Review 'Guru Bangsa: Tjokroaminoto', Bagai Kembali ke Masa Lalu

Henry Hens diperbarui 02 Apr 2015, 17:18 WIB

Fimela.com, Jakarta Pemain: Reza Rahadian, Putri Ayudya, Ibnu Jamil, Christine Hakim, Tanta Ginting, Egi Fedly, Chelsea Islan, Maia Estianty, Sujiwo Tejo, Alex Komang, Deva Mahenra, Christoffer Nelwan, Arjan Onderdenwijngaard
Sutradara: Garin Nugroho
Skenario: Ari Syarif, Garin Nugroho, Sabrang Mowo Damar Panuluh & Erik Supit
Durasi: 160 menit

 

Sinopsis:

Setelah lepas dari era tanam paksa di akhir tahun 1800, Hindia Belanda (Indonesia) memasuki babak baru yang berpengaruh ke kehidupan masyarakatnya. Yaitu dengan gerakan Politik Etis yang dilakukan oleh pemerintah Belanda. Tetapi kemiskinan masih banyak terjadi. Rakyat masih banyak yang belum mengenyam pendidikan dan kesenjangan sosial antar etnis dan kasta masih terlihat jelas.

Di saat itulah muncul sosok Raden Oemar Said Tjokroaminoto atau kemudian lebih dikenal dengan Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, yang lahir dari kaum bangsawan Jawa dengan latar belakang keislaman yang kuat. Ia tidak diam saja melihat kondisi tersebut. Walaupun lingkungannya adalah keluarga ningrat yang mempunyai hidup nyaman dibandingkan dengan rakyat kebanyakan saat itu. Hatinya merasa terbelenggu.

Ia berani meninggalkan status kebangsawanannya dan bekerja sebagai kuli pelabuhan untuk merasakan penderitaan sebagai rakyat jelata. Tjokro berjuang dengan membangun organisasi Sarekat Islam, organisasi resmi bumiputera pertama yang terbesar, sehingga bisa mencapai 2 juta anggota. Ia berjuang untuk menyamakan hak dan martabat masyarakat bumiputera di awal 1900 yang terjajah.

Perjuangan ini berbenih menjadi awal-awal lahirnya tokoh dan gerakan kebangsaan. Tak lama setelah menikah dengan Suharsikin, Tjokro pindah ke Surabaya dan dari situlah perjuangannya semakin berkembang. Tjokro yang intelektual, pandai bersiasat, mempunyai banyak keahlian, termasuk jago silat, ahli mesin dan hukum. Ia juga penulis surat kabar yang kritis, orator ulung yang mampu menyihir ribuan orang dari mimbar pidato.

Apa yang dilakukan Tjokro membuat pemerintah Hindia Belanda khawatir. Mereka mulai bertindak untuk menghambat laju gerak Sarekat Islam yang sangat pesat. Perjuangan Tjokro lewat organisasi Sarekat Islam untuk memberikan penyadaran masyarakat, dan mengangkat harkat dan martabat secara bersamaan, juga terancam oleh perpecahan dari dalam organisasi itu sendiri.

Rumah Tjokro di Gang Peneleh, Surabaya, terkenal sebagai tempat bertemunya tokoh-tokoh bangsa Indonesia kelak. Salah satunya adalah Haji Agus Salim yang juga merupakan tokoh pergerakan nasional Indonesia. Di rumah sederhana yang berfungsi sebagai rumah kos yang di bina oleh istrinya, Suharsikin. Tjokro juga mempunyai banyak murid-murid muda yang pada akhirnya mempunyai jalan perjuangannya masing-masing.

Mereka meneruskan cita-cita Tjokro yang mulia untuk mempunyai bangsa yang bermartabat, terdidik, dan sejahtera. Salah satu muridnya di Peneleh adalah Bapak Proklamator Indonesia, Soekarno. Hubungan keduanya cukup dekat, bahkan sempat menjadi keluarga. Soekarno alias Koesno pernah menikah dengan salah satu anak Tjokro, Utari. Tapi perkawinan hanya bertahan selama sekitar dua tahun dan kemudian berpisah.

Saat istrinya menderita sakit, Tjokro tetap berusaha untuk meneruskan perjuangannya meski terancam masuk penjara. Di sisi lain, beberapa murid didiknya seperti Semaoen, Musso dan Kartiwuwiryo membelot dan keluar dari Sarekat Islam dan mendirikan partai baru yang menjadi cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI).

 

Review:

Siapa dan bagaimana perjuangan seorang HOS Tjokroaminoto mungkin belum banyak yang tahu. Seperti pernah dikatakan Reza Rahadian yang memerankan sosok pahlawan nasional itu, kita mungkin hanya tahu namanya dari nama jalan dan disebut sebagai pahlawan pergerakan nasional. Sosok pahlawan yang akrab dipanggil Tjokro ini coba ditampilkan oleh Garin Nugroho lewat film Guru Bangsa: Tjokroaminoto.

