Kemarahan Cowok yang Harus Kamu Waspadai

fitriandiani diperbarui 21 Jun 2017, 14:20 WIB

Fimela.com, Jakarta Sedikit pertengkaran dalam hubungan merupakan hal yang wajar, bahkan diperlukan sebagai 'bumbu penyedap' yang membuat hubungan terasa lebih nikmat. Tapi, seperti apa pertengkaran itu dilakukan juga sangat mempengaruhi hubunganmu.

Namanya juga manusia, pasti ada salahnya, ada khilafnya. Ada masanya kita yang melakukan itu dan berharap pasangan kita dapat memaklumi. Apa masanya pula pasangan kita yang demikian dan berharap pemakluman kita. Menjalin hubungan itu butuh 'saling'.

Marah, wajar saja jika memang kesalahan yang terjadi agak keterlaluan. Tapi tidak semua kemarahan perlu diluapkan, terutama dalam hubungan. Sebagai pasangan, kamu dan dia lebih perlu pengertian dan kesabaran dibanding ungkapan kemarahan. Jika ada masalah, coba dibicarakan. Diskusikan langsung dengannya tentang apa yang salah menurutmu dan bagaimana seharusnya. Dengarkan juga apa yang dia mau dan bagaimana yang dia bisa. Menjalin hubungan itu tentang berkompromi, meski ada waktunya juga kemarahan itu meluap.

Kemarahan adalah sebuah hal yang wajar dimiliki manusia. Sebagai makhluk yang punya nurani, marah itu bagian dari emosi yang bisa kita rasakan. Meski begitu, bukan berarti semua bentuk kemarahan perlu ditolerir dengan dalih "wajar, namanya juga manusia, pasti bisa marah" ya, girls

Ada jenis-jenis eksresi kemarahan yang sebaiknya tidak kamu tolerir agar tidak terus menerus terjadi, dan kamu harus pahami itu!

5 Bentuk Kemarahan Cowok yang Harus Kamu Waspadai

1. Marah yang menyudutkanmu tanpa sedikit pun memberi waktu untuk kamu memberi penjelasan menurut versimu. Ingat, menjalin hubungan itu tentang saling. Meski dalam marah, kamu dan dia tetap harus 'saling' mendengar. Bukan hanya kamu yang mendengarkan kemarahannya. Dia harus bisa dan mau mendengarkan kamu.

2. Marah yang meluap-luap dengan kata-kata kasar tak tersaring. Hmm, meluapkan kemarahan kepada pasangan itu bukan sesuatu yang perlu ditolerir. Kalau sekali dia melakukannya, mungkin kamu atau dia bisa bilang itu khilaf. Tapi kamu harus langsung menegurnya dan menyadarkan dia bahwa itu salah, agar tidak terulang lagi di kesempatan lain. Kalau terulang lagi, berarti itu kebiasaannya.

3. Marah yang meninggalkanmu begitu saja, lalu nanti kembali seakan tidak ada apa-apa. Kalau secara langsung, dia tak segan beranjak pergi darimu meski belum selesai, atau jika di chat dia memilih langsung mengabaikanmu, bahkan memblokir kontakmu. Dia meninggalkanmu galau sendirian, bertanya-tanya apa yang terjadi dan harus bagaimana dia agar bisa memperbaiki keadaan itu. Lalu kemudian, dia bisa saja tiba-tiba datang seakan tidak ada masalah apa-apa. Permasalahan itu takkan terselesaikan, dan sikap diam lalu tiba-tiba muncul seperti itu hanya menunjukkan dia tidak menghargaimu.

4. Marah yang dengan mudahnya langsung bilang putus. Marah dikit, bilang putus. Berantem dikit, bilang putus. Lama-lama kamu dan dia jadi tidak bisa membedakan mana masalah yang benar-benar serius, mana yang hanya dibesar-besarkan. Harusnya, kata putus itu hanya diucap kalau dia benar-benar menginginkannya, bukan hanya untuk mengancam. Gampang bilang putus juga pertanda dia tidak menghargai.

5. Marah yang tak segan main tangan. Meski yang jadi sasarannya adalah benda-benda di sekitarmu, bukan tidak mungkin kalau lain waktu, kamu lah yang akan jadi sasarannya. Duh, ini sudah di level terparah. Kalau pacarmu begini, lebih baik tinggalkan saja, girls! Seseorang yang 'ringan tangan' itu bukan piihan yang baik untuk jadi pacarmu, apalagi suamimu. 

Kemarahan-kemarahan yang berlebihan dalam hubungan adalah bibit-bibit terbentuknya abusive relationship. Sebelum kamu benar-benar terjebak di dalamnya, lebih baik kamu bertindak untuk mengakhirinya.

What's On Fimela