Kombinasi Bisnis dan Fashion ala Fitria Yusuf

Fimela Editor diperbarui 12 Agu 2011, 12:45 WIB
2 dari 3 halaman

Next

Berawal dari passion yang mendalam tentang fashion, Fifi, nama panggilannya, membuka Ivy Boutique sejak 5 tahun lalu. Kecintaannya pada mode dan shopping, diikuti oleh pengamatannya terhadap pilihan-pilihan fashion yang ada di Indonesia, menggerakkannya untuk membuat suatu terobosan. “Di sini memang banyak pilihannya, cuma nggak ada yang gayanya berbeda dari busana-busana yang sudah ada, sehingga kalau mau berbelanja kebanyakan orang harus ke luar negeri dulu. Melihat pasarnya ada, saya membuat one stop shopping yang terpacu dengan tren-tren Holywood, karena nggak bisa dipungkiri tren Hollywood itu sangat berpengaruh pada fashion keseluruhan, untuk warga Jakarta terutama. Dengan harga yang masih reasonable, nyaman dikenakan, dan berkualitas bagus, butik ini diterima dengan baik,” ceritanya. Nggak puas di situ, Fifi yang sangat concern dengan pakaian dalam perempuan, membuat Ivyintimates.com, sebuah online shop yang khusus menjual underwear, lingerie, dan sexy toys. Lagi-lagi diakuinya, ini adalah sebuah implementasi passion-nya yang ternyata bisa dijadkan bisnis.

Butik dan online shop masih dirasa kurang olehnya. Ia yang mengaku nggak suka mengenakan aksesori, lalu meluncurkan Twinkle Twinkle, sebuah label aksesori khusus untuk menghiasi berbagai apparel favorit perempuan seperti Blackberry, laptop, atau cermin, dengan dekorasi kristal yang bling bling. Apa memang itu arti fashion untuknya, yaitu harus bisa menampilkan keglamoran? “Sebenarnya fashion yang bagus nggak harus selalu glamor, tapi lini ini menawarkan alternatif bagi mereka yang menyukai sparkling things atau bagi mereka yang nggak menyukai mengenakan aksesori seperti saya. Jadi, saat saya menggunakan busana minimalis tapi menenteng Blackberry dengan hiasan kristal, itu bisa menjadi aksesori. Saya juga melihat contoh saat di Dubai, dimana perempuannya memakai jilbab dan jubah, tapi tetap bisa mengekspresikan gaya mereka melalui hand bag atau bling bling accessories yang mereka punya,” jawabnya.

Melihat kesuksesannya yang terus berlanjut dalam bidang fashion, Fifi ingin meluruskan bahwa profesi fashionable ini sama sekali bukan pekerjaan yang sepele. Sama seperti pekerjaan-pekerjaan yang lain, presisi yang tepat dan dasar ilmu, tetap diperlukan. “Fashion memang sangat bisa dijadikan mata pencaharian dan bisa memudahkan langkah untuk go international, sehingga bidang ini membuka banyak kesempatan. Kalau fashion dikatakan cuma pekerjaan main-main, itu salah, karena ketika fashion merchandiser membeli item dengan nggak serius, atau seorang fashion stylist membeli semua fashion item tanpa perhitungan yang cermat, tentu nggak akan bisa berguna juga,” jelasnya.

"Kalau fashion dikatakan cuma pekerjaan main-main, itu salah,"

Ada satu hal yang menarik darinya, yaitu ia adalah seorang pebisnis dan juga seorang fashionista. Mengenai hal ini, dengan rendah hati Fifi nggak mengiyakan maupun menolak. “Sebutan fashionista itu bisa disematkan pada saya karena saya sering menjadi muse untuk beberapa desainer dan diundang menjadi host untuk berbagai acara fashion, sehingga terciptalah sebutan fashionista atau fashion icon. Tapi, kalau untuk saya pribadi, saya bukanlah orang yang terlalu trendi, karena definisi fashionista menurut saya adalah someone who has personal style that actually can reflect the fashion through herself without being a fashion victim. Jadi, ketika seseorang mempunyai gaya sendiri yang mampu menjadi trademark-nya, seperti Isabella Blow atau Anna Piaggi, dimana mereka punya fashion statement sendiri, itu baru sangat pantas disebut fashionista. It doesn’t have to be the latest trend or the most expensive item, tapi kalau bisa mencerminkan kepribadian dan karakter seseorang, itulah definisi fashion icon atau fashionista yang tepat menurut saya. Senang rasanya melihat seseorang yang bisa mengekspresikan kepribadian dan kepercayaan dirinya dari cara berbusana,’ urai Fifi.

