Fenomena Mommies War ASI, Yuk Bijak Dalam Berkomentar

Fimela diperbarui 16 Nov 2016, 13:45 WIB

Moms, sudah berapa kali kamu sakit hati hari ini karena membaca kolom komentar soal ASI? Lalu, sudah berapa kali pula membalas semua sakit hati itu dengan kalimat yang tak kalah pedas?

For the love of your child, please stop it! Perang dalam catatan sejarah manapun tidak pernah menghasilkan suatu kebaikan. Ia hanya menciptakan kehancuran. Dan yang terjadi dalam perang antar-ibu (Mommies war) adalah kehancuran hati ibu yang lainnya. Yes, Mom berbalas komentar pedas hanya akan meruntuhkan mental dan fisik orang lain.

Kenapa sih Mommies War ASI ini bisa terjadi?

Menurut Wakil Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), Nia Umar, fenomena ini berawal dari kebanggaan seorang wanita yang bisa memberdayakan dirinya dengan memberi ASI. Ia pun ingin membagikan kebanggaan itu dengan cara sharing pada sesama ibu.

"Tapi kadang ada euforia-euforia saat sharing dan jadi menyalahkan atau memberi label kepada orang-orang yang memiliki pengalaman berbeda," Ujar Nia dalam perbincangannya bersama vemale.

"Inilah yang akhirnya menjadi celah sehingga ibu-ibu yang bisa menyusui dianggap sombong atau galak," sambungnya lagi.

Buat Mom yang memiliki kemampuan memberdayakan diri dengan ASI, sebaiknya mulai kini Mom memberi support kepada mereka yang tidak bisa melakukannya. Namun lakukanlah sebaik dan sepeka mungkin karena jauh di lubuk hatinya yang terdalam, mereka juga ingin seperti Mom. Dapat memberikan ASI kepada bayinya.
Stop memarahi, menghardik, bahkan melabeli mereka dengan kata-kata yang tidak baik. Bukan caci-maki yang mereka butuhkan, tapi dukungan sesama ibu.

Sedangkan Mom yang memang kesulitan menyusui, ada baiknya Mom mencari konseling. Dikatakan Nia, Mom harus mencari penyebab mengapa Mom tidak dapat menyusui, seperti biasa.

"Biasanya kejadian ibu tak bisa menyusui karena proses di awalnya yang kurang tepat. Hasil risetnya mengatakan dari 1.000 ibu hanya satu orang yang ASI-nya benar-benar kurang. Itu pun karena ada kelainan dari kecil sehingga jaringan payudaranya tak terbentuk," tegas Nia.

Mom, cobalah untuk berkonsultasi bersama orang terdekat. Dukungan orang terdekat akan membantu Mom dalam memenuhi cakupan ASI. Selain itu Mom juga dapat berkonsultasi bersama organisasi seperti AIMI. Dalam organisasi ini Mom akan mendapat pengetahuan tentang ASi.

Organisasi seperti AIMI dibutuhkan mengingat data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyebut bahwa angka menyusui di Indonesia hanya 30,2 persen --angka miris karena tak sampai setengah ibu yang menyusui.

"ASI menjadi kegiatan yang terancam punah, karena itulah ia perlu dilindungi dan dipromosikan," kata Nia lagi.

Oke ya Moms, mulai sekarang bersabarlah dalam memberi dan menerima masukan soal ASI. Jika ada sakit hati yang dirasa, lebih baik Mom diam dan mencari sosok lain yang cocok untuk sharing. Be happy, Mom!

(vem/zzu/apl)
What's On Fimela