Barbara Bush Ternyata Sempat Terkena Graves

Karla Farhana diperbarui 19 Apr 2018, 00:12 WIB

Fimela.com, Jakarta Barbara Bush, sebelum tutup usia, sempat dirawat di rumah sakit. Pasalnya, dia menderita Graves. Namun, dia kemudian memilih untuk tidak melanjutkan pengobatan. 

"Setelah serangkaian kunjungan ke rumah sakit akhir-akhir ini, serta berkonsultasi dengan keluarga dan dokternya, Nyonya Bush, 92 tahun, memutuskan tidak mencari pengobatan medis tambahan dan akan berfokus pada perawatan yang nyaman," kata juru bicaranya, Jim McGrath dikutip dari Independent pada Rabu (18/4/2018).

Walaupun saat itu McGrath tidak memberikan rincian tentang penyakit yang diderita Bush, diketahui bahwa Barbara telah dirawat karena penyakit Graves.

Dikutip dari Mayo Clinic, penyakit ini merupakan gangguan sistem kekebalan, yang menghasilkan hormon tiroid (hipertiroidisme). Meskipun ada gangguan lain yang menyebabkan kondisi kelebihan hormon ini, penyakit Graves merupakan penyebab yang paling umum.

Hal ini karena hormon tiroid mempengaruhi beberapa sistem tubuh. Tanda dan gejala yang terkait dengan penyakit Graves bisa sangat luas dan secara signifikan, mempengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Penyakit ini bisa menyerang siapa saja. Namun, umumnya terjadi pada wanita dan sebelum umur 40 tahun.

Pengobatan penyakit ini berfungsi untuk menghambat kelebihan hormon tiroid dan mengurangi semakin parahnya gejala.

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Gejala Penyakit Graves

Barbara Bush (AP Photo/Doug Mills, File)

Beberapa gejala penyakit Graves sendiri antara lain adalah: kecemasan, tangan atau jari bergetar, sensitivitas panas dan peningkatan keringat dan membuat kulit lembap, berat badan turun meski pola makan normal, dan pembesaran kelenjar tiroid.

Selain itu, berubahnya siklus menstruasi, disfungsi ereksi pada pria, sering buang air, mata menonjol, kelelahan, kulit memerah dan menebal di tulang kering atau ujung kaki, dan detak jantung cepat serta tidak teratur juga menjadi gejala penyakit graves.

Penyakit ini disebabkan oleh kerusakan dalam sistem kekebalan tubuh yang melawan penyakit. Namun, penyebab sesungguhnya belum diketahui.

Beberapa faktor risiko terjadinya penyakit ini antara lain adalah gen dan gangguan autoimun.

 

 

Penulis: Giovani Dio Prasasti

Sumber: Liputan6.com