Fimela.com, Jakarta - Tidak semua orang menunjukkan kekuatannya melalui kata-kata. Ada orang yang memilih menyimpan cerita tentang kesulitan hidupnya, menyelesaikan masalah secara perlahan, dan tetap menjalani hari seperti biasa. Tanda seseorang punya mental tangguh meski jarang bercerita bisa terlihat dari caranya menghadapi tekanan, mengambil keputusan, dan menyikapi perubahan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Orang yang jarang menceritakan masalahnya bukan berarti tidak memiliki beban pikiran. Mereka tetap bisa merasa sedih, kecewa, takut, atau lelah. Namun, mereka berusaha memahami perasaan tersebut dan mencari cara untuk menghadapinya tanpa harus selalu menunjukkan pergulatan batin kepada orang lain.
Ketangguhan mental bukan tentang menjadi pribadi yang tidak pernah rapuh. Sebaliknya, kemampuan untuk bangkit, menyesuaikan diri, dan belajar dari pengalaman sulit merupakan bagian penting dari ketahanan psikologis atau resilience. Berikut sejumlah tanda yang dapat membantu mengenali ketangguhan tersebut tanpa terburu-buru menilai seseorang hanya dari sikap diamnya, Kamis (22/10/2026).
Advertisement
Advertisement
1. Mampu Mengelola Emosi tanpa Harus Selalu Mengungkapkannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5221263/original/079107400_1747311538-total-relaxation-attractive-young-woman-holding-hands-head-smiling-while-sitting-chair-home.jpg)
Salah satu tanda seseorang memiliki mental tangguh adalah kemampuannya mengenali dan mengelola emosi ketika menghadapi situasi sulit. Mereka mungkin tidak langsung menceritakan kekecewaan kepada orang lain, tetapi berusaha memahami apa yang dirasakan sebelum menentukan tindakan.
Misalnya, ketika menerima kritik yang menyakitkan, mereka tidak selalu membalas dengan kemarahan atau memperlihatkan rasa kecewa secara berlebihan. Mereka bisa mengambil waktu untuk menenangkan diri, mempertimbangkan isi kritik, kemudian memutuskan bagian mana yang perlu diperbaiki dan mana yang tidak perlu terlalu dipikirkan.
Kemampuan ini bukan berarti mereka menekan atau menyangkal perasaan. Orang yang tangguh tetap bisa menangis, merasa marah, dan mengalami kecemasan. Perbedaannya terletak pada cara mereka merespons emosi tersebut agar tidak sepenuhnya mengendalikan keputusan.
Dalam artikel The New 10 Traits of Emotionally Resilient People yang diterbitkan Michigan State University melalui Spartan Magazine pada 2022, pengelolaan diri dan penetapan batasan menjadi bagian penting dari ketahanan emosional. Individu yang resilien berusaha mengendalikan respons emosional, menerima hal-hal yang tidak dapat diubah, dan mengambil keputusan yang lebih bijaksana saat berada di bawah tekanan.
Dengan demikian, seseorang yang jarang bercerita dapat menunjukkan ketangguhan melalui sikap yang relatif terukur ketika menghadapi masalah. Namun, kemampuan mengelola emosi tidak bisa dinilai hanya dari ekspresi wajah atau kebiasaannya terlihat tenang. Perlu diperhatikan pula bagaimana ia menghadapi persoalan dan memperlakukan orang lain.
2. Tetap Menjalani Tanggung Jawab meski Sedang Menghadapi Masa Sulit
Seseorang tidak harus selalu terlihat bersemangat untuk disebut tangguh. Ada kalanya kekuatan justru terlihat ketika ia tetap berusaha menjalani tanggung jawab sehari-hari meskipun sedang menghadapi persoalan pribadi.
Ia mungkin tetap berangkat bekerja, menyelesaikan tugas yang mendesak, mengurus kebutuhan rumah, atau memenuhi janji kepada orang lain. Semua itu dilakukan bukan karena ia tidak merasa lelah, melainkan karena ia berusaha mencari cara agar kesulitan yang dialami tidak menghentikan seluruh aktivitasnya.
Dalam artikel 2 Signs That You're Already Resilient yang ditulis Mark Travers, Ph.D., di Psychology Today pada 2026, ketahanan psikologis dijelaskan sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan kembali berfungsi setelah menghadapi kesulitan. Orang yang resilien tetap dapat mengalami tekanan emosional, tetapi perlahan berusaha melanjutkan aktivitas dan memulihkan keseimbangannya.
Hal ini juga sejalan dengan ulasan PositivePsychology dalam artikel What Are the Signs of a Resilient Person? yang ditulis Zachary Ehrmann. Salah satu bentuk ketahanan adalah tetap bergerak maju setelah mengalami emosi yang berat, meskipun prosesnya tidak selalu cepat.
Dalam kehidupan sehari-hari, ketangguhan tersebut bisa terlihat dari langkah-langkah kecil. Seseorang yang sedang menghadapi masalah mungkin hanya mampu menyelesaikan satu pekerjaan penting, beristirahat ketika lelah, atau bangkit kembali setelah melewati hari yang buruk.
Karena itu, jangan mengukur kekuatan seseorang hanya dari seberapa banyak pencapaian yang berhasil diraih. Kemampuan bertahan dan menjalani hal-hal mendasar saat keadaan terasa berat juga patut dihargai. Meski begitu, ketangguhan tidak berarti seseorang harus terus memaksakan diri ketika membutuhkan istirahat.
3. Tidak Mudah Menjadikan Satu Kegagalan sebagai Ukuran Diri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4838969/original/041341800_1716297518-portrait-cute-coquettish-woman-laughing-smiling-looking-aside-thoughtful-thinking-imaging-smth-standing-white-tshirt-studio-background.jpg)
Orang yang memiliki mental tangguh cenderung memahami bahwa kegagalan merupakan bagian dari perjalanan hidup, bukan bukti bahwa dirinya tidak berharga. Mereka bisa merasa kecewa ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan, tetapi berusaha untuk tidak membiarkan satu pengalaman buruk menentukan cara mereka memandang diri sendiri.
Sebagai contoh, seseorang yang gagal mendapatkan pekerjaan mungkin membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan tersebut. Ia tidak harus langsung membagikan kesedihannya kepada teman atau keluarga. Setelah emosinya lebih stabil, ia dapat mengevaluasi proses yang sudah dijalani, memperbaiki kemampuan yang masih kurang, dan mencoba kesempatan lain.
Zachary Ehrmann dalam artikel PositivePsychology menjelaskan bahwa orang yang resilien mampu mempertahankan perspektif ketika menghadapi kesulitan. Mereka dapat melihat masalah dalam konteks yang lebih luas dan menyadari bahwa keadaan yang sedang dialami tidak selalu bersifat permanen.
Sikap ini juga berkaitan dengan kemampuan memisahkan identitas diri dari pengalaman buruk. Gagal dalam suatu pekerjaan, misalnya, tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai pribadi yang gagal dalam segala hal.
Apabila kamu mengenal seseorang yang jarang membicarakan kekecewaannya, perhatikan bagaimana ia menjalani kehidupan setelah menghadapi kemunduran. Apakah ia perlahan mencoba kembali, mencari pendekatan baru, atau mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut? Respons semacam ini dapat memberikan gambaran yang lebih bermakna tentang ketangguhannya dibandingkan seberapa sering ia menceritakan masalah.
4. Mampu Beradaptasi ketika Keadaan Berubah
Tidak semua hal dalam kehidupan berjalan sesuai rencana. Perubahan pekerjaan, masalah keuangan, konflik hubungan, atau kegagalan mencapai target bisa memaksa seseorang menyesuaikan kebiasaan dan harapannya.
