Sukses

Parenting

Imunisasi Bisa Mencegah Sembilan Penyakit, Apa Saja?

Fimela.com, Jakarta Rencana strategis pemerintah bidang kesehatan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 hingga 2024 berfokus pada upaya preventif untuk mengendalikan kasus penyakit yang banyak terjadi di Indonesia. Salah satu upaya preventif untuk mengendalikan kasus penyakit adalah melalui imunisasi.

Imunisasi merupakan salah satu bentuk pencegahan penyakit yang efektif, mudah, serta murah untuk menghindari terjangkitnya penyakit infeksi, mulai dari anak, orang dewasa hingga orangtua.

Di Indonesia bayi dan balita seyogianya menerima 5 vaksin yang ditujukan untuk mencegah 9 penyakit menular berbahaya. Vaksin ini disediakan di sarana kesehatan pemerintah dan swasta.

Kesembilan penyakit yang diprioritaskan di Indonesia adalah Hepatitis B, Tuberkulosis, Polio, Difteri, Tetanus, Pertusis, Hemofilus influenzae tipe b, Campak, dan Rubela. Semua pihak terus berupaya menambah jumlah penyakit yang bisa diimunisasi namun berbagai kendala dan keterbatasan harus diperhitungkan.

Di seluruh dunia hanya ada 40 penyakit yang memiliki vaksin sebagai upaya pencegahan. Ini terjadi karena membuat vaksin adalah pekerjaan besar dan sulit. Vaksin yang lolos pasti telah melewati berbagai tahap yang tidak ringan.

Lima vaksin untuk kesembilan penyakit yang diberikan saat bayi di Indonesia adalah BCG, Polio tetes dan injeksi, Pentabio (yang berisi DPT‐Hepatitis B‐HiB), dan MR (campak rubela).

“Umur bayi saat vaksin diberikan bervariasi sesuai jenis vaksin. Umur minimal ini perlu dipatuhi, demikian pula dengan jarak antar vaksin,” ujar Prof. Dr. dr. Ismoedijanto, DTM&H., SpA(K), Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang Jawa Timur.

Di Indonesia masih ada beberapa vaksin lain yang tidak diberikan secara masal oleh pemerintah. Vaksin tersebut dapat diperoleh di jalur swasta. Beberapa penyakit yang mempunyai vaksin namun tidak disediakan di sarana pemerintah antara lain adalah: Infeksi Rotavirus, infeksi karena Streptococcus pneumoniae, Influenza, Hepatitis A, Cacar air, Demam tifoid, Mumps/Gondong, Japanese encephalitis, kanker leher rahim, dan Demam Berdarah.

Semua vaksin telah lolos saringan super ketat, melewati tahap yang begitu panjang, dan dibuktikan menyelamatkan banyak nyawa di seluruh dunia. Sekalipun variasi biaya relatif tidak sangat ringan, dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan ketika seseorang sakit, tetap saja biaya imunisasi jauh lebih rendah.

Vaksinasi untuk mencegah hepatitis A Hepatitis

Infeksi hepatitis virus merupakan sebuah fenomena gunung es, dimana penderita yang tercatat atau yang datang ke layanan kesehatan lebih sedikit dari jumlah penderita sesungguhnya. Menurut hasil Riskesdas tahun 2013 bahwa jumlah orang yang didiagnosis Hepatitis di fasilitas pelayanan kesehatan berdasarkan gejala-gejala yang ada, menunjukan peningkatan 2 kali lipat apabila dibandingkan dari data tahun 2007.

Sekitar 1,2% penduduk Indonesia mengidap hepatitis menurut data tahun 2013. Lima provinsi dengan prevalensi hepatitis tertinggi secara berurutan adalah NTT, Papua, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Aceh1,2.

Hepatitis A banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat kita, baik diperkotaan maupun di pedesaan. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kualitas yang mendalam dari Higiene pribadi dan sanitasi lingkungan seperti, higiene perorangan dan higiene penjamah makanan yang rendah, lingkungan yang kumuh, kebersihan tempat-tempat umum (rumah makan, restoran) yang kurang serta perilaku masyarakat yang tidak mendukung untuk hidup sehat.

Infeksi hepatitis A disebabkan oleh virus hepatitis A, dan merupakan penyakit endemis di beberapa negara berkembang. Penularannya melalui sumber penularan umumnya terjadi karena pencemaran air minum, makanan yang tidak dimasak, makanan yang tercemar, sanitasi yang buruk, dan rendah.

Beberapa kejadian luar biasa (KLB) hepatitis A dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Indonesia, misalnya di Bogor (Jawa Barat) pada tahun 1998; Jember dan Bondowoso (Jawa timur) pada tahun 2006; Tangerang pada tahun 2007, Yogyakarta pada tahun 2008 dan Ngawi (Jawa timur) pada tahun 20099. Pada September 2018 KLB Hepatitis A di DIY dilaporkan terjadi pada 50 orang dan Januari 2019 pada 30 orang.

Hepatitis A juga telah menyerang masyarakat Pacitan, Jawa Timur, bahkan Bupati Indartato telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) pada 25 Juni 2019.

Pencegahan lebih baik daripada pengobatan dan dengan pengobatan yang baik berarti melaksanakan pencegahan yang baik pula. Kedua ungkapan ini berlaku juga untuk hepatitis A, dimana kegiatan pencegahan lebih efisien dan tanpa risiko yang membahayakan.

Pencegahannya melalui kebersihan lingkungan, terutama terhadap makanan dan minuman , melakukan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan dengan vaksinasi. Vaksinasi penting dilakukan untuk memberikan perlindungan diri dan mencegah penyebaran.

 

Simak video berikut

#Growfearless with FIMELA

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading