Sukses

FimelaMom

Mengapa Hampir 2/3 Ibu Baru Merasa Kelelahan Sepanjang Waktu?

ringkasan

  • Kelelahan ekstrem pada ibu baru disebabkan oleh kombinasi kompleks kurang tidur, pemulihan fisik, dan fluktuasi hormon pascapersalinan.
  • Beban mental yang tinggi dan tuntutan menyusui menambah tingkat kelelahan, menguras energi fisik dan mental ibu secara signifikan.
  • Kondisi seperti depresi pascapersalinan dan perubahan otak pascapersalinan juga berkontribusi pada kelelahan, membutuhkan pemahaman dan dukungan yang lebih luas.

Fimela.com, Jakarta - Menjadi seorang ibu adalah perjalanan yang penuh kebahagiaan, namun tak jarang juga diiringi dengan tantangan. Salah satu tantangan terbesar yang sering dialami adalah kelelahan ekstrem, atau yang dikenal dengan postpartum fatigue. Kondisi ini sangat umum, bahkan hampir dua pertiga ibu baru mengalaminya.

Kelelahan pascapersalinan ditandai dengan rasa lelah luar biasa yang menguras fisik dan emosi, membuat ibu kekurangan energi, serta sulit berkonsentrasi. Banyak faktor yang berkontribusi pada kondisi ini, mulai dari perubahan fisik, hormonal, hingga tuntutan emosional dan mental yang kompleks.

Untuk Sahabat Fimela yang sedang berada dalam fase ini atau akan menghadapinya, memahami penyebab di balik kelelahan ini sangatlah penting. Mari kita telusuri lebih dalam berbagai alasan mengapa ibu baru sering merasa kelelahan sepanjang waktu.

Kurang Tidur dan Tidur yang Terfragmentasi: Musuh Utama Ibu Baru

Bayi baru lahir membutuhkan perhatian tanpa henti, termasuk menyusu setiap satu atau dua jam, yang membuat tidur ibu menjadi terfragmentasi. Tidur yang terganggu ini kurang restoratif dan tidak memberikan istirahat yang cukup bagi tubuh.

Kelelahan yang dirasakan ibu baru bukan hanya karena kurang tidur secara total, melainkan lebih karena hilangnya tidur yang tidak terganggu. Bahkan ketika ibu berhasil mendapatkan jam tidur yang cukup, gangguan yang sering terjadi mencegah tubuh mereka untuk benar-benar beristirahat.

Kelelahan tidur ini dapat berlanjut selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun setelah melahirkan. Sebuah studi menunjukkan bahwa ibu baru masih mengalami tingkat kantuk yang signifikan secara medis bahkan setelah 18 minggu.

Pemulihan Fisik Pascapersalinan: Perjuangan Tubuh yang Tak Terlihat

Proses persalinan, baik pervaginam maupun operasi caesar, sangatlah melelahkan. Tubuh ibu mengalami banyak perubahan dan membutuhkan waktu untuk pulih dari tantangan fisik kehamilan dan persalinan.

Setelah melahirkan, volume darah ibu akan menurun selama delapan minggu, dan fungsi ginjal membutuhkan waktu untuk kembali normal. Ligamen, otot, dan sendi juga memerlukan waktu hingga satu tahun untuk pulih dan stabil kembali. Semua proses pemulihan ini membutuhkan energi yang besar dari tubuh.

Meskipun periode pemulihan pascapersalinan umumnya dianggap enam hingga delapan minggu, beberapa ahli percaya pemulihan bisa berlangsung enam bulan hingga satu tahun.

Fluktuasi Hormonal dan Beban Mental: Kombinasi Melelahkan

Setelah melahirkan, terjadi penurunan drastis hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh. Perubahan hormonal ini dapat menyebabkan perubahan suasana hati, kelelahan, dan kesulitan tidur.

Hormon tiroid juga dapat menurun tajam, menyebabkan ibu merasa lelah, lesu, dan depresi. Selain itu, hormon prolaktin yang penting untuk produksi ASI, juga dapat membuat ibu merasa mengantuk.

Ibu baru seringkali memikul beban mental yang besar, yaitu pekerjaan "di balik layar" yang memastikan rumah tangga berjalan lancar. Beban ini mencakup perencanaan, pengorganisasian, antisipasi kebutuhan, dan pemeliharaan hubungan dalam keluarga.

Tuntutan kognitif dan emosional dari beban mental ini, seperti merencanakan makanan, membuat daftar belanja, dan mengelola emosi anak, dapat menyebabkan stres, kecemasan, kelelahan, dan bahkan depresi.

Menyusui dan Nutrisi: Energi Ekstra yang Terkuras

Produksi ASI membutuhkan banyak energi tubuh dan membakar sekitar 400 hingga 500 kalori ekstra per hari. Tuntutan menyusui bayi baru lahir setiap dua hingga tiga jam sepanjang waktu dapat membuat ibu merasa sangat lelah.

Hormon prolaktin, yang merangsang produksi susu, juga dapat menyebabkan rasa kantuk, menambah daftar penyebab kelelahan ibu baru.

Kekurangan nutrisi juga berperan penting dalam kelelahan pascapersalinan. Anemia, terutama jika ibu mengalami pendarahan setelah melahirkan, dapat berkontribusi pada kelelahan. Kekurangan zat besi dan dehidrasi juga merupakan faktor penyebab kelelahan yang signifikan.

Depresi Pascapersalinan dan Perubahan Otak: Lebih dari Sekadar Lelah

Kelelahan ekstrem adalah salah satu gejala depresi pascapersalinan (PPD), bersama dengan perasaan sedih yang mendalam, kecemasan, perubahan suasana hati yang parah, dan kesulitan berinteraksi dengan bayi.

Kurang tidur dapat memperburuk gejala PPD, dan hubungan antara keduanya kemungkinan bersifat dua arah. Penting untuk membedakan PPD dari "baby blues" yang lebih ringan dan biasanya hilang dalam dua minggu. PPD lebih intens dan membutuhkan perawatan medis.

Otak ibu mengalami banyak perubahan selama kehamilan dan setelah melahirkan, yang dapat memengaruhi kognisi dan menyebabkan kesulitan berkonsentrasi. Gejala seperti kelelahan, kewalahan, kecemasan, suasana hati yang rendah, dan kesulitan tidur sering disebut sebagai "baby brain".

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading