Sukses

FimelaMom

Menyusui Bisa Jadi Kunci Kurangi Risiko Depresi Pascapersalinan, Ini Kata Studi

ringkasan

  • Menyusui, terutama eksklusif dan durasi panjang, dikaitkan dengan risiko depresi pascapersalinan (PPD) yang lebih rendah.
  • Pelepasan hormon seperti oksitosin, peningkatan ikatan ibu-bayi, dan rasa percaya diri berkontribusi pada manfaat menyusui terhadap kesehatan mental ibu.
  • Dukungan komprehensif bagi ibu menyusui sangat penting, mengingat kompleksitas hubungan dua arah antara menyusui dan PPD, serta manfaat jangka panjangnya.

Fimela.com, Jakarta - Depresi pascapersalinan (PPD) merupakan isu kesehatan mental yang serius dan memengaruhi banyak perempuan di seluruh dunia. Di Amerika Serikat saja, menurut data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 11 hingga 20 persen ibu baru mengalami gejala PPD setiap tahunnya. Angka ini setara dengan hampir 800.000 perempuan, mengingat ada sekitar 4 juta kelahiran setiap tahun. PPD sendiri menjadi faktor risiko utama untuk bunuh diri ibu dan pembunuhan bayi, serta dapat muncul kapan saja dalam setahun pertama setelah melahirkan. Gejalanya pun lebih intens dan bertahan lebih lama dibandingkan 'baby blues' yang umumnya mereda dalam 10 hari pertama.

Kabar baiknya, berbagai penelitian kini menyoroti potensi menyusui sebagai perisai alami yang dapat membantu mengurangi risiko depresi pascapersalinan. Hubungan antara menyusui dan kesehatan mental ibu ini semakin banyak dipelajari, menawarkan harapan dan pemahaman lebih dalam bagi para ibu baru.

Menyusui: Potensi Perisai Alami dari Depresi Pascapersalinan

Banyak studi telah mengindikasikan bahwa menyusui berpotensi signifikan dalam menurunkan risiko seorang perempuan mengalami PPD. Sebuah penelitian besar yang melibatkan 29.685 perempuan di Amerika Serikat menemukan bahwa ibu yang menyusui saat data dikumpulkan memiliki risiko PPD yang secara statistik lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak menyusui.

Studi yang sama juga menyoroti adanya hubungan terbalik antara durasi menyusui dengan risiko PPD. Artinya, semakin lama seorang ibu menyusui, semakin menurun pula kemungkinan ia mengalami depresi pascapersalinan. Penelitian lain bahkan menunjukkan bahwa menyusui eksklusif secara spesifik terkait dengan kemungkinan PPD yang lebih rendah. Ibu yang memberikan susu formula atau kombinasi ASI dan formula, memiliki kemungkinan dua kali lebih besar untuk melaporkan gejala PPD dibandingkan mereka yang menyusui eksklusif pada usia bayi satu dan tiga bulan.

Tinjauan sistematis dan meta-analisis, meski sebagian besar didasarkan pada studi di luar AS, juga melaporkan risiko PPD yang lebih rendah di antara ibu yang menyusui eksklusif. Perkiraan efeknya bervariasi, menunjukkan kemungkinan PPD 8% hingga 53% lebih rendah dibandingkan ibu yang menyusui sebagian atau tidak pernah menyusui. 

Hormon dan Ikatan: Mekanisme di Balik Manfaat Menyusui

Lalu, bagaimana menyusui bisa memberikan efek perlindungan ini? Ada beberapa mekanisme psikologis dan fisiologis yang berperan penting:

  • Pelepasan Hormon Bahagia. Saat menyusui, tubuh ibu melepaskan hormon prolaktin dan oksitosin. Oksitosin, sering disebut 'hormon cinta', menciptakan perasaan damai dan keibuan, membantu ibu rileks dan fokus pada bayinya. Hormon ini juga meningkatkan rasa cinta dan keterikatan yang kuat antara ibu dan bayi. Pergeseran hormonal yang berulang ini juga membantu tubuh mengelola kortisol, hormon stres utama.
  • Pengurangan Stres dan Kecemasan. Menyusui terbukti membantu mengurangi tingkat stres, kecemasan, dan depresi pascapersalinan. Ibu menyusui cenderung memiliki tingkat hormon stres yang lebih rendah, seperti norepinefrin basal, serta penurunan signifikan pada hormon adrenokortikotropik (ACTH) dan glukokortikoid kortisol yang terkait dengan respons 'fight or flight'.
  • Kualitas Tidur Lebih Baik. Ibu yang menyusui eksklusif seringkali merasa lebih mudah tertidur, tidur lebih lama, dan tidur lebih nyenyak. Hal ini tentu berkontribusi pada kesejahteraan mental mereka.
  • Peningkatan Efikasi Diri. Kemampuan untuk menyusui dapat meningkatkan kepercayaan diri seorang ibu dalam kemampuannya merawat bayinya. Rasa kompeten ini menjadi faktor penting dalam menurunkan risiko PPD.
  • Ikatan Ibu-Bayi yang Kuat. Menyusui menciptakan ikatan emosional yang erat melalui kontak kulit-ke-kulit, sentuhan, dan belaian yang intens. Ikatan yang kuat ini secara signifikan mengurangi kemungkinan PPD. Kontak kulit-ke-kulit pada hari-hari pertama setelah melahirkan juga terbukti memengaruhi fungsi neuroendokrin ibu secara positif, yang mengatur pertumbuhan, metabolisme, dan respons stres.

