Kutulis Surat Ini karena Aku Pengagum Rahasiamu

Fimela diperbarui 05 Des 2014, 14:30 WIB

Ladies, Anda pasti pernah mengagumi seseorang secara diam-diam. Mengikuti semua berita tentangnya dan selalu menjadi orang pertama yang tahu setiap kegiatan yang ia lakukan. Hal ini juga lah yang dirasakan oleh seorang pembaca Vemale, Mawaddah namanya. Wanita yang berasal dari Aceh ini membagikan ceritanya berupa sebuah surat untuk seseorang yang sangat ia kagumi. Ungkapan isi hatinya ini bisa mewakili suara hati Anda semua, para pengagum rahasia.

***

Mulanya aku berniat menjumpaimu dan berkata-kata semuanya—tentang kekonyolanku mengikuti semua berita tentangmu, tentang isu terhangat tukang parkir yang menaikkan harga, atau tentang kesarjanaan yang banyak hidup dari utang kedai kopi. Namun kupikir ulang, aku bukanlah pemberani seperti Shincan yang setiap minggu pagi membuat kesal penonton bersebab keberaniaannya melawan siapa saja—tak lain melawan ibunya sendiri, hahaha... Sedang aku hanyalah perempuan(mu) yang tak pernah kehilangan rasa lelah untuk  mengkhayalkanmu.

Seorang teman—juga mahasiswamu—menyarankan aku untuk mengirimkan tulisan ini kepadamu lewat surel. “Kan sekarang makin mudah saja untuk berkirim kabar, dunia semakin canggih lho,” katanya. “Atau lewat tukang pos yang bisa menghantarkan ke alamat tujuan, tanpa nyasar ke orang lain.”

Aku punya alasan untuk tidak mengiyakan nasehat temanku itu. Dan alasan itu, tak perlu kujelaskan kepadamu.

Sebelum aku pergi ke terminal keberangkatan—entah kemana aku akan pergi menjauh dari punggungmu—aku sempatkan pagi-pagi sekali memberimu sekotak bingkisan yang telah kusampul dengan ikatan pita, kutitipkan kepada ibu kos tempat kau tinggali. Bersama bingkisan itu, kuselipkan apa-apa yang kuanggap gila—berupa lembaran-lembaran tulisan—lantaran kau hadir serupa alien di hidupku.

P.S.: Pada bagian kalimat tertentu, kau akan tahu, mengapa ada perempuan yang rela menulis semua dan mengumpulkan lembaran-lembaran itu serupa sampah yang tak bertempat lagi.

 

Sebuah Surat pada 2012

Semalam aku menginap di kos temanku, lantaran masih ada tugas yang harus kami selesaikan. Tugas darimu tak pernah kuanggap beban. Dan semenjak kau rajin memberiku tugas, saat itulah diriku merasa sedang dijajah oleh alien yang dirinya adalah kau sendiri. Semenjak masuk kelas dalam pelajaran tertentu, aku diam-diam mengamatimu. Juga pada akhirnya aku rela ditertawakan oleh teman sepermainanku—yang katanya kau itu aneh.

Tugas pun usai. Si teman—perempuan yang paling cerewet—telah lelap. Aku iseng mencarimu malam itu. Tentu tidak ke rumahmu. Aku mengetikkan nama lengkapmu di papan pencarian Google. Laman paling atas, kutemukan akun Facebook-mu, hingga pada akhirnya kuberanikan untuk mengajakmu bertemanan dengan mengarahkan cursor mouse ke opsi add friends yang tersedia di pojok kanan laman facebook.

Tidak sampai di situ, rasa ingin tahuku tentang kepribadianmu cukup besar. Hingga aku bertemu dengan dua teman yang juga mengenalmu dengan baik—bahkan sampai perempuan yang sempat dekat denganmu, ia tahu. Maaf, aku tidak akan membahas percintaanmu yang kandas itu di suratku ini.

Lelaki(ku), apa yang terbayang jika ada seorang perempuan hilang kewarasan hanya demi merencanakan berbagai amuk berkomunikasi dengan seorang lelaki pujaannya? Ya, kau akan berpikir dialah wanita bodoh, tolol, tak tahu malu; atau apa saja. Namun, itulah aku.

Pada malam yang berteman dengan pemazmur sepi yakni malam dan dingin, aku selalu belajar berencana. Berangan dan punya ingin. Diam-diam, aku musyawarahkan rencana yang serupa rancangan itu kepada kepalaku sendiri. Membayangkan hal itu, aku ingat film detektif kecil yang merupakan serial tivi kesukaanmu. Aku ingin menjadi detektif yang hanya membahas perihalmu saja—tidak lain.

Apa kau masih ingat, pada hari itu—6 Maret—aku sengaja ke kampus demi menatap wajahmu. Aku menjadi detektif hari itu. Bahkan, aku rela pergi ke kampus hanya demi mencuri pandang dari kejauhan menatapmu—padahal hari itu aku tak punya jadwal kelas. Aku diam-diam memperhatikanmu dan dari kejauhan itu pula kubiarkan kau melewati di depanku begitu saja. Ah, hidupku hanya sepantar bermimpi. Pada jarak yang sempat dipotong masa, aku pun tak berdaya melambai apalagi menghela sapa.

Mungkin, aku makhluk terbodoh di planet ini. Dan kau, adalah alien dalam diriku. Hingga pada akhirnya, tak kutemukan kau selain di kedalaman diriku.

(vem/nda)