Orang yang tangguh secara mental biasanya berusaha menghadapi kenyataan tersebut daripada terus-menerus memaksakan keadaan kembali seperti semula. Mereka mungkin tetap merasa kehilangan atau kecewa, tetapi secara bertahap mencari pilihan yang masih dapat dilakukan.
Dalam artikel What Are the Signs of a Resilient Person?, PositivePsychology menempatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan sebagai salah satu ciri individu yang resilien. Ketika rencana awal tidak lagi memungkinkan, mereka berusaha menyesuaikan strategi dengan situasi yang tersedia.
Misalnya, seseorang yang kehilangan pekerjaan tidak hanya terpaku pada pekerjaan lama. Setelah melewati masa penyesuaian, ia mungkin mulai mengikuti pelatihan, memperluas jaringan profesional, atau mempertimbangkan bidang pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah dipikirkan.
Kemampuan beradaptasi juga terlihat dalam hubungan sosial. Seseorang dapat menerima bahwa tidak semua orang memiliki pandangan yang sama dengannya. Ia tidak harus selalu memenangkan perdebatan untuk merasa dihargai, sebab memahami sudut pandang lain terkadang lebih bermanfaat daripada mempertahankan pendapat sendiri.
Orang yang jarang bercerita mungkin menjalani proses penyesuaian ini secara pribadi. Ia tidak selalu mengumumkan rencana baru atau menjelaskan setiap keputusan kepada orang lain. Meski demikian, sikap pendiam saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang sudah mampu beradaptasi dengan baik. Hal yang lebih penting adalah kesediaannya menghadapi kenyataan dan mencoba langkah yang sesuai.
Advertisement
5. Bersedia Mengevaluasi Diri dan Belajar dari Kesalahan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5227930/original/028799800_1747828562-steptodown.com248216.jpg)
Ketangguhan mental tidak selalu ditandai dengan keyakinan diri yang tinggi. Terkadang, seseorang yang kuat justru berani mempertanyakan pemikirannya sendiri, mengakui kesalahan, dan mempertimbangkan kemungkinan bahwa pendekatannya selama ini kurang tepat.
Tracy S. Hutchinson, Ph.D., dalam artikel 7 Signs of Mentally Strong People di Psychology Today pada 2022, membahas pentingnya memantau perilaku diri dan memperbaiki respons terhadap situasi. Individu yang tangguh berusaha memahami dampak tindakannya, menerima konsekuensi pilihan, serta menyesuaikan perilaku agar menghasilkan keputusan yang lebih baik.
Hal tersebut dapat terlihat ketika seseorang menghadapi konflik dengan teman atau rekan kerja. Alih-alih hanya menyalahkan pihak lain, ia bersedia memikirkan apakah perkataan atau tindakannya ikut memperburuk keadaan. Jika memang melakukan kesalahan, ia berusaha memperbaikinya.
Evaluasi diri juga berbeda dari menyalahkan diri sendiri secara berlebihan. Seseorang yang tangguh tidak harus menganggap semua masalah sebagai kesalahannya. Ia belajar membedakan bagian yang menjadi tanggung jawab pribadi dan hal-hal yang berada di luar kendalinya.
Mark Travers dalam Psychology Today juga menyoroti pentingnya refleksi terhadap pikiran dan perilaku. Proses ini membantu seseorang memetik pelajaran dari pengalaman dan mempertimbangkan respons yang lebih efektif pada kesempatan berikutnya.
Karena itu, salah satu tanda seseorang punya mental tangguh meski jarang bercerita adalah kesediaannya untuk terus belajar tanpa perlu menjadikan setiap proses perubahan sebagai tontonan orang lain. Ia tidak harus selalu menjelaskan perkembangan dirinya. Perubahan kecil dalam cara mengambil keputusan dan menyikapi kesalahan dapat menjadi petunjuk yang lebih relevan.