Tantangan dan Dukungan: Memahami Kompleksitas Hubungan Menyusui-PPD

Meskipun menyusui menawarkan banyak manfaat, penting untuk memahami bahwa hubungan antara menyusui dan PPD bersifat dua arah. Artinya, menyusui memang dapat mengurangi insiden PPD, namun depresi juga bisa menyebabkan penghentian menyusui lebih awal. Perempuan yang mengalami depresi mungkin kesulitan memulai dan mempertahankan proses menyusui, dan sebaliknya, kesulitan dalam menyusui justru dapat memicu depresi.

Ibu yang menghadapi tantangan menyusui, seperti nyeri, pasokan ASI rendah, atau kesulitan mencapai tujuan menyusui mereka, mungkin merasa bersalah, malu, atau merasa gagal. Perasaan ini dapat memicu depresi atau kecemasan. Kesulitan menyusui bisa menjadi pemicu stres utama yang membuat ibu merasa tidak kompeten dalam peran barunya. Sebuah studi bahkan menunjukkan bahwa PPD jauh lebih mungkin terjadi pada perempuan yang berhenti menyusui karena masalah (misalnya, infeksi payudara, produksi ASI rendah) dibandingkan mereka yang berhenti karena alasan lain.

Menariknya, niat menyusui juga berperan. Bagi perempuan yang tidak depresi selama kehamilan, risiko PPD terendah ditemukan pada mereka yang berencana menyusui dan berhasil melakukannya. Risiko tertinggi justru ada pada mereka yang berencana menyusui tetapi gagal. Bahkan, risiko PPD juga lebih tinggi pada perempuan yang awalnya tidak berniat menyusui tetapi akhirnya melakukannya setelah bayi lahir. Hal ini menunjukkan pentingnya dukungan dan persiapan yang matang.

Manfaat Jangka Panjang Menyusui untuk Kesehatan Mental

Tak hanya manfaat jangka pendek, sebuah studi baru yang diterbitkan dalam British Medical Journal (BMJ) menunjukkan bahwa menyusui dapat memberikan perlindungan jangka panjang terhadap depresi dan kecemasan bagi ibu. Penelitian ini menemukan bahwa ibu yang menyusui memiliki risiko depresi dan kecemasan yang lebih rendah bahkan hingga 10 tahun setelah melahirkan.

Semakin lama durasi menyusui, semakin kuat pula perlindungan tersebut, terutama bagi mereka yang menyusui selama enam bulan atau lebih. Setiap minggu tambahan menyusui eksklusif dikaitkan dengan penurunan 2% kemungkinan depresi/kecemasan satu dekade kemudian. Manfaat ini tetap konsisten bahkan setelah peneliti menyesuaikan faktor-faktor lain seperti pendidikan ibu, pendapatan keluarga, kebiasaan merokok, dan riwayat kesehatan mental ibu sebelum penelitian. Proses menyusui tampaknya membantu mengatur sistem saraf ibu dengan cara yang memberikan ketahanan jangka panjang.

Pentingnya Dukungan Komprehensif untuk Ibu Baru

Mengingat kompleksitas ini, penyedia layanan kesehatan memiliki peran krusial. Mereka harus segera mengatasi depresi ibu dan membantu mereka mencapai tujuan menyusui mereka. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan dokter anak untuk melakukan skrining PPD pada ibu baru pada kunjungan bayi sehat usia 1, 2, 4, dan 6 bulan.

Jika menyusui membantu ibu menjalin ikatan dengan bayinya, maka perawatan PPD harus berpusat pada perlindungan hubungan menyusui tersebut. Namun, jika menyusui justru berkontribusi pada gejala PPD seorang ibu, ia tidak boleh merasa bersalah jika memilih untuk mencari bentuk pemberian makan alternatif. Penting juga diketahui bahwa banyak obat antidepresan aman digunakan saat menyusui.

Dukungan yang kuat untuk ibu yang memilih menyusui sangatlah penting. Intervensi dini dan dukungan yang memadai dapat meningkatkan tingkat dan durasi menyusui, mengurangi stres, serta membangun rasa kompetensi yang lebih kuat. Semua ini dapat membantu mengurangi risiko PPD. Dukungan di rumah dari anggota keluarga, doula pascapersalinan, atau perawat kunjungan juga dapat sangat bermanfaat untuk mendukung tujuan pemberian makan dan kesejahteraan ibu secara keseluruhan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading