Fimela.com, Jakarta Natal tahun ini kian istimewa bagi segelintir gadis asal Chibok, Afrika. Bukan tanpa sebab, peringatan anual ini jadi yang pertama dirayakan kembali bersama keluarga setelah, berdasarkan laporan BBC, mereka diculik sepulang sekolah sejak April, dua tahun silam.
Gadis-gadis ini dibebaskan sejak akhir Oktober selepas negosiasi berlangsung antara Switzerland and the International Red Cross dengan kelompok ekstremis Islam, Boko Haram. Sejak itu, mereka yang berjumlah 21 orang tersebut ditempatkan di lokasi rahasia untuk membantu investigasi pemerintah Nigeria.
Salah satu gadis, Asabe Goni (22), memberitahu Reuters, kepulangannya adalah keajaiban. Membantu sang ibu mempersiapkan kebutuhan Natal, ia mengaku bersemangat pergi ke gereja. "Aku tak pernah menyangka aku akan pulang ke rumah," katanya singkat.
Ketika diculik, Goni mengatakan sempat putus asa dan pasrah jika tak bisa pulang. "Aku sudah menyerah pada harapan bisa pulang," sambungnya. Sebagaimana diwartakan BBC, dari 276 pelajar yang diduga diculik, 197 di antaranya masih dilaporkan hilang. Hingga kini, proses negosiasi dengan Boko Haram masih terus dilakukan.
Korban penculikan tersebut, di mana terdapat banyak gadis asal Chibok yang nasrani, dipaksa berpindah agama dan menikahi penculik mereka. Berdasarkan keterangan Goni, mereka yang menolak untuk menikah akan disiksa. Namun bagi Goni, penggalan itu hanya kisah masa silam. Kini ia bisa merasakan kebahagiaan Natal sambil berkumpul bersama keluarga.