6. Mengetahui Kapan Harus Meminta Bantuan
Ada anggapan bahwa orang bermental kuat seharusnya mampu menyelesaikan semua masalahnya sendiri. Padahal, ketangguhan bukan berarti harus menghadapi setiap kesulitan tanpa bantuan siapa pun.
Seseorang yang memiliki kesadaran diri dapat mengenali keterbatasannya. Ia memahami bahwa ada persoalan yang bisa diselesaikan secara mandiri, tetapi ada pula situasi yang membutuhkan dukungan orang lain, baik secara emosional maupun praktis.
Situs PositivePsychology menjelaskan bahwa kesediaan meminta bantuan merupakan salah satu tanda ketahanan psikologis. Kemampuan tersebut membutuhkan kesadaran untuk mengenali kebutuhan diri sekaligus keberanian untuk menerima dukungan tanpa menganggapnya sebagai kegagalan.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang mungkin tidak suka menceritakan masalahnya kepada banyak orang, tetapi memiliki satu atau dua orang tepercaya yang menjadi tempat berbagi. Ia bisa meminta saran kepada anggota keluarga, berdiskusi dengan teman, atau berkonsultasi dengan tenaga profesional ketika masalah terasa terlalu berat.
Artikel Michigan State University melalui Spartan Magazine juga menekankan pentingnya dukungan sosial bagi ketahanan emosional. Kehadiran orang-orang yang dapat dipercaya membantu seseorang menghadapi tekanan dan menemukan perspektif lain ketika mengalami kesulitan.
Dengan demikian, jarang bercerita tidak selalu berarti menutup diri sepenuhnya. Ada perbedaan antara menjaga privasi dan mengisolasi diri karena merasa tidak boleh terlihat lemah.
Jika seseorang memilih untuk belum bercerita, berikan ruang tanpa memaksanya membuka masalah pribadi. Kamu dapat menunjukkan kepedulian dengan mendengarkan ketika ia siap berbicara dan menawarkan bantuan tanpa menghakimi.
7. Mampu Menerima Perasaan Sulit tanpa Terjebak di Dalamnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5219599/original/059333100_1747219673-working-essay.jpg)
Orang yang tangguh bukanlah mereka yang selalu berpikir positif atau tidak pernah merasa sedih. Mereka tetap bisa mengalami kemarahan, kesedihan, kecemasan, dan kekecewaan. Namun, mereka berusaha memberi ruang bagi perasaan tersebut tanpa membiarkannya terus-menerus menguasai kehidupan.
Dalam artikel What Are the Signs of a Resilient Person?, Ehrmann menjelaskan bahwa orang yang resilien tetap merasakan emosi yang sulit, tetapi berusaha melewatinya dengan penuh kesadaran. Mereka tidak harus menyangkal perasaan untuk bisa melanjutkan hidup.
Sikap ini berbeda dari kebiasaan berpura-pura baik-baik saja. Seseorang yang menerima perasaannya dapat mengakui bahwa dirinya sedang kecewa, memahami penyebabnya, dan mencari cara yang sehat untuk menghadapinya. Ia mungkin memilih menulis jurnal, berjalan santai, beristirahat, berdoa sesuai keyakinannya, atau berbicara dengan orang yang dipercaya.
Sebaliknya, jika seseorang selalu memendam emosi karena takut dianggap lemah, tekanan tersebut belum tentu benar-benar terselesaikan. Kebiasaan menghindari masalah emosional juga dapat membuat seseorang kesulitan mengenali kebutuhannya sendiri.
Dalam ulasan Michigan State University, penerimaan terhadap rasa sakit dan stres dipandang sebagai bagian dari ketahanan emosional. Menerima keadaan bukan berarti menyerah, melainkan mengakui kenyataan agar seseorang dapat menentukan langkah selanjutnya dengan lebih jernih.
Oleh sebab itu, jangan menganggap seseorang lebih tangguh hanya karena tidak pernah menangis atau mengeluh. Kemampuan mengenali, menerima, dan memproses emosi secara sehat jauh lebih penting daripada penampilan yang selalu terlihat kuat.
