Sukses

Parenting

9 Hal Yang Perlu Dilakukan Ketika ASI Berhenti Keluar

Pekan ASI Sedunia dirayakan setiap tahunnya pada 1-7 Agustus untuk mendorong ibu agar sukses menyusui dan meningkatkan kesehatan bayi di seluruh dunia. Di Indonesia, angka pemberian ASI eksklusif masih tergolong rendah dibandingkan jumlah ibu yang menyusui (96 persen).

Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2017 mencatat ASI eksklusif di Indonesia hanya sekitar 35 persen, di bawah rekomendasi WHO sebesar 50 persen.

Terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi rendahnya angka ASI di Indonesia. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia merekomendasikan dukungan kuat dari orang sekitar (support system) bagi ibu menyusui sebagai hal yang penting dalam suksesnya ASI eksklusif.

DR. Dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K), dokter spesialis anak konsultan di RSAB Harapan Kita, menjelaskan, Ibu berpotensi mengalami menurunnya produksi ASI adalah mereka yang mengalami Stress atau lelah bekerja setelah cuti melahirkan, ibu yang sakit dalam kurun waktu tertentu sehingga tidak dapat menyusui langsung, dan ibu yang merasa tidak nyaman secara psikologis karena mendapat tekanan dari keluarga ataupun lingkungan sosialnya.

Ibu disarankan segera melakukan relaktasi ketika tidak memproduksi ASI selama dua minggu berturut-turut dalam masa enam bulan pertama ASI eksklusif, terutama ketika bayi tidak berusia lebih dari 4 bulan.

"Ibu harus lebih intensif untuk menyusui langsung, didukung dengan pijat laktasi atau dikenal juga sebagai pijat oksitosin setiap hari. Bagi ibu bekerja, harus disiplin untuk memompa dan menyimpan ASI saat mereka sedang di kantor dan selalu menyusui langsung setiap kali berada di rumah bersama bayi mereka. Agar berhasil dalam relaktasi, para ibu wajib menerapkan teknik yang benar, memenuhi kebutuhan nutrisi, dan mendapatkan dukungan psikologis dari keluarga dan lingkungan sosial." tambah DR. Dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K), saat ditemui dalam acara Anmum Indonesia meluncurkan Anmum #MumToMum, di Jakarta, Rabu (1/8).

Selain itu, Dr. Ariani juga memberikan tips cara mengatasi ASI mulai berkurang atau berhenti sementara agar dapat kembali lagi. Apa saja itu? Yuk intip ulasannya.

1.Suplai = demand
Produksi akan tetap terjaga. Ini berlaku untuk dua payudara.

2. Banyak minum air putih
Minum air putih adalah bahan baku untuk memproduksi ASI

3. Curi waktu untuk istirahat
Harus pintar atur waktu untuk istirahat.

4. Suplementasi galaktagog (bisa dibeli bebas).
Obat bisa memperlancar ASI

5. Cek pompa ASI
Biasanya pompa terlalu sering dipakai jd berkurang kekuatan vakumnya.

6. Bonding dengan bayi diperkuat
Sering gendong skin to skin. “Saya ngga percaya bau tangan. Padahal anak yg biasa didekap oleh ibunya punya rasa percaya diri yang tinggi,” ungkapnya.

Pijat bayi yang dilakukan oleh ibunya sendiri. Untuk menghasilkan love hormon alias oksitoksin kita harus melakukan bonding pada anak.

7. Pijat oksitosi
Merasa penuh cinta, hormon itu akan diproduksi dalam jumlah yang banyak dan asi pun akan melimpah banyak

8. Suplemental nursing sistem
Bisa membantu untuk relaktasi. “Ada seperti suntikan dan selang tanpa jarum. Ada yg wadahnya dikalungkan di leher. Gunanya untuk asi bisa terproduksi kembali dengan cara dipancing atau umpan dulu,” paparnya.

9. Pentingnya dukungan keluarga teman
Keluarga dan lingkungan pun berperan penting dalam menyukseskan ibu dapat menyusui.

Untuk mengetahui lebih mengenai kehamilan dan menyusahi. Tahun ini, dalam rangka Pekan ASI Sedunia, Anmum Indonesia meluncurkan Anmum #MumToMum yaitu sebuah platform online yang memudahkan para ibu terkoneksi secara digital untuk berbagi informasi, mendiskusikan berbagai topik, dan menemukan hal baru mengenai perjalanan luar biasa di masa kehamilan dan menyusui.


“Banyak sekali rintangan bagi ibu menyusui di Indonesia, termasuk kurangnya dukungan keluarga dan kesalahpahaman seputar menyusui yang perlu diluruskan. Sejumlah hal ini yang dapat menyebabkan turunnya atau bahkan terhentinya produksi ASI yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan bayi secara keseluruhan,” ujar Rohini Behl, Technical Marketing Advisor, PT Fonterra Brands Indonesia.

(vem/asp)
What's On Fimela
Loading