Fakta Kejam di Balik Pertunjukan Hewan Penghibur Turis

Asnida RianiDiterbitkan 17 Maret 2017, 13:28 WIB

Fimela.com, Jakarta Seperti sudah membudaya, pelancong pergi ke Thailand untuk berfoto bersama si kucing besar di Tiger Temple, pelesiran ke Maroko dan melihat monyet berpakaian, serta berpose dengan buaya di penangkaran di Vietnam. Siapa sangka bila gagasan 'sederhana' ini ternyata menyimpan kisah pahit.

"Bila kamu berfoto dengan harimau, bayangkan mereka harus dirantai seharian dan diseret ke kandang di malam hari. Padahal seharusnya harimau-harimau itu dibiarkan bebas di alam liar. Untuk mendapatkan foto sekali seumur hidup mungkin kamu harus mengorbankan hidup hewan-hewan tersebut," kata Chiara Vitali, campaign manager World Animal Protection, seperti dimuat independent.co.uk.

Selain itu, sambung Vitali, ditemukan sejumlah kekerasan di balik keberadaan atraksi-atraksi macam itu. "Ironisnya adalah mereka yang biasa mengambil foto adalah para pecinta binatang," ujarnya. Belum lagi berbicara soal hewan-hewan yang dimanfaatkan sebagai bisnis.

Belakangan, menaiki gajah tengah jadi sorotan. Telah banyak kecaman akan penawaran traveling macam itu. "Setidaknya terdapat 110 juta orang yang tertarik berkunjung lantaran bisa naik gajah atau berfoto dengan hewan buas," tutur Vitali.

Menyikapi budaya traveling yang mestinya tak dilanjutkan, sejumlah perusahaan perjalanan sudah mengganti atraksi seperti naik gajah atau berfoto bersama harimau dengan lebih memperhatikan gerak gerik mereka tanpa melakukan kontak. Selain itu, masih banyak tawaran atraksi yang lebih ramah binatang. Jangan lupa melakukan riset kecil sebelum pergi dan pastikan apa yang kamu lakukan selama perjalanan tak berdampak buruk.