8. Tetap Memiliki Harapan dan Menemukan Makna dari Pengalaman Hidup
Tanda lainnya adalah kemampuan mempertahankan harapan yang realistis ketika menghadapi keadaan sulit. Orang yang tangguh tidak harus yakin bahwa semua hal akan berakhir sempurna. Mereka hanya berusaha menyadari bahwa masih ada kemungkinan untuk memperbaiki keadaan, menemukan pilihan lain, atau mengambil pelajaran dari pengalaman.
Michigan State University melalui Spartan Magazine menjelaskan bahwa individu yang resilien dapat mencari makna dari pengalaman sulit. Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut membantu mereka memahami prioritas hidup, memperkuat hubungan dengan orang terdekat, atau menemukan tujuan yang sebelumnya belum disadari.
Misalnya, seseorang yang pernah mengalami kegagalan mungkin menjadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Ada pula orang yang setelah melewati masa sulit justru lebih peka terhadap kesulitan orang lain dan bersedia memberikan dukungan tanpa banyak bertanya.
Namun, menemukan makna bukan berarti seseorang harus menganggap semua pengalaman menyakitkan sebagai sesuatu yang baik. Tidak semua kesulitan langsung menghasilkan pelajaran, dan proses memahaminya bisa memerlukan waktu panjang.
Harapan yang realistis juga berbeda dari optimisme berlebihan. Seseorang tetap dapat mengakui bahwa situasinya sulit sambil mencari langkah yang mungkin dilakukan. Ia tidak mengabaikan risiko, tetapi juga tidak menganggap keadaan saat ini sebagai akhir dari seluruh kemungkinan.
Bagi orang yang jarang bercerita, proses ini bisa berlangsung dalam bentuk refleksi pribadi. Ia mungkin mengevaluasi kembali tujuan hidup, mengubah prioritas, atau belajar menghargai hal-hal sederhana yang sebelumnya terlewatkan.
Pada akhirnya, ketangguhan mental tidak selalu tampak dalam tindakan besar atau kisah perjuangan yang diketahui banyak orang. Terkadang, kekuatan itu hadir dalam keputusan sederhana untuk mencoba kembali, menerima kenyataan, memperbaiki kesalahan, dan menjalani hari dengan lebih bijaksana.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Mental Tangguh
1. Apa yang dimaksud dengan mental tangguh?
Mental tangguh adalah kemampuan untuk menghadapi tekanan, menyesuaikan diri dengan perubahan, dan memulihkan diri setelah mengalami kesulitan. Ketangguhan bukan berarti tidak pernah merasa sedih atau takut, melainkan mampu mencari cara yang sehat untuk menghadapi perasaan dan keadaan tersebut.
2. Apakah orang yang jarang bercerita pasti memiliki mental tangguh?
Tidak. Jarang bercerita bisa disebabkan oleh kepribadian yang tertutup, kebutuhan menjaga privasi, atau kesulitan mengungkapkan emosi. Ketangguhan mental lebih tepat dinilai dari cara seseorang menghadapi masalah, mengelola emosi, dan mencari dukungan ketika dibutuhkan.
3. Apa perbedaan mental tangguh dan memendam perasaan?
Orang yang tangguh berusaha mengenali, menerima, dan mengelola perasaannya secara sehat. Sementara itu, memendam perasaan dapat terjadi ketika seseorang terus menghindari emosi karena takut dinilai lemah atau tidak tahu cara mengungkapkannya. Keduanya tidak bisa dibedakan hanya dari seberapa banyak seseorang berbicara.
4. Apakah mental tangguh bisa dilatih?
Ya. Ketahanan psikologis dapat dikembangkan melalui kebiasaan mengevaluasi diri, membangun hubungan yang suportif, menjaga kebutuhan dasar, belajar beradaptasi, dan melatih pengelolaan emosi. Prosesnya berlangsung secara bertahap dan tidak harus dilakukan sendirian.
