Sukses

Parenting

Menikmati Ramadan di Prancis sebagai Ibu, Ada Anugerah di Setiap Lelah

Fimela.com, Jakarta Bulan Ramadan senantiasa menghadirkan banyak kenangan dan kisah yang berkesan. Baik itu suka maupun duka, haru atau bahagia, selalu cerita yang sangat lekat dengan bulan suci ini. Cara kita memaknai bulan Ramadan pun berbeda-beda. Tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories bulan April dengan tema Light Up Your Ramadan ini pun mengandung hikmah dan inspirasi yang tak kalah istimewa.

***

Oleh: Nur Isna Aulya

Ini adalah ramadan keduaku di perantauan. Berada dalam jarak ribuan mil dari kampung halaman membuatku sangat rindu dengan suasana meriahnya ramadan bersama keluarga besar; keriuhan anak-anak saat ronda sahur; suara tilawah bapak Puri—tetangga—yang selalu menghangatkan dinginnya malam selepas tarawih; dan masakan ibu yang tak pernah gagal membuatku lahap saat sahur dan berbuka.

Semua itu tak kudapatkan di sini, sebab aku tinggal di negara minoritas muslim, tak ada suara adzan, tak ada panggilan sahur dari ronda maupun toa masjid, tak ada suara tilawah seperti yang kudapati di kampung halaman, dan sebagai seorang ibu, aku yang kini harus menyiapkan masakan terbaik untuk suami dan anakku. 

 

 

 

 

 

Kelahiran Buah Hati Kedua

Jika tahun lalu aku menikmati bulan ramadan bersama suami dan satu-satunya putri kecilku, kali ini ada kehadiran anggota keluarga baru yang mengisi keluarga kecilku di Prancis. Tepat dua minggu sebelum ramadan tiba Allah menganugerahi keluargaku seorang putri kecil lagi.

Kuberi nama Inaya yang berarti pertolongan, sebab begitu banyak pertolongan yang Allah berikan pada keluarga kecilku selama menjalani masa kehamilan di negeri mode ini; mulai dari trimester pertama yang banyak keluhan hamil, terkena virus covid dengan symtom berat pada trimester tiga, hingga proses melahirkan yang menguras emosi dan tenaga. Aku juga berharap semoga Allah selalu memberi pertolongan di setiap langkah kehidupannya nanti. 

Menikmati bulan ramadan tanpa sanak saudara dan beradaptasi menjadi ibu dari dua anak tidaklah mudah bagiku. Banyak aktivitas baru yang harus aku lakukan setiap hari yang terkadang membuatku sangat lelah.

Setiap malam aku harus bangun setiap tiga jam sekali untuk menyusui si bayi. Pagi hari aku menyiapkan sahur untuk suami. Jika aku sangat lelah, aku selalu menyiapkan menu sahur saat malam sebelum tidur. Pukul delapan pagi aku mempersiapkan sang kakak pergi ke sekolah; memandikan, membuatkan sarapan, dan memberinya kecupan sayang sebelum ia benar-benar berangkat ke sekolah bersama ayahnya yang juga berangkat bekerja. 

Saat suami dan sang kakak telah menjalankan rutinitasnya, itulah waktu yang tepat bagiku untuk menguatkan bonding dengan si bayi, Inaya; memandikan, memijat tubuhnya dengan lembut, menyusui, berkomunikasi, dan mengajaknya bermain saat matanya terjaga.

Sebab jika sang kakak sedang di rumah, aku tidak bisa terlihat begitu dekat dan berkomunikasi banyak dengan si bayi karena sang kakak masih sering cemburu dan sedih, meskipun ia sangat menyayangi adiknya.

Ramadan yang Berkesan

Untuk itu, aku berusaha seadil mungkin menjadi seorang ibu dari dua anak, yang keduanya sangat bergantung padaku. Sang kakak yang berusia empat tahun masih membutuhkan waktu untuk lebih mengerti tentang ibunya yang harus berbagi waktu dan tenaga kepada adiknya. Aku sangat paham akan hal itu, dan aku tak ingin ada sibling rivalry seperti yang terjadi padaku dan kakakku karena selisih usia yang pendek. 

Jika si bayi sedang tidur, terkadang aku memanfaatkan waktu untuk membereskan rumah dan membuat camilan sore untuk sang kakak saat pulang sekolah. Terkadang aku juga beristirahat jika aku sangat lelah, karena  keluhan postpartumku masih sering terasa hingga saat ini. Saat waktu telah menunjukkan pukul empat sore, aku harus bersiap menjemput sang kakak pulang sekolah yang jaraknya hanya tiga ratus meter dari rumah.

