Fimela.com, Jakarta Setiap makhluk, katanya, tercipta berpasangan. Tak perlu membahas soal yang sesama atau 'menyimpang' menurut definisi apa pun. Karena pada dasarnya, masalah yang timbul seputar pencitntaan adalah sama. Parahnya, tak peduli sesulit apa pun kamu membuat masalah ini menjadi simpel, akan selalu ada hal yang merumitkan.
Ada orang yang ingin cepat-cepat menikah. Ada juga mereka yang masih sibuk dengan karier dan persahabatan. Di antara mereka, ada juga beberapa orang yang memilih untuk tidak ingin menikah. Bukan, bukan karena tak laku dan tak ada yang menyukai.
Tapi status hubungan seseorang merupakan urusan pribadi. Salah satu teman saya, usianya sudah 26 tahun. Dia perempuan, anak pertama, dan punya tiga adik yang masih menuntut ilmu. Satu di antara adik-adiknya, kuliah di Kuala Lumpur, Malaysia, tanpa beasiswa.
Teman saya yang tak perlu disebutkan namanya ini, perannya banyak dalam hidup. Kalau sebagian orang yang masih single memerankan peran anak, teman, dan saudara, teman saya punya segudang peran. Dia ayah dan ibu bagi adik-adiknya. Tentu saja dia abang sekaligus kakak perempuan yang penuh kasih sayang, tapi tak segan 'menghajar' adik-adiknya yang kadang malas untuk bekerja keras.
Dia juga sahabat yang baik. Dia guru dari murid-murid les bahasa Mandarinnya. Dia juga karyawan di sebuah perusahaan di Ibu Kota. Karena bemata sipit dan memang keturunan Tionghoa, dia juga cici bagi teman-teman sekantornya, meski ada beberapa di antara rekan kerja yang usianya lebih tua darinya. Peran yang terlihat oleh kedua mata saya saja sudah banyak. apa lagi peran-peran lain yang dia 'mainkan' di depan teman SMA dan SMP-nya.
Tapi di antara peran-peran tersebut, tak ada peran sebagai pasangan. Bukan karena dia aseksual. Bukan juga karena tak laku lantaran wajahnya terlalu kaku. Maklum, pengalaman membesarkan adik-adiknya selama 5 tahun ini telah menempanya untuk menjadi tangguh. Maka tak heran asam-manis kehidupan terlihat jelas pada raut dan setiap ekspresinya.
Suatua hari, kami bertemu di pusat perbelanjaan tanpa sengaja. Kami lantas memutuskan untuk mengobrol sedikit, di sela waktu kami yang sempit. Bukan bermaksud untuk mengeluh atas seluruh beban yang dia tanggung selama beberapa tahun ini.
Tapi lebih kepada kejenuhannya mendengar hampir semua orang yang dia kenal mempermasalahkan statusnya yang masih saja lajang sejak bertahun-tahun lalu. Saya yang baru mengenalnya selama satu tahun terakhir pun akhirnya tergelitik untuk bertanya, meski saya tahu, ini bukan urusan siapa pun, apa lagi urusan saya.
Soal Status, Tak Butuh Campur Tangan
"Memangnya, sudah berapa lama kamu sendiri? Enggak mau pacaran atau enggak mau nikah?" saya bertanya. Dia menjawab dengan menggebu-gebu. Begitu panjang. Begitu rumit. Seakan menjawab semua pertanyaannya ditanyakan setiap orang soal kelajangannya, dia mengungkapkan semua alasan yang selama ini dia pendam.
Dia memilih untuk menjadi lajang. Bukan karena tak ada yang mau, atau tak laku lantaran terlalu galak sebagai kaum Hawa. Tapi, menjalani kehidupan yang sangat sibuk; bekerja untuk pendidikan adik-adiknya, untuk sesuap nasi dan well, segeleas bir dingin setiap Jumat malam, mendidik murid-muridnya seperti mendidik anak dan adik-adiknya, rasanya sudah cukup sulit.
Hidup dengan begitu banyak peran saja sudah membuatnya ngos-ngosan. Maka dia memutuskan, untuk saat ini, tak ingin menjalin kasih dengan seorang pria mana pun. Tapi sayangnya, tak banyak orang yang paham. Bukan memahami alasan di balik "kenapa belum punya pacar atau menikah?"Tapi mengerti, kalau menjadi lajang adalah pilihan yang dia pilih sendiri. Dia bertanggung jawab. Dia tahu betul atas pilihannya.
Semakin tenggelam dalam kisah yang dia tuturkan, semakin tersedot ingatan saya pada kejadian bebeapa bulan belakangan. Saya telah menjalin hubungan beberapa kali. Tapi tidak ada yang berhasil. Tanpa menghakimi siapa yang salah, saya akhirnya mengobati sendiri luka yang masih menganga.
Meski tak ada desakan dari kedua orangtua, ada beberapa teman dan anggota keluarga besar berusaha memasuki ranah pribadi saya. Mendesak saya untuk memacari pria A, B, atau C. Saya mungkin hanya diam. Tapi saya tidak tahu kapan kemarahan akan memuncak.
Karena ranah pribadi manusia bukan hanya payudara, vagina, dan penis. Tapi juga perasaan, pemikiran yang dalam, dan kepercayaan. Memilih untuk hidup dengan siapa, menjalin cinta atau tidak, bukan urusan siapa pun. Lagi pula ini pilihan. Saya percaya satu aturan dalam hidup. Sebuah pilihan yang diambil akan menuntut tanggung jawab kepada orang memutuskan pilihan tersebut. Bukan mereka yang mendorong seseorang untuk mengambil pilihan itu sendiri.
Mungkin saya mengerti ini karena saya pernah ada di posisinya beberapa bulan lalu. Kami percaya, cinta akan datang tanpa menuntut kesiapan. Kalau kamu mau, kamu bisa punya pasangan. Tapi kalau belum siap, jangan paksakan. Jangan paksa kami untuk menjalin hubungan hanya untuk menyenangkan keluarga, teman, dan pihak lain yang tak ada urusannya dengan masa depan yang sedang kamu ciptakan.
Editor Feed,
Karla Farhana