Sukses

Parenting

Belum Ada Obatnya, Preeklampsia Dapat Diprediksi Lewat 9 Gejala Ini

Fimela.com, Jakarta Preeklampsia merupakan salah satu kondisi yang kerap dikhawatirkan saat kehamilan. Preeklampsia adalah kondisi hipertensi atau meningkatkanya tekanan darah yang terjadi saat kehamilan yang dikenal juga dengan nama toxemia gravidarum atau keracunan kehamilan.

Meski penyebab pastinya belum dapat dijelaskan, namun preeklampsia sering dihubungkan dengan adanya permasalahan plasenta. Sebab itu, preeklampsia terjadi pada paruh akhir kehamilan (di atas 20 minggu) atau setelah plasenta terbentuk di dalam rahim hingga 6 minggu setelah melahirkan.

"Kami berharap ibu hamil dan pasangannya serta keluarga lebih menyadari bahaya dengan mengenali gejala dan terbuka pada dokter kandungan tentang masalah yang dialami. Dengan begitu kita bersama-sama bisa lebih meningkatkan awareness dan segera bergerak atau act now, screen now untuk mencegah terjadinya preeklampsia ini," ujar Dr. dr. Agus Sulistyono, SpOG(K) KFM, Ketua Himpunan Kedokteran Fetomaternal Surabaya yang juga Ketua Penurunan Angka Kematian Ibu Surabaya.

Meski tidak semua mengenalinya, sebenarnya preeklampsia ini terjadi pada lebih dari 10 juta wanita di seluruh dunia dan berdampak pada lebih dari 2,5 juta persalinan pre-term (persalinan sebelum masanya). Data dari International Society for the Study of Hypertension in Pregnancy dan Preeclampsia Foundation mencatat bahwa pre-eklamsia mengakibatkan kematian Ibu hingga sekitar 76 ribu disertai kematian 500 ribu bayi setiap tahunnya. Artinya, sekitar 10 persen atau 1 dari 10 ibu hamil ini akan mengalami preeklampsia dan 20 persen dari yang terdampak preeklampsia ini akan berhubungan dengan terjadinya persalinan preterm.

Gejala dan Tatalaksana Preeklampsia

“Hingga saat ini, belum ditemukan terapi ataupun obat untuk preeklampsia. Satu-satunya cara untuk menghentikan proses hipertensi dan kerusakan organ adalah dengan menyegerakan persalinan, sehingga sumber toksin yang berasal dari plasenta tadi dapat dilahirkan, diselesaikan dan dampak kerusakan organ Ibu hamil dapat dihentikan,” kata dr Nareswari Imanadha Cininta Marcianora, SpOG dari Himpunan Kedokteran Fetomaternal Surabaya.

Meski belum dapat diterapi, namun dr Cininta mengatakan bahwa preeklampsia dapat diprediksi melalui gejala berikut: 

• Memiliki riwayat tekanan darah tinggi sebelum hamil

• Memiliki riwayat preeklampsia pada kehamilan sebelumnya

• Memiliki penyakit tertentu: diabetes, gangguan ginjal dan penyakit autoimun seperti lupus, antifosfolipid

• Obesitas (indeks masa tubuh kurang lebih 30 kg/m2)

• Riwayat keluarga menderita preeklampsia

• Hamil kembar dua atau lebih

• Hamil pertama kali

• Jarak kehamilan terakhir kurang lebih 5 tahun

• Berusia diatas 40 tahun 

Sehingga jika ibu hamil mengalami hal tersebut sebaiknya segera melakukan skrining risiko melalui tenaga kesehatan tempat pasien tersebut melakukan kontrol kehamilan (Act now, screen now).

 

 

 

Simak Video Berikut

#Elevate Women 

Ultah Ke-25, Hoshi SEVENTEEN Donasi Rp 1,27 Miliar ke Kampung Halaman
Loading