Jika cuaca sedang cerah, aku mengajaknya bermain di taman sebelah rumah untuk bermain-main di antara indahnya bunga-bunga musim semi yang bermekaran sembari menikmati cemilan sore.

Sembari menunggu suami pulang kerja, aku mengajak sang kakak untuk kembali bermain dengan adiknya sepulang dari taman. Supaya kecemburuannya memudar dan ia bisa mengungkapkan rasa sayang kepada adiknya. Celoteh dan tawa mereka berdua selalu menguatkanku, hatiku terasa damai, dan saat itulah lelahku musnah. 

Saat suami sudah pulang pukul tujuh sore, saat itulah me-time-ku tiba. Aku mempersiapkan berbuka suami sekaligus makan malam sang kakak—waktu berbuka di sini antara pukul setengah sembilan sampai pukul sembilan malam, sementara suami bermain dengan kedua anak kami agar bonding mereka kuat.

Jika masih ada waktu, aku memanfaatkan waktu untuk sekedar membaca buku atau bermain media sosial hingga waktu berbuka tiba. Aku bersyukur Allah memberiku pasangan hidup yang kooperatif dan suportif. Meskipun suami sangat sibuk dengan tugas-tugasnya, tak jarang ia membantu membereskan rumah dan membiarkanku menikmati waktuku sendiri.

Selepas berbuka puasa, aku dan suami mempersiapkan tidur untuk kedua anak kami. Suami mengajak sang kakak untuk buang air kecil, menggosok gigi, serta cuci tangan dan muka. Sementara aku mengganti popok si bayi, lalu menyusuinya hingga kenyang dan terlelap.

Untuk menutup malam sang kakak, aku mengajaknya ‘pillow talk’ sembari menyusui si bayi; tentang kegiatannya di sekolah, tentang apa yang ia tonton saat screen time bersama ayah, dan atau tentang rencananya esok hari. Sedangkan suami melaksanakan shalat isya beserta tarawih. Masjid terdekat dari apartemen kami berjarak tujuh kilometer, sehingga suami memilih untuk melaksanakan tarawih di rumah sembari menjaga anak-anak. 

Semoga Allah Memberi Keberkahan

Setelah anak-anak sudah terlelap, aku dan suami membereskan beberapa mainan sang kakak yang masih berserakan di beberapa sudut rumah. Terkadang kami juga berdiskusi sejenak mengenai rencana masa depan keluarga kecil kami. 

Tahun ini kami berencana pulang ke kampung halaman. Kerinduanku terhadap suasana desa dan keluarga besarku selalu terngiang-ngiang saat mendengar suara tilawah yang biasa kuputar dari gawai.

Meskipun aku akan pulang saat ramadan dan lebaran telah usai, setidaknya aku bersyukur keadaan di Indonesia sudah lebih baik daripada dua tahun sebelumnya. Sehingga aku dan keluarga kecilku bisa pulang tanpa karantina berhari-hari Jakarta. Tetapi aku juga harus tetap berhati-hati dan menjaga kesehatan agar rencana pulang kampungku terlaksana dengan lancar dan sehat semuanya. 

Begitulah caraku menikmati ramadan tahun ini setiap hari. Meskipun tak bisa melaksanakan puasa dan tarawih karena sedang nifas, merawat keluarga sebaik mungkin adalah caraku mengabdi dan berharap keberkahan pada Allah di bulan suci ini. Lelah? Tentu. Tapi ada harapan besar di balik lelah dan sakitku, yaitu masa depan anak-anak. Agar mereka tumbuh dan berkembang dengan baik hingga menjadi generasi penerus yang hebat dan membahagiakan banyak hati. 

Lalu, kapan aku menulis cerita ini? Aku menulis cerita ini dalam waktu lima hari. Setiap kali ada kesempatan meskipun hanya beberapa menit, aku manfaatkan waktuku untuk belajar kepenulisan dan atau mengetik, mengedit, dan membaca ulang cerita ini; saat menyusui si bayi, saat me-time, atau saat suami dan anak-anak telah terlelap di malam hari. Sebab bagiku, seorang ibu juga harus memiliki dan menikmati dunianya sendiri di luar dunia parenting, agar ia bisa terus berkembang dan bahagia menjalani kehidupannya. 

Apa pun bentuk ibadah yang kita lakukan pada ramadan ini, semoga Allah senantiasa memberi keberkahan hingga kita menjadi insan yang lebih baik dan meraih kemenangan di hari raya nanti. Dan semoga Allah mempertemukan kita pada ramadan selanjutnya. Aamiin. 

 

#WomenforWomen

What's On Fimela
Loading