Kreator Di Balik Panggung Indah Laskar Pelangi: Jay Subijakto

Fimela diperbarui 28 Des 2010, 11:00 WIB

 

 

FIMELA.com (F): Dengar-dengar, ide membuat musikal berasal dari Mas Jay. Dan mengapa Laskar Pelangi?

Jay Subijakto (J): Cerita awalnya saya dan Toto Arto (produser) ingin sekali membuat musikal. Nah, setelah saya nonton dan membaca bukunya, Laskar Pelangi ini pas sekali dengan apa yang pengen kita buat, yaitu sesuatu yang punya ciri Indonesia. Apalagi kalau kita lihat, saat ini hiburan buat anak-anak itu bisa dibilang nggak ada. Lagu anak-anak (Indonesia) juga nggak ada, kalau ada semuanya import. Padahal Indonesia kaya sekali! Kelihatannya jadi seperti bangsa ini nggak bisa menemukan apa-apa di balik kekayaannya. Seperti nggak punya jati diri. Laskar Pelangi bisa memperlihatkan keadaan Indonesia. Kita tahu Bangka-Belitung penghasil timah terbesar tapi kekayaan itu habis digerogoti penjajah, Orde Baru dan koruptor, sementara generasi mudanya tidak diperhatikan. Mereka mau sekolah tetapi sekolahnya nggak ada (memadai). Nah, berangkat dari situ lah kita.

F : Sebagai seorang art director, bagaimana membawa Kampung Gantong, Belitung ke atas panggung?     J : Pastinya itu yang paling susah. Apalagi gedung pertunjukan ini (Theater Besar), bisa dibilang cuma sekedar gedung. Memang perlengkapannya ada tapi masih banyak kekurangannya. Contohnya, fly bar (alat untuk menggerakkan set panggung, biasanya terdiri dari beberapa kecepatan, tergantung seberapa cepat yang diperlukan) yang ada di sini kurang memadai karena kecepatannya cuma satu. Speaker yang dipakai TOA (brand low end), lagi-lagi nggak memadai. Lalu gedung ini nggak ada listriknya jadilah kita (tim musikal Laskar Pelangi) membawa 5 genset sendiri. For the record gedung ini di bangun selama 17 tahun, lho. Tapi kelengkapannya masih sangat kurang, orchestra pit (tempat untuk pemain orkestra yang posisinya di bawah panggung) juga jadi masalah karena ditutup oleh pihak Theater Besar untuk menambah kapasitas penonton. Jadi akhirnya kita bongkar. Orchestra pit juga mustinya ada hidroliknya supaya penonton tahu kalau musik yang mengiringi live. Jadi setelah kita menemukan kendala-kendala tersebut banyak sekali yag harus kita akali. Dan itu baru gedung belum dari penataan panggungnya. Sayap kiri dan kanannya tidak sebesar panggung dan ini menyulitkan kita untuk mengatur in dan out pemain dan juga set. Kita benar-benar memaksimalkan panggung yang ukurannya bukan panjang 16 meter, tinggi 8 meter dan dalamnya 10 meter (ukuran standar panggung pertunjukan teater).

"Gedung ini di bangun selama 17 tahun, lho. Tapi kelengkapannya masih sangat kurang..."

 

 

 

 

 

 

J : Soal memindahkan Belitung, karena ini Laskar Pelangi, jadi saya mau ada pelangi. Ada adegan nyanyian tentang alam, terus ada hujan, ya kita bikin hujan di atas panggung. Belitung itu terkenal dengan pantainya dengan batu-batunya yang besar-besar, terus savana juga jadi salah satu ciri Belitung, semua itu saya bawa ke atas panggung. Jadi penonton, khususnya anak-anak jadi tahu dan terbayang Belitung itu seperti apa. Saya nggak mau anak-anak sekarang berpikir kalau daerah-daerah di Indonesia itu semuanya seperti Jakarta. Saya coba memasukan semua elemen-elemen tersebut ke atas panggung karena saya concern sekali dengan generasi sekarang yang banyak sekali nggak tahu Belitung itu di mana. Nah, di awal pertunjukan nanti saya mau menampilkan peta Belitung.

F : Kedengarannya cukup sulit, ya?                                                                                                                   J : Saya mengakui selama jadi penata artistik sekarang ini lah yang paling berat. Bayangkan ada 12 set yang harus gonta-ganti, bahkan ada 1 lagu yang panjangnya 7 menit tapi set-nya berganti sampai 4 kali. Jadi berat sekali apalagi ditambah dengan kendala fasilitas yang ada di Theater Besar ini. Idealnya memang seperti pertunjukan saya Matah Ati di Esplanade, Singapura (Oktober lalu), semua bisa diatur sedemikan rupa, panggung juga dimiringkan jadi semua penonton bisa melihat koreografi tariannya secara utuh. Saya juga sampai menyewa jammer (untuk memblok sinyal handphone) karena penonton Indonesia kurang disiplin. Ada aja yang SMS-an, BBM-an waktu menonton. Sinyal-sinyal itu takutnya akan mengganggu frekuensi alat-alat kita, khususnya audio.

F : Tapi sepertinya para kreator yang ada di balik musikal Laskar Pelangi ini orang-orang yang sangat menguasai bidangnya.                                                                                                                                       J : Memang untuk tim produksi saat ini adalah tim produksi impian saya. Dari dulu saya ingin sekali bekerja sama dengan Mira Lesmana, Riri Riza, Toto Arto, Erwin Gutawa (walaupun sudah sering) dan juga Hartati sebagai koreografer. Saya nggak pengen tarian musikal Laskar Pelangi mengarah ke Broadway. Dan mbak Tati spesialisasi tariannya lebih ke Sumatra. Dia bisa mengekspresikan keadaan yang ada lewat tarian. Contohnya, di Belitung saat berkabung, biasanya para perempuan datang membawa beras ke rumah orang yang sedang berduka. Semuanya asli Indonesia. Kita benar-benar survey langsung ke Belitung. Contoh lainnya, ada set warung kopi di Belitung, yang beda dengan warung kopi di daerah lainnya. Kita tunjukkan bagaimana bentuknya, tungkunya seperti apa dan lain-lain. Jadi saya benar-benar ingin menunjukkan bagaimana Indonesia itu. Dan ini baru Belitung saja, lho.

"Saya mengakui selama jadi penata artistik sekarang ini lah yang paling berat. Bayangkan ada 12 set yang harus gonta-ganti, bahkan ada 1 lagu yang panjangnya 7 menit tapi set-nya berganti sampai 4 kali."

 

 

 

 

 

 

 

 

F : Di antara semua set ini yang paling susah bikin set apa?                                                                            J : Hujan, karena saya mau terjadi hujan di atas panggung. Dan batu-batu di atas panggung harus mirip dengan batu-batu yang ada di pantai Belitung yang besar-besar itu. Dan membuat pelangi. Oh ya, satu lagi sekolah miring yang ada di Kampung Gantong tempat anak-anak Laskar Pelangi bersekolah.

F : Berapa lama untuk mempersiapkan setnya?                                                                                               J : Untuk desain sekitar enam bulan, membuat set-nya sekitar dua bulan. Mempersiapkannya Bedanya kita semuanya menciptakan sendiri, kalau di luar negeri yang sudah ada kontraktornya kita tinggal tunjuk dan minta mau dibikinin apa. Kalau di sini cuma ada tukang tapi kita yang mikir cara buatnya, teknisnya bagaimana. Bikin musikal di sini (Indonesia) memang effort-nya lebih besar.

 

(Image, dokumentasi Musikal Laskar Pelangi)

 

What's On Fimela