Atambua 39 Derajat Celsius, Potret “Antinasionalis” Gaya Riri Riza

Fimela Editor diperbarui 14 Nov 2012, 11:29 WIB
2 dari 4 halaman

Next

Setelah sekian lama menjadi bagian dari tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), rasanya agak susah menyebut bahwa Timor Leste (Timor Timur) sekarang sudah terpisah dan ada di luar NKRI. Tahun 1999, usai dunia dilanda krisis moneter besar-besaran pada tahun 1998, Indonesia dengan tekanan dari berbagai pihak luar pun mengadakan jajak pendapat perihal lepas atau menetapnya Timor Leste dengan NKRI.

Dengan berbagai kontroversi yang menyertai prosesnya, hasil jajak pendapat pun menyatakan bahwa Timor Leste bebas dan keluar dari NKRI. Lepasnya Timor Leste dari NKRI tentu membawa dampak bagi para penduduk karena adanya pertentangan antarpenduduk yang mendukung integrasi dan juga kebebasan Timor Leste. Potret sosial dampak referendum 1999 seperti inilah yang ingin diangkat oleh Riri Riza dan Mira Lesmana.

3 dari 4 halaman

Next

Dengan menggandeng penduduk lokal sebagai bintang utama, Gudino Soares, Petrus Beyleto, Putri Moruk, dan juga menggunakan bahasa setempat, Riri menampilkan masalah masa kini yang terjadi di Timor Leste akibat referendum tahun 1999. Atambua 39° Celsius menceritakan kehidupan sebuah keluarga yang harus hidup terpisah karena sang suami bertahan untuk tetap tinggal di Atambua (NKRI) sementara sang istri memutuskan untuk hidup di Timor Leste, Liquica.

Pergolakan batin tokoh utama, Ronaldo (sang ayah), yang mempertahankan rasa cintanya pada Indonesia yang bertarung dengan rasa rindu pada tanah kelahiran dan juga istri serta anak-anak perempuannya ditampilkan Riri dengan sederhana. Di film ini, Ronaldo percaya bahwa suatu saat Timor Leste akan kembali menjadi bagian NKRI. Ronaldo membunuh rasa kecamuk batinnya dengan cara mabuk-mabukan setiap malam hingga akhirnya ia dipecat dari pekerjaannya sebagai supir antarkota karena tertangkap mabuk saat bekerja.

4 dari 4 halaman

Next

Joao, satu-satunya anak laki-laki Ronaldo, yang ikut hidup bersamanya di Atambua pun sebenarnya juga mengalami pergolakan batin yang sangat hebat antara rasa rindu pada ibu dan adik-adiknya dan juga keinginan untuk tetap tinggal bersama ayahnya. Jika penikmat film cepat mengambil kesimpulan cerita di awal maka pasti akan menebak Riri Riza akan mempertahankan sikap nasionalisnya lewat tokoh Ronaldo dengan tetap bertahan tinggal di Atambua.

Namun pada akhirnya, ternyata Ronaldo dan Joao anaknya, menyerah pada pergolakan batin mereka yang berkaitan dengan pertalian darah, keluarga serta tanah kelahiran di Luquica, Timor Leste. Di film ini Riri ingin mengangkat sisi kemanusiaan seseorang yang harus berhadapan dengan pilihan berat untuk memilih bersatu dengan keluarga yang dicintai yang berada di tanah kelahirannya sendiri atau mempertahankan rasa nasionalismenya dan tetap hidup terpisah dengan keluarga.

Berbeda dengan film bertema nasionalis yang pada umumnya berakhir dengan tetap mengusung rasa nasionalis, Riri mengeluarkan sisi kehidupan wajar seorang manusia yang dihadapkan pada kondisi seperti itu. Bahwa Riri Riza sebenarnya menggambarkan bagaimana dampak yang timbul akibat referendum pada tahun 1999. Dan tak selamanya rasa nasionalis bisa menang karena ketika berhadapan dengan masalah keluarga maka hati nuranilah yang akan berbicara. Dengan berat hati karena harus melanggar sumpah dan prinsipnya sendiri, Ronaldo dan Joao memutuskan untuk pindah ke Luquica dan tinggal bersama dengan istri dan anak-anaknya yang lain, serta mengubur rasa nasionalisnya dengan meninggalkan NKRI.