Adrian Maulana: Bersahabat dengan Risiko

Gadis Abdul diperbarui 07 Feb 2018, 20:16 WIB

Fimela.com, Jakarta Halo, apa kabar? Semoga semua dalam keadaan sehat. Saya baru sembuh dari sakit setelah beberapa hari yang lalu demam tinggi sampai harus dua kali masuk UGD (Unit Gawat Darurat) rumah sakit di Jakarta dan Bandung untuk mendapatkan infus. Mungkin akibat jam makan yang kurang disiplin dan istirahat yang kurang teratur. Tapi, alhamdulillah setelah istirahat total selama 2,5 hari di rumah, kondisi tubuh sudah pulih dan bisa kembali beraktifitas.

Saya coba evaluasi keadaan sakit saya kemarin dan mendapat pelajaran yang cukup berharga. Saya yang dikenal oleh rekan-rekan saya sebagai praktisi hidup sehat dan sudah menjalankan aktifitas ini selama belasan tahun, rajin mengatur asupan makanan, cukup rutin berolahraga, tetap saja berisiko terkena sakit. Apalagi mereka yang kesehariannya jauh dari pola hidup sehat ya?

Ternyata risiko ada dimana-mana. Tidak hanya pada kesehatan kita, tapi risiko juga ada saat kita sedang berkendara, saat kita menjalani bisnis, saat kita membangun karier di kantor. Risiko pun ada pada keuangan kita.

Banyak dari kita berusaha menghindari risiko keuangan karena tidak mau sampai kehilangan uangnya. Rasanya hampir semua orang seperti itu. Akhirnya menempatkan uang dalam tabungan atau deposito dianggap sebagai langkah yang paling aman. Mungkin secara fisik memang aman, namun sesungguhnya uang yang kita tempatkan dalam tabungan, nilainya akan terus berkurang karena faktor inflasi akibat kenaikan harga-harga. Risiko ini seringkali tidak disadari oleh kebanyakan dari kita. Di satu sisi kita terhindar dari risiko, tapi dapat terpapar risiko lainnya.

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Sadar Terhadap Risiko Berinvestasi

Bagaimana cara menempatkan uang yang aman? Adrian Maulana akan menjawabnya dalam tulisan 'Bersahabat dengan Risiko' ini. (Ilustrasi: homeanddecor.com.sg)

Kalau sekarang kita sadar bahwa ternyata dalam kehidupan kita banyak sekali terdapat risiko, mungkin ini saat yang baik bagi kita mulai membiasakan diri bersahabat dengan risiko. Dalam dunia keuangan dan perbankan kita kenal istilah investasi. Kalau tabungan biasanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti membayar listrik, air, pulsa telepon, keamanan, biaya bulanan sekolah anak, makan kita sehari-hari. Juga untuk dana darurat kalau ada kebutuhan mendesak seperti membantu keluarga yang sakit.

Sedangkan investasi untuk memenuhi kebutuhan jangka menengah hingga jangka panjang seperti membayar kuliah, membayar biaya haji, menyiapkan dana pensiun, dan sebagainya. Beragam instrumen investasi yang sering kita dengar antara lain surat utang (obligasi), sukuk, saham, ataupun reksa dana. Berbeda dengan tabungan yang relatif aman, investasi memang mengandung risiko.

Besar kecilnya risiko tergantung jenis investasi yang kita pilih. Semakin konservatif produk investasi yang kita pilih, risikonya pun relatif rendah. Contohnya produk reksa dana pasar uang, yaitu reksa dana yang 100% berinvestasi di instrumen pasar uang seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI), deposito berjangka, dan surat utang (obligasi) yang jatuh tempo di bawah 1 tahun. Imbal hasilnya bisa sedikit lebih tinggi dari deposito.

Begitu pun sebaliknya, semakin agresif kita dalam mengharapkan imbal hasil atau pertumbuhan nilai investasi, hendaknya produk investasi yang dipilih pun disesuaikan yang berpotensi memenuhi harapan kita. Untuk itu penting bagi kita mengetahui tujuan investasi dan profil risiko kita dan kapan tujuan investasi tersebut ingin tercapai sebelum menentukan jenis investasi yang akan kita pilih.

Idealnya semakin lama tujuan investasi tersebut bisa terpenuhi, hendaknya produk investasi yang dipilih pun yang lebih agresif, contohnya reksa dana saham atau membeli saham secara langsung. Sebaliknya, semakin pendek tujuan investasi kita, produk investasi yang dipilih juga dapat disesuaikan.

Misal bila kita punya tujuan investasi untuk 3 tahun ke depan, bisa mempertimbangkan reksa dana pendapatan tetap, yaitu reksa dana yang melakukan investasi minimal 80% dari portofolionya ke dalam efek bersifat hutang (obligasi). Sedangkan untuk tujuan investasi lebih dari 5 tahun, bisa memilih reksa dana saham yang minimal 80% asetnya ditempatkan ke dalam instrumen saham.

3 dari 3 halaman

Berhati-hati Membeli Produk Investasi

Bagaimana cara menempatkan uang yang aman? Adrian Maulana akan menjawabnya dalam tulisan 'Bersahabat dengan Risiko' ini. (Ilustrasi: dharakinfotech.com)

Tapi sangat penting bagi kita untuk mengenal profil risiko pribadi terlebih dahulu sebelum memutuskan memilih produk investasi yang sesuai. Juga tidak kalah penting agar kita berhati-hati dalam memilih produk investasi, mengingat tawaran investasi bodong belakangan ini. Ciri paling umum investasi bodong adalah menjanjikan imbal hasil tinggi jauh di atas instrumen perbankan atau instrumen investasi legal pada umumnya, seperti obligasi, sukuk, dan reksa dana.

Bila menemui tawaran seperti ini hendaknya kita waspada dan melakukan pengecekan kepada regulator yang berwenang. Perusahaan yang bergerak di bidang investasi harus memiliki izin dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Silakan cek di situs ojk.go.id atau hubungi 1500655 untuk mengecek legalitas sebuah perusahaan investasi.

Saya pribadi nyaman berinvestasi reksa dana yang dapat dibeli melalui bank. Selain potensi imbal hasil yang menarik, proses pembelian maupun penjualannya pun cukup mudah. Staf perbankan yang memiliki izin WAPERD (Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana) akan membantu kita dalam melakukan proses, dari mulai mengisi formulir ‘Know Your Client’, formulir profil risiko pribadi sehingga pemilihan produk yang disesuaikan dengan profil risiko yang telah nasabah isi.

Staf perbankan yang profesional dan memiliki integritas akan memberikan advis terbaik untuk kepentingan nasabahnya. Belakangan ini banyak bank sudah memiliki fasilitas installment plan agar nasabahnya dapat disiplin berinvestasi tanpa perlu repot ke bank setiap bulannya. Membeli produk investasi reksa dana melalui bank pun sangat membantu calon investor karena pada umumnya bank akan melakukan pengecekan secara mendetail terlebih dahulu sebelum memasarkan produk investasi kepada nasabahnya. Kekhawatiran akan investasi bodong pun dapat diminimalisir.

Risiko berinvestasi dapat kita kelola dengan memahami seluk beluk produk investasi, mengetahui profil risiko pribadi dan cara kita berinvestasi. Ketiganya membuat risiko investasi lebih terukur dan dapat dikelola dengan baik.

Penulis: Adrian Maulana, Senior Vice President Intermediary Business