5. Bagaimana cara mendukung seseorang yang jarang bercerita tentang masalahnya?
Hindari memaksanya bercerita atau menganggap sikap diamnya sebagai tanda bahwa ia tidak membutuhkan bantuan. Tunjukkan kepedulian dengan menawarkan diri untuk mendengarkan, menghormati batasan pribadinya, dan memberikan bantuan praktis jika diperlukan. Jika ia mengalami kesulitan emosional yang berkepanjangan, dukung dengan lembut agar ia mempertimbangkan bantuan profesional.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4947433/original/039312800_1726711155-happy-young-asian-woman-traveler-with-backpack-walking-forest.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376129/original/019318800_1792309179-Yeti.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379808/original/086089900_1792647863-Gemini_Generated_Image_4u5g1g4u5g1g4u5g.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379505/original/045013400_1792636100-Puding_Karamel_dengan_Saus_Mengilap.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379843/original/014946900_1792649134-Gemini_Generated_Image_t7ymqlt7ymqlt7ym.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379906/original/081466900_1792652170-pexels-kirowang-7463422.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572813/original/016259900_1777870791-medium-shot-kid-with-tablet-plane_1_.jpg)
![Tidak sedikit anak yang tiba-tiba rewel, menangis, marah, atau bahkan mengalami meltdown saat berada di tempat wisata karena kelelahan itu. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/jxPB5TNH0nn8re8DCFOsQg_YQkw=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7254711/original/003125400_1780040631-2149599412.jpg)
![Sahabat Fimela, yuk simak tips traveling dengan anak picky eater. [Dok/freepik.com/pvproductions]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/BOaSn6x3gTIoUHDPu2cZgnZ0Cqg=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7255394/original/047151500_1780041531-13552.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569544/original/098163400_1777445637-pexels-luisbecerrafotografo-35659780.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569519/original/039377400_1777444700-pexels-steffan-wiliams-2148064025-30895054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564262/original/049314900_1776931762-flat-lay-hands-holding-notebook-cash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379363/original/097715300_1792594745-people-meeting-barter-event-exchange-goods.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4847216/original/065253100_1717033085-pexels-liza-summer-6347538.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537423/original/021121200_1774423642-pexels-yankrukov-5791251.jpg)
![Sahabat Fimela, terdepan cara sederhana untuk membersihkan kompor, yaitu dengan menggunakan racikan baking soda dan cuka. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/b5j_UycbiR6Uyj6fghEUoPdfem0=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7163473/original/028995400_1779953328-2148563321.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324526/original/017892800_1786715976-WhatsApp_Image_2026-08-14_at_20.34.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5691408/original/040891300_1778567403-pexels-denisenys-14824327.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501289/original/065172500_1770892932-medium-shot-woman-working-from-home.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5441751/original/077518700_1765516997-medium-shot-woman-girl-playing-memory-game.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5547486/original/041802400_1775460284-prostooleh.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314373/original/019217700_1785744561-pexels-dmitry-rodionov-30680377.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354984/original/074492100_1790068177-pexels-pavel-danilyuk-7938005.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496723/original/082498100_1688964288-sylwia-bartyzel-m7HrMJJ0bW0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380328/original/059803100_1792670168-IMG-20261022-WA0054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380369/original/022896200_1792675651-WhatsApp_Image_2026-10-22_at_20.09.52.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/699933/original/_Dawn__Victims.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380331/original/005878700_1792671275-WhatsApp_Image_2026-10-22_at_18.23.19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379767/original/040397900_1792646903-142482.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380240/original/081730400_1792661571-Screenshot_20261022_160052_YouTube.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5140446/original/079342800_1740204932-000_36YC8UZ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379900/original/030368600_1792651817-IMG_2987.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379972/original/067796700_1792654572-IMG_2988.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380133/original/000042600_1792658836-kim.jpg)