Ayah. Banyak orang di muka bumi ini mengaku bahwa selama ini ia jarang sekali mengucapkan kalimat sayang atau bahkan cinta pada ayahnya. Sosok pria yang seringkali digambarkan menakutkan memang secara tidak langsung membuat diri kita melihat bahwa ada tameng yang dipasang di depan dada ayah. Padahal, jika Anda tahu, meski tampak dari luar sangat galak dan jahat, ayah adalah sosok pria berhati lembut. Bahkan, jika Anda jauh lebih teliti, ayah adalah sosok pria yang memiliki hati gampang rapuh, terlebih jika melihat buah hatinya yang bertingkah tak wajar, jauh, atau bahkan sedih.
Berikut ini satu kisah inspirasi tentang ayah, semoga menyadarkan kita betapa ayah sebenarnya sangat sayang pada kita, meski tak pernah diungkapkan.
**
Aku wanita berusia 23 tahun. Kurang lebih delapan bulan lalu aku baru saja lulus dari perguruan tinggi. Menjadi seorang lulusan bertitel sarjana memang bagi banyak orang terasa sangat berat, terlebih jika setelah lulus tak langsung mendapatkan pekerjaan layak. Benar, tradisi di Indonesia memang seringkali mempertontonkan bahkan mencontohkan bahwa setelah lulus agar cepat mendapatkan pekerjaan. Dan, itu juga terjadi padaku.
Banyak lamaran yang ku-apply melalui situs pencari kerja online. Namun, hampir satu bulan aku menganggur, tak satupun perusahaan mau memanggilku barang hanya interview. Meski gelisah, kusabar-sabarkan perasaanku mendapati tuntutan agar segera mendapatkan pekerjaan. Hingga satu waktu tiba, sebuah panggilan pekerjaan kudapatkan dan aku dinyatakan lolos.
Senang? tentu saja aku senang bukan main. Terlebih setelah menganggur sebulan lamanya akhirnya ada perusahaan yang mau memberiku kesempatan bekerja. Hanya saja, perusahaan tersebut mengharuskan aku untuk pindah ke luar kota. Kuutarakan maksudku pada ayah dan ibuku, kuberikan penjelasan mengenai apa saja yang didapat jika aku benar menerima tawaran kerja itu.
Diam. Ya, ayahku hanya diam mendengarkan penuturanku. Beliau menimbang banyak hal yang patut diperhitungkan jika aku benar bekerja di luar kota. Sementara ibuku? beliau juga terdiam, tak menanggapi. Sebelumnya, aku sempat bertengkar kecil dengan ibuku karena beliau sebenarnya tidak setuju terhadap rencanaku untuk pindah ke luar kota, tapi aku memaksa. Alasanku, aku mengejar cita-cita. Berbeda dengan ibu, ayahku memang cenderung pendiam. Beliau banyak memikirkan positif dan negatif segala sesuatu hal, salah satunya tentang rencana kepindahanku.
Jika selama ini aku seringkali berbagi pada ibuku tentang segala hal, kali ini beda. Aku hanya berdiskusi singkat dengan ayah dan akhirnya memutuskan untuk berangkat pergi ke luar kota. Sekilas, memang tidak ada yang spesial di sini, tapi tahukah kalian efek terbesar dalam hidupku setelah keputusanku untuk pindah kerja di luar kota?
Baca kisah selanjutnya Kasih Sayang Ayah Yang Tak Terbatas II.
(vem/tik)