Mengolah Rasa dan Mengasah Jiwa Melalui Menulis

Fimela diperbarui 08 Okt 2016, 09:37 WIB

Menulis, mungkin adalah salah satu pekerjaan 'terpenting' di dunia. Dengan menulis, ide dan gagasan tak lagi menjadi sebatas angan - angan. Kisah hidup bisa dituliskan dan terus dikenang, sementara ilmu dan kebijaksanaan bisa diajarkan dan diwariskan melalui tulisan.

Tanpa disadari, menulis memberikan kita waktu untuk berhenti sejenak dan seseorang bisa masuk ke 'dunia lain'  dengan pikiran serta semangatnya sendiri. Ibaratnya, menulis seperti perjalanan sebuah petualangan di belantara aksara. Terkadang bertemu belukar kalimat menyendat lalu terurai. Bahkan terkadang masuk ke lorong - lorong waktu di antara dunia mimpi dan kenyataan.

Begitu hebatnya efek menulis bagi kehidupan manusia, sehingga tak heran jika seorang Habibi pun memilih untuk menulis sebagai 'obat rindu' atas kepergian Sang Kekasih, Ainun. Habibi pun mengakui telah mendapatkan sebuah terapi yang menyejukkan dengan menulis di usianya yang tidak muda lagi dan sendirian.

Namun, tak semua orang mau, bisa dan punya dorongan kuat untuk menulis. Seringkali orang-orang berucap, "Aku tak bisa menulis. Aku pasti berhenti di pertengahan jalan," atau "Aku tak punya bakat untuk menuliskan ide dan gagasan dalam pikiran."

Benarkah sedemikian berat untuk merangkai kata, menyulam kalimat untuk menjadi sebentuk tulisan? Hal ini mungkin benar, jika berkaitan dengan tugas 'berat' dalam penulisan skripsi atau thesis dalam dunia pendidikan. Saya pun pernah mengalaminya dan berantakan. Tapi jika menuliskan sejarah perjalanan hidup sendiri, sebuah memoar atau catatan harian, atau malah mengisahkan tentang mimpi dan angan - angan, apakah juga sedemikian beratnya?

Proses eksplorasi diri dalam sebuah upaya penulisan kadang sedemikian luar biasanya. Hingga seorang Ernest Hemingway berkata, "Menulis? Saya tidak menulis kok. Yang saya lakukan hanyalah duduk menghadapi mesin ketik lalu berdarah - darah." Tentunya, yang dimaksud Hemmingway dengan 'berdarah-darah' adalah kiasan semata untuk menunjukkan perjuangannya merangkai kata indah yang dikagumi seluruh dunia.



Menulis adalah proses 'menuangkan' segala rasa yang ada di dalam diri hingga seperti menumpahkan darah sendiri. Tak semua orang bisa menjadi Ernest Hemmingway, tetapi Hemingway membuktikan bahwa dengan menulis ia melepaskan beban diri. Sang Ernest pun bisa lega dan bahagia menemukan dirinya menjadi orang yang dikagumi dan dihormati karena proses 'berdarah - darah' dalam setiap penulisan yang dilakukannya.

Akhirnya, bisa atau tidak, mau atau enggan, sebenarnya hanya sebatas pada kuat dan lemahnya keinginan. Habibi dan Hemmingway hanyalah dua contoh yang bisa dikisahkan melalui tulisan ini. Masih banyak kisah nyata tentang proses terciptanya karya 'seorang penulis'. Baik yang berasal dari sebuah ketiadaan, keadaan, keterpaksaan ataupun malah hanya karena sebuah kebetulan.

Menulis dipercaya bisa menunda manusia dari serangan kepikunan. Menulis pun konon juga bisa untuk melatih kesabaran. Setidaknya menyabarkan diri terhadap diri sendiri dengan segala kelemahan dan keterbatasan, misalnya: saat menulis cek untuk gaji para karyawan, menjawab pesan singkat dari anak - anak yang meminta uang kiriman, atau menjawab e-mail dari seorang kawan berisi tentang tagihan utang. Mari menulis, mari berdarah - darah, untuk terapi rindu atau untuk melatih kesabaran.

Dituliskan oleh Yasin bin Malenggang untuk rubrik #Spinmotion di Vemale Dotcom. Lebih dekat dengan Spinmotion (Single Parents Indonesia in Motion) di http://spinmotion.org/

(vem/wnd)