Menyemai Harapan, Cinta dan Pelukan di Panti Asuhan Wiloso Projo

Fimela diperbarui 13 Des 2016, 09:55 WIB

"Ada 30 anak kini yang kami asuh, bukan hanya para yatim piatu, anak miskin dan terlantar tapi juga korban perceraian yang dibuang tak dipertanggungjawabkan."

30 anak, 30 kisah kehidupan di sebuah Panti Asuhan Anak di Yogyakarta. Mereka yang kini menguntai jalan kehidupan ke masa depan sambil mencoba mengurai kenangan dan seribu satu pertanyaan. Pertanyaan yang salah satunya mungkin, kenapa dan untuk apa mereka dilahirkan.

30 tahun lebih kembali ke masa lalu, nama 'Wiloso Projo' adalah kata pamungkas untuk membungkam kenakalan anak - anak yang terkadang berkepanjangan dan di luar batas. Ancaman tegas bagi mereka untuk 'dititipkan' di Wiloso Projo adalah kalimat paling keras yang bisa membuat hati keras melemas. Bayangan tentang sebuah panti sederhana nan kumuh, disesaki anak - anak berbagai usia dengan berbagai tingkah-lakunya. Lalu tunduk, diam, tak akan lagi membantah diiringi rasa takut dan cemas. Wiloso Projo pun hingga kini memiliki tempat di hati tersendiri.

30 tahun lebih berselang, membawa anak-anak untuk mengungjungi Wiloso Projo seolah memutar kembali kenangan saya akan sosok seorang ibu mampu menghidupi ketujuh anaknya sendirian. Semenjak perginya sang suami, ayah anak-anaknya, memenuhi panggilan Tuhan, ia berjuang hidup dalam keterbatasan dan ketegasan untuk bertahan hidup. Sang ibu berjuang dengan hanya satu tujuan, demi kebaikan anak-anaknya nanti di masa depan.

Hari ini saya datang dengan membawa sebuah amanat, berkunjung ke rumah kenangan Wiloso Projo yang tak berbeda jauh dari apa yang semenjak kecil dibayangkan. 30 anak yatim dan terlantar hidup berbagi dan bersama dikarenakan oleh berbagai latar belakang dan alasan. Sebuah kehidupan yang hanya bisa dibayangkan oleh anak-anak lainnya yang hidup dalam satu keluarga yang berkecukupan dan tidak saling menelantarkan. Bahkan kehidupan mereka menjadi contoh, pengandaian namun bisa jadi digunakan sebagai ancaman. Ancaman untuk sekedar meredamkan kenakalan anak-anak yang mungkin hanya terlalu ngotot meminta untuk dibelikan mainan.

"Pa, Adik nggak mau dititipkan di sini," keluh si kecil dengan memasang wajah muram. Hanya dengan melihat pun, dia sudah paham, bahwa tempat terbaik bagi seorang anak adalah berada dalam damainya sebuah rumah yang terdapat cinta, perhatian dan tidak saling menelantarkan di dalamnya. Namun terkadang, apalah daya seorang anak manusia jika hidup tak banyak memberikan ragam pilihan. Dan Wiloso Projo-Wiloso Projo lah yang akhirnya menjadi satu-satunya tempat bagi harapan mereka ditambatkan. Harapan akan sebuah cinta, pelukan dan kedamaian. Harapan tentang sebuah masa depan dari anak - anak yatim, miskin dan terlantar, atau korban perceraian yang diabaikan.

Dituliskan oleh Yasin bin Malenggang untuk rubrik #Spinmotion di Vemale Dotcom. Lebih dekat dengan Spinmotion (Single Parents Indonesia in Motion) di http://spinmotion.org/.

(vem/wnd)