Gelar Sarjana Membuat Kelima Orang Ini Berjuang Tanpa Henti

Fimela diperbarui 24 Sep 2013, 15:45 WIB

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar gelar sarjana? Ya, sarjana adalah hasil yang telah diperoleh seseorang berkat semangat yang dimilikinya ketika menuntut ilmu. Akan tetapi, tahukah Anda, beberapa orang di dunia ini rela melakukan apa saja untuk medapatkan gelar sarjana yang diinginkannya. Dalam kasus ini, seperti yang dilansir rd.com, beberapa orang berjuang sepenuh hati dan melewati aral lintang demi mewujudkan impian mereka.

Bagi mereka, menuntut ilmu adalah hal yang harus mereka lakukan walau beberapa hal sempat menjadi halangan untuk itu. Beberapa dari mereka malah memiliki usia yang relatif sangat tua, namun, tak ada kata terlambat bagi mereka untuk menuntut ilmu.

Siapa saja sih orang-orang yang menginspirasi ini?

(vem/oem)
2 dari 6 halaman

Brian Kolfage : Seorang Tentara Yang Meraih Mimpi

(c)ydr.com

Tentara yang satu ini jelas bukan tergolong sebagai tentara biasa. Adalah Brian Kolfage, lelaki yang ditempatkan di Pangkalan Udara Balad di Irak selama dua minggu ini baru saja mengalami kejadian yang memilukan. Pada kejadian itu, roket musuh meledak tepat pada tiga meter dari tempatnya berdiri . Kondisi itu membuat tubuhnya terbakar sebagian yang mengakibatkan kakinya hancur dan tangan kanannya terputus.

Seketika, hidup Brian pun berputar 180 derajat. Pria yang memiliki tubuh proporsional ini pun lantas kehilangan arah. Satu-satunya pekerjaan yang membantu kelangsungan hidupnya tak lagi bisa ia lakukan akibat kondisi tubuhnya kini. Kejadian itu telah benar-benar membuatnya hancur dan tak berdaya untuk menghadapi kehidupan mendatang. Bagaimana tidak, kedua kaki dan satu tangannya yang selama ini ia gunakan sehari-hari harus ia relakan untuk diamputasi.

Namun, tiga tahun kemudian setelah kejadian naas tersebut , dengan kaki dan tangan palsu yang ia miliki, Brian mulai bangkit dalam keterpurukannya.  Keterampilan baru yang dapat ia lakukan dengan tangan kiri palsunya membuat Brian terdaftar dalam program kompetitif di University College Arizona di mana hanya satu dari lima pelamar yang diterima .

Seperti yang akan dijadwalkan, Brian yang kini mengambil jurusan arsitektur, akan menerima gelar sarjananya pada tahun 2014 mendatang. Hingga berita ini diturunkan, Brian yang kini masih aktif dalam menggapai impiannya tersebut diketahui memiliki nilai yang sangat memuaskan, yakni dengan IPK 3,8.

"Saya mungkin kehilangan kaki dan tangan saya, akan tetapi saya masih memiliki kepala dan otak saya. Saya bisa melakukan segala hal yang ingin saya lakukan selama saya masih bisa berpikir,"ucap Brian bangga.

3 dari 6 halaman

Gac Filipaj : Petugas Kebersihan Yang Lulus Dengan Predikat Memuaskan

(c)abcnews.com

Petugas kebersihan pada umumnya melakukan pekerjaan mereka sehari-hari dengan membersihkan tempat di mana mereka bekerja. Akan tetapi, yang terjadi pada Gac Filipaj ini patut diacungi jempol. Walaupun pekerjaannya hanya sebagai petugas kebersihan sebuah universitas di new york, pria paruh baya ini baru saja meraih gelar sarjana nya di tempat ia bekerja. Hebat!

Filipaj sendiri telah lama menjadi mahasiswi reguler di Universitas Columbia, New York. Kegiatannya sebagai mahasiswa ini tentu bukan hal yang mudah mengingat Filipaj juga memiliki pekerjaan yang lainnya. Akan tetapi, tentu saja hal ini tak menjadikannya menyerah begitu saja.

Selama hampir dua dekade, penduduk asli Yugoslavia ini melakukan pekerjaannya sebagai tukang kebersihan. Oleh karena itu, kegiatan seperti menyapu, mengepel lantai dan mengosongkan tempat sampah bukanlah hal yang susah baginya.

Pekerjaan ini  terkadang tentu sangat melelahkan bagi Filipaj, mengingat bagaimana lelaki ini harus bisa membagi waktu belajar dan bekerjanya. Pekerjaan Filipaj sendiri dimulai pada pukul 14:30 sampai dengan 11:00, sisanya ia gunakan untuk mengenyam pendidikan dan belajar. Namun, menurut Filipaj, walaupun melelahkan, dirinya sangat antusias dalam melakukan rutinitas sehari-harinya ini.

Kerja keras Filipaj pun akhirnya membuahkan hasil. Terbukti! pada bulan Mei 2012, di usianya yang ke 52, dia berhasil menyelesaikan studinya dengan predikat yang sangat memuaskan. "Saya telah memenuhi setengah dari mimpi saya"ucap Filipaj.
Kini, lelaki yang baru saja menjadi pusat perhatian akibat prestasinya tersebut, berencana untuk meneruskan kuliahnya di jenjang S2.

Wahh,, Selamat yah Filipaj, semoga keberhasilan selalu menyertai Anda.

4 dari 6 halaman

Martha Mason : Wanita Penderita Polio Dengan Semangat Tinggi

(c)wfdddalton.wordpress.com

Wanita yang satu ini tentu patut dijadikan inspirasi dalam meraih cita-cita. Keterbatasan yang ia miliki tak mampu menyurutkan keinginannya untuk meraih gelar sarjana. Penyakit polio yang ia derita memang cenderung menyakitkan dan membuatnya terbatas dalam melakukan sesuatu.

Adalah Martha Mason, wanita pengidap polio ini baru saja berhasil meraih dua gelar sarjananya dengan predikat yang  mengagumkan. Martha mengalami lumpuh pada tubuhnya yang disebabkan oleh polio pada usia 11 tahun. Hal ini membuat wanita yang dinyatakan terkena polio pada tahun 1948 memiliki keterbatasan dalam bergerak.

Tabung horisontal seberat  400 kilogram telah menjadi satu-satunya alat yang menopang tubuhnya selama ini. Hal ini tak menjadikannya patah semangat dan rendah hati, justru dari sinilah Mason memiliki kemauan yang luar biasa dalam belajar dan meraih gelar sarjananya.

Marson tentu bukan gadis biasa, dengan keadaan seperti ini, wanita ini bisa beadaptasi dengan cepat terhadap tabung yang senantiasa mendekapnya itu. Di samping itu, Marson yang gemar menimba ilmu ini pada akhirnya diterima sebagai mahasiswi reguler di kampusnya.  Tak hanya Marson yang berjuang dalam hal ini, akan tetapi, para guru dan sahabatnya turut berjuang mendukung Marson. Biasanya mereka mendatangi Marson dengan beberapa kue yang sengaja dihadirkan untuk menghiburnya.

Akan tetapi, perjuangan Marson dalam menjalani hidupnya tak bertahan lama. Pada tahun 2009  Marson menghembuskan nafas terakhirnya dan meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya. "Sesuatu bisa terjadi pada kita semua"katanya dalam sebuah film dokumenter tentang dirinya, Martha in Lattimore .

5 dari 6 halaman

Jacob Atem : Seorang Pengungsi Yatim Yang Membuka Sebuah Klinik

(c)youtube.com

Hidupnya tak berarah, lelaki ini hanya mengandalkan setitik harapan kecil kala itu. Dia adalah Jacob Atem, seorang pengungsi yang baru saja kehilangan sosok ayahnya yang meninggal dalam perang di Sudan Selatan. Hingg saat itu tiba, pria dengan senyum manis ini memutuskan untuk berjalan tanpa tujuan dari Sudan menuju ke Etiopia.

Saat itu, Atem telah hilang arah dan tujuan, ia tak tahu lagi pada siapa dirinya akan bersandar untuk tetap hidup. Umurnya masih 6, di mana para bocah seusianya menghabiskan waktu mereka dengan bermain bersama teman-temanya. Akan tetapi, Atem kecil harus menempuh ribuan kilometer tanpa siapapun di sampingnya. Hingga suatu keajaiban terjadi, dirinya kala itu memilih untuk tinggal sejenak di sebuah penampungan yang terletak di Afrika Timur. Di sinilah cerita dimulai, Atem terpilih sebagai anak yang akan dikirim ke Amerika atas program pengiriman yatim piatu dari Afrika menuju Amerika Serikat.

Benar saja, karena latar belakangya,  Atem kecil tak fasih dalam menggunakan bahasa inggris. Namun, rasa ingin tahu dan semangat belajarnya yang tinggi, Atem yang tak tahu menahu soal Amerika itu mulai melatih bahasa inggrisnya, dari berbicara hingga menulis. Dari sinilah beberapa orang yang mengetahui kelebihan Atem mempercayakannya untuk mengenyam bangku pendidikan secara gratis. Atem yang pada mulanya hanyalah seorang pengungsi, kini berhasil meraih gelar sarjananya di Michigan Spring University.

Semangat yang dimiliki Atem tak berhenti di situ saja. Karena  pada tahun 2012 , Jacob Atem membuka klinik medis pertama di Maar, Sudan Selatan "perawatan kesehatan sangat dibutuhkan di desa, karena dulunya perawatan medis tidak ada sama sekali di sini,"katanya.

Dan kini, setelah keberhasilannya mendirikan organisasi kesehatan di Sudan Selatan pada tahun 2008 , Atem akan memulai studinya menuju gelar Ph.D. dalam pelayanan kesehatan di University of Florida.

6 dari 6 halaman

Nola Ochs : Nenek Hebat Yang Meraih Gelar Master

Para mahasiswa pada umumnya rata-rata melewati empat setengah tahun untuk mendapatkan gelar sarjana. Akan tetapi, hal ini jelas jauh berbeda dengan yang dialami oleh Nola Ochs. Wanita tua berusia 98 tahun ini baru saja meraih gelar masternya di sebuah universitas di Kansas.

Pada awalnya, Nola sempat mengikuti kuliah pada tahun1930 di Fort Hays University, Kansas dan berhasil meraih gelar diploma di usianya yang ke 77 tahun. Akan tetapi, hal ini tak menjadikan wanita janda ini puas atas hasilnya itu. Nola pun memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di jenjang yang lebih tinggi walaupun usianya suda  menginjak kepala 9.

Janda sekaligus nenek buyut dari 15 orang cicit ini bahkan pindah dari peternakannya menuju ke sebuah apartemen di  dekat kampus untuk menyelesaikan studinya tersebut. Nola hanya memiliki sisa waktu 30 jam untuk benar-benar menyelesaikan kuliahnya. Namun, apapun rintangannya tak membuat nenek hebat satu ini berhenti di tengah jalan.

Tekad bulatnya inilah yang menjadikan beberapa mahasiswa muda di kampusnya menjadi sangat terinspirasi olehnya. Ya, untuk mendapatkan gelar masternya, Nola harus berada di dalam kelas di mana hanya ada mahasiswa dan mahasiswi muda di dalamnya. Namun, sesuatu yang dikerjakan dengan sepenuh hati selalu membuahkan hasil. Nola dinyatakan berhasil meraih gelar master pada usianya yang mencapai 95 tahun dengan tesis yang telah ia kerjakan sebanyak 50 halaman. Selamat yah nek.


Dalam hidup, semua orang pasti pernah mengalami kesulitan dalam mencapai sesuatu. Tapi pilihan sepenuhnya menjadi hak kita, ingin tetap jatuh pada satu masalah, atau bangkit dan memulai sesuatu yang baru? Dengan adanya kisah di atas, semoga membuat kita senantiasa menjalani hidup penuh perjuangan dan rasa syukur yah.