Film berdurasi sekitar dua setengah jam ini mengisahkan perjuangan HOS Tjokroaminoto dalam melawan penjajahan, juga perjuangan menyamakan hak dan martabat masyarakat Indonesia yang terjajah. Menurut sang sutradara, film ini merupakan peta kecil penggambaran keadaan Indonesia saat ini. Carut-marut politik, agama, semua tergambar dalam film ini. “Saya berharap film ini bisa menjadi media pembelajaran sejarah dan politik berbangsa yang bisa meningkatkan kesadaran masyarakat akan kondisi Indonesia, sekaligus untuk mengingat kontribusi pahlawan yang membawa Indonesia ke masa yang lebih mudah seperti sekarang ini," jelas Garin.

Film Guru Bangsa Tjokroaminoto yang berlatar zaman penjajahan, membahas spesifik tentang Tjokro yang terlahir dari kaum bangsawan Jawa dengan latar belakang Islam yang kuat. Dia berjuang bersama Haji Samanhudi untuk mengubah Sarekat Dagang Islam menjadi Sarekat Islam. Dilema, suka, dan duka tergambar dari sosok personal Tjokro yang diperankan oleh Reza Rahadian.

Dalam kepemimpinannya, Tjokro berhasil mengajak rakyat kecil, yang sebelumnya tidak memiliki akses ke dunia politik, kini dapat berpartisipasi melalui Sarekat Islam. Film ini juga menggambarkan kehidupan Tjokro dengan istri dan anak-anaknya. Bagaimana ketika sang istri, Soeharsikin (Putri Ayudya), selalu mendampingi Tjokro dalam suka dan duka hingga akhir hayatnya.

Selain itu, diceritakan bagaimana Tjokroaminoto tumbuh menjadi guru dari para pemimpin pergerakkan seperti Soekarno, Semaoen, Alimin, dan Musso. Film Guru Bangsa Tjokroaminoto diproduseri oleh lima orang sekaligus. Mereka adalah Christine Hakim, Didi Petet, Dewi Umaya, Sabrang Mowo Damar Panuluh alias Noey ‘Letto’, Nayaka Untara dan (Alm) Ari Syarif. 

Sederet bintang tenar baik yang muda maupun senior ikut memperkuat jajaran pemain. Ada Sudjiwo Tedjo, Maia Estianty, (Alm) Alex Komang, Egi Fedly, Ibnu Jamil, Christoffer Nelwan, Putri Ayudya, Deva Mahenra, dan Chelsea Islan. Kelompok teater terbaik dari Yogyakarta dan Surabaya juga turut memberi warna pada film ini. Film bergenre drama biopic ini lahir berkat dukungan penuh Yayasan HOS Tjokroaminoto dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Film ini juga menggandeng rumah produksi Pic[k]Lock untuk proses produksinya. Kota-kota bersejarah seperti Ambarawa, Semarang, dan Yogyakarta ditampilkan untuk menghidupkan kembali suasana kota lama, lengkap dengan trem dan mobil-mobil pada masa itu. Nah, ini yang menjadi kelebihan utama film ini. Secara alur dan ritme cerita, Guru Bangsa: Tjokroaminoto terasa agak lambat dan panjang. Berbeda dengan Soekarno dan Sang Kiai, yang alurnya cukup cepat dan mencapai klimaks di akhir film.

Dengan durasi yang cukup lama, mungkin film ini terkesan dipanjangkan dan agak membosankan bagi sebagian penonton. Tapi hal itu terasa wajar saja karena ada banyak tokoh-tokoh penting yang ditampilkan yang berhubungan dengan perjuangan Tjokoroaminoto. Karena itulah, beliau disebut sebagai Guru Bangsa sesuai dengan judul filmnya. Di luar itu, acungan jempol pantas disematkan pada Garin Nugroho dan timnya.

Secara visual dan artistiks, Guru Bangsa: Tjokroaminoto sangat menarik. Kita benar-benar seperti dibawa kembali ke masa lalu. Detil properti diperhatikan dengan sangat baik dan digarap dengan serius. Para pemain juga tampil bagus sesuai dengan porsi mereka masing-masing. Reza Rahadian memang tidak sefenomenal seperti di Habibie & Ainun tapi setidaknya ia bisa membuat kita mengenal seperti apa sosok Tjokroaminoto baik sebagai pejuang maupun kepala keluarga.

Yang menarik, Reza bernyanyi bersama Putri Ayudya untuk mengisi salah satu soundtrack Guru Bangsa: Tjokroaminoto. Membawakan lagu ‘Terang Bulan’ ternyata suara Reza merdu juga, lho. Nah, kalau ingin mengenal sosok HOS Tjokroaminoto yang mungkin hanya kita kenal sebagai nama jalan di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, tonton saja Guru Bangsa: Tjokroaminoto yang mulai diputar di bioskop pada 9 April mendatang.

 

Foto-foto Adegan

Reza Rahadian berperan sebagai HOS Tjokroaminoto salah seorang pahlawan pergerakan nasional.

 

 HOS Tjokoroaminoto mendirikan Sarekat Islam yang anggotanya berasal dari berbagai suku dan golongan.

 

Sisi lain HOS Tjokroaminoto sebagai suami yang hangat sedang bernyanyi bersama istrinya. Suara Reza Rahadian ternyata bagus juga.

 

Kalau ingin mengetahui perjuangan HOS Tjokroaminoto, tonton film Guru Bangsa: Tjokroaminoto yang disutradarai Garin Nugroho.

 

Trailer 'Guru Bangsa: Tjokroaminoto'