Social Cooking, kegiatan memasak jadi terapi bagi ibu rumah tangga

Vinsensia Dianawanti diperbarui 14 Okt 2018, 14:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Bagi seorang ibu, memasak menjadi salah satu kegiatan sehari-hari. Beberapa ibu menganggap bahwa kegiatan memasak menjadi hal yang cukup menyenangkan. Namun rupanya, memasak bisa menjadi sebuah metode terapi bagi ibu rumah tangga, terutama jika dilakukan oleh orang terdekat.

Ya, ini disebut sebagai Social Cooking. Istilah ini menjadi begitu populer di generasi milenial. Mereka melakukan kegiatan memasak ini bersama temant-teman atau kerabat. Tujuannya adalah untuk mempererat hubungan dan membuat memasak menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Bukan hanya sekedar rutinitas sehari-hari.

Lalu, apa untungnya melakukan Social Cooking? Kontribusi dari masing-masing orang saat memasak dan melihat makanan tersebut terhidang lezat akan meningkatkan rasa kepercayaan diri dan rasa puas. Terlebih jika kita melihat langsung orang lain menyantap makanannya.

 

2 dari 2 halaman

Kelebihan Social Cooking

Duchess of Sussex, Meghan Markle saat memasak bersama kelompok Hubb Community Kitchen yang mayoritas beragama Islam saat melakukan proyek amal di Al Manaar Muslim Cultural Heritage Centre, London, Inggris (19/7). (Jenny Zarins/Kensington Palace via AP)

Selain itu, memasak bersama orang terdekat juga akan meningkatkan kualitas hubungan karena adanya komunikasi, rasa saling percaya, dan kerja sama. Beberapa penggemar Social Cooking menganggap bahwa kegiatan ini memiliki efek yang sama dengan terapi.

Pasalnya, Social Cooking membantu para penikmatnya merasa lebih tenang, riang, dan melepas rasa kesepian. Tak heran, jika kegiatan Social Cooking diaplikasikan menjadi agenda dalam diskusi resep, arisan, hingga makan bersama teman.