dilansir dari Greater Good Magazine, interaksi sederhana dengan orang lain di ruang publik dapat membantu seseorang merasa lebih terhubung dengan lingkungan sekitar. Percakapan singkat atau sapaan kecil pun bisa menjadi bentuk interaksi sosial yang berarti, termasuk ketika seseorang sedang berada di transportasi umum.

Hal ini sebenarnya mudah ditemukan dalam keseharian. Ada teman kantor yang sengaja pulang bersama karena stasiunnya searah. Ada juga yang janjian bertemu di stasiun sebelum melanjutkan perjalanan untuk makan malam. Beberapa stasiun bahkan bisa menjadi titik temu sebelum masing-masing melanjutkan aktivitas.

Menariknya, waktu perjalanan yang biasanya dianggap sebagai waktu “kosong” justru bisa diisi dengan banyak hal. Sambil menunggu kereta datang, misalnya, seseorang bisa catch up dengan teman, membahas cerita kantor, atau sekadar bertukar kabar setelah seharian sibuk.

MRT akhirnya bukan hanya menjadi bagian dari rutinitas perjalanan, tetapi juga mempertemukan orang-orang dalam momen yang sederhana. Tidak perlu acara khusus atau tempat nongkrong tertentu. Cukup bertemu di perjalanan, lalu membiarkan beberapa stasiun menjadi waktu untuk berbagi cerita.

Beberapa Stasiun untuk Bertukar Cerita

Buat sebagian orang, pulang bersama teman bisa terasa berbeda dibanding langsung menuju rumah sendirian. Setelah seharian sibuk dengan pekerjaan atau kuliah, perjalanan beberapa stasiun bisa menjadi kesempatan untuk catch up tanpa harus membuat janji khusus di tempat lain.

Obrolannya pun tidak harus selalu serius. Bisa dimulai dari cerita soal pekerjaan hari itu, rencana makan malam, rekomendasi tempat baru, sampai hal random yang baru saja terjadi. Waktu yang mungkin hanya sekitar 20 atau 30 menit ternyata cukup untuk membuat seseorang merasa lebih dekat dengan orang lain.

Selain dengan teman, interaksi kecil juga bisa muncul dari orang-orang yang sering ditemui. Wajah yang sama di peron atau gerbong setiap sore mungkin awalnya terasa asing. Namun, karena sering berpapasan, keberadaannya perlahan menjadi familiar.

Bukan berarti semua orang di MRT harus saling menyapa atau mengobrol. Justru, bagian menarik dari ruang publik adalah setiap orang punya caranya sendiri untuk berinteraksi. Ada yang asyik berbincang, ada yang memilih membaca, mendengarkan musik, atau menikmati perjalanan sambil melihat suasana kota dari balik jendela.

Di tengah kehidupan urban yang serba cepat, momen-momen kecil seperti ini terasa cukup berarti. Perjalanan pulang tetap menjadi perjalanan, tetapi ada sedikit ruang untuk terhubung dengan orang lain di antaranya.

Perjalanan Pulang yang Ikut Membentuk Social Life

Ada satu kebiasaan yang hampir selalu muncul saat menunggu kendaraan yaitu membuka ponsel. Entah untuk scrolling media sosial, membalas chat, atau sekadar melihat-lihat sesuatu sampai kereta datang. Tidak ada yang salah dengan menikmati waktu sendiri, tetapi sesekali perjalanan juga bisa diisi dengan menyapa atau berbincang dengan orang sekitar.

Bagi pekerja kantoran, rutinitas tersebut juga bisa menjadi semacam transisi antara kehidupan di kantor dan waktu pribadi. Setelah berjam-jam berada dalam mode kerja, perjalanan pulang memberi kesempatan untuk membicarakan hal-hal di luar pekerjaan. Bahkan obrolan receh sekalipun bisa membantu suasana hati terasa lebih ringan.

Mungkin karena itu, MRT culture terasa dekat dengan kehidupan masyarakat kota. Banyak aktivitas sosial sekarang memang berlangsung di sela-sela rutinitas. Pada akhirnya, perjalanan pulang punya banyak versi. Ada yang ingin menikmatinya dalam diam, ada yang menjadikannya waktu untuk scrolling, dan ada pula yang memanfaatkan beberapa stasiun untuk berbagi cerita dengan orang lain.

Tidak perlu memaksakan diri untuk selalu bersosialisasi. Namun, ketika kesempatan itu muncul, perjalanan pulang bisa menjadi salah satu momen sederhana untuk kembali terhubung. Karena di tengah padatnya kehidupan kota, sedikit waktu untuk ngobrol pun bisa terasa menyenangkan.

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading