Perlunya Poli-Ikhlas Dalam Poligami

Fimela diperbarui 28 Sep 2016, 10:28 WIB

"Yah, Ayah boleh kok beristeri lagi. Asali memenuhi syarat karena niat ibadah, harus adil dan langkahi dulu mayatku!"

Demikian seloroh bernada ancaman dari seorang istri kepada suaminya yang menampakkan gelagat akan beristri lagi. "Nggak, kok, Bunda sayang. Ngapain punya dua, jika satu saja nggak habis - habis." Dan dengan sedikit pelukan mesra, maka berakhirlah debat yang sudah diawali dengan kalimat meradang ini. Lho bukannya pernyataan dalam seloroh ini justru membuka kesempatan untuk 'menghabiskan' yang 'satu saja' ini? Atau jangan - jangan niatan hanya ditunda sementara waktu, karena mungkin belum memiliki nyali dan juga modal untuk 'punya dua' istri?

Lain lagi kisah di seberang. "Silakan, Aku iklhas kok dipoligami, karena aku yakin ikhlasku mengantarkanku ke SurgaNya."
Seorang perempuan yang ibu dari 4 anaknya sekaligus pendidik senior di sebuah universitas ternama di Jogja, justru memiliki sudut pandang yang berbeda, bahkan berkebalikan dengan 'simbol keras' dari yang pertama tadi. Persetujuan diberikan kepada suaminya yang meminta ijin untuk menikahi seorang janda beranak, yang ditemui dan dikenal dalam sebuah kelompok pengajian yang dipimpin seorang kyai ternama. Akhirnya ia ikhlas saat suaminya menikah lagi di depan kyai mereka. Ia pun khirnya menjalani tes demi tes, ujian demi ujian terhadap keyakinan dan rasa ikhlasnya di hari - hari selanjutnya, mungkin hingga kini.

Poligami, oh, poligami. Bahasan menyangkut 'perintah' Illahiah yang selalu menimbulkan pertentangan dan kontroversi dari dulu hingga kini. Apalagi setelah akhirnya 'bumbu - 'bumbu' dituangkan ke belanga berupa dalil dan dalih, fakta dan data. Terutama kenyataan yang menunjukkan ketidakseimbangan perbandingan jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin, yang konon menunjukkan jumlah perempuan mengungguli jumlah laki - lakinya. Adakah ini satu pertanda atau malah satu bukti, kenapa poligami diperbolehkan sejak dahulu kala adanya? Dan apakah berarti tes demi tes, ujian demi ujian, akan semakin banyak bermunculan dan harus dihadapi oleh para perempuan di masa kini dan juga di kemudian hari nanti?

Nalar dan nurani seringkali memang harus berdiri di dua sisi yang berbeda bahkan berseberangan. Saat kontroversi memunculkan gesekan dan konflik dalam diri tiap - tiap orang, maka terjadilah pertempuran tersengit untuk memenangkan salah satunya. Pada kasus kedua, konon kabarnya pernikahan kedua si laki - laki akhirnyapun kandas di tengah jalan, karena pihak keluarga istri kedual ah yang tidak mau menerima fakta bahwa anggota keluarganya menjadi istri kedua.

Ironi berlanjut dengan ironi, demikian ungkapan tepatnya untuk menggambarkan kondisi yang terjadi. Seolah menegaskan kembali bahwa ironi yang mengiringi kisah kasih poligami, tak akan pernah berhenti menghampiri kehidupan manusia dalam kehidupan ini. Dan sepertinya akan semakin bertambah dalam wujud, ragam dam corak yang berwarna - warni.

Akhirnya satu kesimpulan bisa diambil. Satu ikhlas saja ternyata tak akan cukup dalam menjalani hubungan antar manusia yang multi-party. Terutama dalam sebuah praktek poligami. Saat ikhlas sebenarnya dituntut untuk hadir dalam hati setiap pihak yang terlibat di dalamnya, tanpa terkecuali. Poligami tanpa keseragaman ikhlasnya hati, bisa menimbulkan poly-calamity atau multiple disaster bagi siapapun yang mengalami dan menjalani. Ikhlas atau tidak, faktanya akan selalu ada yang mau menguji hati, menjalani tes nurani dan menjadi eksperimen diri dalam praktek poligami.

Dituliskan oleh Yasin bin Malenggang untuk rubrik #Spinmotion di Vemale Dotcom. Lebih dekat dengan Spinmotion (Single Parents Indonesia in Motion) di http://spinmotion.org/

(vem/wnd)