 

3 dari 3 halaman

Next

 

Ketajaman instingnya terhadap fashion, diakuinya sejak kecil, dimana masa pertumbuhannya dikelilingi oleh dua saudara laki-laki yang berjarak usia cukup jauh. Ia lalu menjadi pembaca majalah-majalah fashion milik ibunya, menggunting gambar yang ia suka, dan menyatukannya dalam kliping. Mengaku sempat menjadi gadis yang tomboy, Fifi tetap mampu menyalurkan kesukaannya pada fashion lewat kesenangannya mendandani boneka Barbie. Kini, Fifi sedang menjajaki bisnis di bidang properti dan sedang mengembangkan usaha photobooth dan photobox. Begitu banyak keinginannya untuk mencoba berbisnis di berbagai bidang itu, diakuinya merupakan hasil dari ilmu yang ia peroleh dari kuliahnya di jurusan Business Administration yang berkonsentrasi di marketing dan keinginannya untuk banyak bertemu dan berkenalan dengan berbagai orang. Namun, jangan mengira ia melupakan statusnya sebagai seorang istri, karena Fifi tetaplah seorang perempuan yang memprioritaskan rumah tangganya.

“Pekerjaan saya yang lebih fleksibel memang bisa disesuaikan dengan load pekerjaan suami yang lebih sibuk. Untuk menyinkronkan kesibukan kami berdua, saya selalu berusaha untuk mengetahui prioritas. Pekerjaan saya memang adalah prioritas, namun saya selalu berusaha untuk tetap ada mendukung suami saya, contoh kecilnya adalah sudah berada di rumah ketika dia pulang. Kalau ketika dia sibuk, saya juga nggak menuntut dia untuk menemani saya traveling,” katanya.

Ya, traveling juga merupakan big passion untuknya. Menyangkut soal ini, Fifi selalu bisa menyempatkan berlibur di antara jadwalnya yang padat. “Traveling adalah salah satu hal favorit saya, karena kecintaan saya pada sejarah, kebudayaan, dan bahasa asing. Ketika bepergian ke negara lain, saya bisa mendapatkan inspirasi untuk pekerjaan dan kehidupan dari sejarah dan kebudayaan bangsa lain yang bisa diterapkan. Dan, biasanya dari traveling saya juga bisa mendapatkan ide untuk bisnis atau bahan tulisan baru. Tujuan traveling yang berkesan di antaranya adalah saat ke Maroko, karena di sana kebudayaannya kental dengan masyarakat yang multilingual dan ditunjang dengan pemandangan indah. Kemudian, saat ke Turki saya juga sangat excited karena kebudayaan budaya Barat dan Timur bisa terpadu dengan indah tanpa ada gap di antaranya. Saya berharap Indonesia bisa juga seperti itu suatu hari nanti. Lalu, Tokyo juga selalu menyenangkan untuk dikunjungi, karena selain bersih, nyaman, dan kemana-mana aman, warga di sana ramah tanpa harus mencampuri urusan orang lain. Selain itu, barang-barang di sana bagus dan inovatif. Saya bisa mendapatkan boots berkualitas bagus dari merk lokal dengan harga yang masuk akal,” ceritanya semangat.

"Kita nggak bisa tampil stylish atau percaya diri jika kita nggak bersih. Dan lagi, saya juga bukan seniman yang bisa tampil ekspresif dalam penampilannya,"

Fifi punya satu hal yang selalu ditegaskannya, yaitu kebersihan. Ia sangat menyukai kebersihan dan itu menjadi nilai utama untuknya dari sebuah penampilan sempurna. “Saya adalah tipe orang yang sangat menyukai kebersihan. Ketika akan keluar rumah, saya nggak harus selalu dress up, tapi hanya berusaha untuk selalu tampil bersih. Sehari-hari sebenarnya saya suka mengenakan t-shirt dan jeans, keluar rumah hanya dengan modal sunblock pun, it’s OK. Cuma yang paling penting adalah bersih, dimana saya selalu mandi setiap keluar rumah, lalu menjaga kuku, kulit, dan gigi agar tetap terawat. Kita nggak bisa tampil stylish atau percaya diri jika kita nggak bersih. Dan lagi, saya juga bukan seniman yang bisa tampil ekspresif dalam penampilannya. Pekerjaan dan karakter saya menuntut saya untuk selalu tampil bersih,” katanya.

Prinsipnya untuk selalu bersih dan rapi ini bukan tanpa alasan, karena Fifi merasakan sendiri manfaatnya. “Nilai plus dari being fashionable di dunia kerja yang serius adalah, kalau kita fashionable, dalam arti punya gaya sendiri, selalu bisa rapi, dan bisa merepresentasikan diri di depan rekan kerja, mereka akan melihat saya sebagai orang yang percaya diri dan serius dalam menangani sebuah proyek pekerjaan. Makanya, saya selalu berusaha tampil rapi saat bertemu dengan klien atau rekan kerja, karena efeknya sangat terasa di kepercayaan diri, terpancar di gestur, dan pihak yang melihat pun akan memberi respon yang bagus,” jelasnya.