Fimela.com, Jakarta - Perselingkuhan seringkali dipandang sebagai tindakan pengkhianatan emosional dan moral yang menyakitkan. Namun, perspektif ilmiah kini mulai menunjukkan bahwa ketidaksetiaan dapat membawa konsekuensi yang lebih dalam, yaitu perubahan signifikan pada otak. Para ilmuwan telah menyoroti bagaimana perilaku ini bisa memengaruhi kimia otak dan pola perilaku seseorang, memberikan pemahaman baru tentang dampak jangka panjangnya.
Studi-studi terkini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan kimia otak yang jelas antara individu yang terlibat dalam perselingkuhan dan mereka yang setia pada pasangannya. Hal ini membuka diskusi bahwa di balik pilihan moral, ada pula adaptasi neurologis yang terjadi dalam diri seseorang.
Advertisement
Respons Otak Terhadap Romansa dan Komitmen
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3386619/original/058167900_1614236783-couple-is-having-quarrel-while-sitting-sofa-home_85574-14056__3_.jpg)
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam YourTango melakukan perbandingan aktivitas otak antara pria monogami dan non-monogami menggunakan mesin fMRI. Dalam penelitian ini, kedua kelompok pria tersebut diperlihatkan gambar-gambar romantis dan "skandal" untuk mengamati respons neurologis mereka.
Ketika disajikan gambar-gambar yang bersifat romantis, otak pria monogami menunjukkan aktivitas yang menonjol di sisi kanan, termasuk pada korteks orbitofrontal. Area otak ini diketahui memiliki kaitan erat dengan proses pengambilan keputusan.
Menariknya, meskipun respons otak terhadap gambar-gambar lain cenderung serupa di kedua kelompok, perasaan romansa saja yang tampak berbeda pada individu yang mengidentifikasi diri sebagai non-monogami. Hasil penelitian tersebut mengindikasikan bahwa pria monogami memperlihatkan aktivitas saraf yang lebih berkaitan dengan penghargaan saat melihat gambar romantis, dibandingkan dengan pria non-monogami. Ini menunjukkan bahwa pemrosesan saraf terhadap gambar romantis berbeda antara kedua kelompok tersebut.
Desensitisasi Otak Terhadap Kebohongan
Selain perbedaan dalam respons romansa, penelitian lain juga menyoroti bagaimana kebohongan dapat memengaruhi otak. Studi yang diterbitkan di Nature Neuroscience mengungkapkan bahwa kebohongan kecil memiliki efek mendesensitisasi otak terhadap emosi negatif yang terkait. Proses ini secara bertahap dapat mendorong seseorang untuk melontarkan kebohongan yang lebih besar di kemudian hari.
Neil Garrett, seorang peneliti di Princeton Neuroscience dan salah satu penulis studi tersebut, menjelaskan bahwa reaksi emosional terhadap perselingkuhan, seperti perasaan bersalah, merupakan faktor kuat yang biasanya mencegah seseorang untuk tidak setia. Namun, seiring waktu, proses adaptasi dapat mengurangi reaksi emosional ini.
Pengurangan reaksi emosional inilah yang kemudian memungkinkan individu untuk lebih sering terlibat dalam perilaku perselingkuhan. Artinya, semakin sering seseorang berbohong atau berselingkuh, semakin berkurang pula rasa bersalah yang dirasakan, sehingga perilaku tersebut menjadi lebih mudah diulang.
Advertisement
Peran Dopamin dan Sirkuit Penghargaan Otak
Kimia otak, khususnya neurotransmitter seperti dopamin, memegang peranan vital dalam memicu perilaku perselingkuhan. Dopamin, yang terkait dengan sistem penghargaan otak, mendorong individu untuk mencari hal-hal baru dan sensasi yang memuaskan.
Sirkuit penghargaan yang digerakkan oleh dopamin ini bahkan dapat mengesampingkan penilaian dari korteks prefrontal saat terjadi ketidaksetiaan. Ini menjelaskan mengapa seseorang yang mencintai pasangannya masih bisa terlibat dalam perselingkuhan.
Penelitian juga menunjukkan bahwa varian gen DRD4 7R+ menghasilkan reseptor dopamin yang kurang efisien. Kondisi genetik ini membuat individu yang memilikinya hingga 50% lebih mungkin untuk terlibat dalam perilaku seksual tanpa komitmen. Lebih lanjut, nukleus akumbens, area otak yang berkaitan dengan antisipasi penghargaan, menunjukkan aktivitas paling intens selama antisipasi perselingkuhan, bukan saat tindakan itu sendiri. Ini mengindikasikan bahwa otak mendapatkan sensasi dari kemungkinan atau potensi terjadinya perselingkuhan.
Fenomena “Kabut Perselingkuhan” dan Penilaian Kognitif
Dalam konteks perselingkuhan, dikenal fenomena yang disebut “kabut perselingkuhan” atau affair fog. Ini adalah kondisi neurologis terukur di mana kadar dopamin, norepinefrin, dan serotonin yang menipis membajak korteks prefrontal. Akibatnya, terjadi gangguan kognitif yang tingkatnya dapat disamakan dengan keracunan.
Pada kondisi ini, korteks prefrontal, bagian otak yang bertanggung jawab untuk mengevaluasi konsekuensi dan mengatur impuls, menunjukkan penurunan aktivitas. Sebaliknya, pusat penghargaan dan emosi menjadi lebih dominan. Hal ini berarti pasangan yang tidak setia mungkin mengalami kesulitan dalam berpikir jernih, karena kimia otak mereka tidak memungkinkan adanya pemikiran yang rasional dan teratur.
Perubahan neurologis ini menggarisbawahi bahwa perselingkuhan bukan sekadar masalah pilihan moral, melainkan juga melibatkan adaptasi dan perubahan fungsi otak yang kompleks. Memahami aspek neurokimia ini dapat memberikan penjelasan mengapa beberapa individu lebih rentan terhadap ketidaksetiaan dan mengapa pola perselingkuhan terkadang sulit dihentikan. Meskipun pemahaman ilmiah ini tidak membenarkan tindakan perselingkuhan, ia menyoroti kompleksitas di balik perilaku tersebut dan dampak mendalamnya pada individu yang terlibat.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1485100/original/014440300_1517814690-PicsArt_02-04-08.33.43.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3113149/original/022530800_1587974027-jeremy-wong-weddings-464ps_nOflw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5037159/original/051066300_1733394677-arti-mimpi-istri-selingkuh.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3113149/original/022530800_1587974027-jeremy-wong-weddings-464ps_nOflw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5502319/original/091351100_1770976836-20044.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3596497/original/091316400_1633678909-a_href__httpswww.freepik.comphotoscoffee_Coffee_photo_created_by_lookstudio_-_www.freepik.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5160699/original/091862400_1741837825-pexels-rdne-6669850.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5558504/original/066205000_1776421326-Cave_exploration_in_Margaret_River.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5558405/original/023538800_1776417540-family-silhouettes-having-fun-sunset-full-shot_1_.jpg)
![Cara sederhana mengembalikan semangat anak ketika aktivitas di luar ruangan. [Dok/Pexels.com/Kampus Production].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/Ie6UxEYCvIFvx3NQ06TZhW93vqU=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6382474/original/010776200_1779257699-pexels-kampus-8813498.jpg)
![Tidak ada kata terlalu dini untuk mengajarkan anak-anak Anda siapa orang asing dan bagaimana menghindari situasi yang tidak aman. [Dok/Freepik.com/8photo].](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/zFFS7z1fCurpYIUhYs3J-SNgk2Y=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6381971/original/071138000_1779257156-expressive-young-girl-posing.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5558436/original/000952700_1776418431-mother-with-daughter-airport.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6923772/original/013235800_1779694202-pexels-gustavo-fring-4173218.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4205517/original/071517900_1666856136-nicolas-lobos-KTfAuP8gtYM-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6300970/original/028657900_1779175528-pexels-polina-kovaleva-5885513.jpg)
![Secara sederhana, clean eating berarti mengonsumsi makanan utuh (whole foods) yang minim proses. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/mN2lbfc2P-MYKXU9NKopK-vkMvk=/0x0:7360x4148/320x217/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5393112/original/017172700_1761542889-pretty-young-woman-eating-red-cherry-tomato-holding-bowl-mixed-salad-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5930743/original/028326200_1778828329-people-taking-community-action_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5750140/original/060606100_1778650521-high-angle-woman-doing-creative-journaling_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3398986/original/073745900_1615454866-pexels-rachel-claire-4577811.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5558411/original/013851200_1776417859-boy-doing-homework-kitchen_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183122/original/083260200_1744164492-mom-daughter-making-high-five_23-2148500053.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4577158/original/026283000_1694778891-jordan-whitt-KQCXf_zvdaU-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3284093/original/045417700_1604288848-adam-sherez-WMjqzYGoU5w-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5256352/original/092299700_1750234787-Ibu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3912867/original/070770300_1643009764-20220124-Kapolri-raker-dengan-komisi-III-ANGGA-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7589352/original/039823000_1780371556-IMG_2661.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5318034/original/018670100_1755417811-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8315673/original/044637300_1782183156-IMG-20260623-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8269615/original/050039700_1782119988-42284.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8268630/original/093100500_1782118493-WhatsApp_Image_2026-06-22_at_15.52.29.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5558504/original/066205000_1776421326-Cave_exploration_in_Margaret_River.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5370449/original/084339800_1759553110-pvproductions.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2404863/original/052027200_1541823986-photo-1525843164177-5f89f7263e3b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3113149/original/022530800_1587974027-jeremy-wong-weddings-464ps_nOflw-unsplash.jpg)