Gila, Wanita Thailand Operasi Demi Tren Bibir Tanduk Kerbau

Fimela diperbarui 02 Mei 2017, 12:05 WIB

Sudah bukan rahasia lagi jika demi untuk terlihat cantik sempurna banyak wanita rela untuk melakukan operasi plastik. Nah, selain di Korea Selatan, negara yang penduduk wanitanya sering melakukan operasi plastik adalah Thailand. Beberapa waktu belakangan ini tren mengubah bentuk bibir menjadi mirip dengan tanduk kerbau sedang sangat digemari dan super populer di negara tersebut.

Sebenarnya prosedur ini sudah ada sejak tahun 2009 dan jadi sangat populer selama lima tahun belakangan ini. Operasi ini disebut juga dengan 'buffalo nut' atau 'krachap lips'. Awalnya banyak wanita yang ingin punya bentuk bibir seperti Patcharapa “Aum” Chaichua, seorang artis populer di Thailand. Sayangnya, hasilnya semakin tak memuaskan dan para dokter bedah berharap operasi ini tak diminta lagi.

Kasus ini pun jadi masalah yang berskala nasional. Para dokter berusaha untuk membujuk pasiennya agak tak melakukan operasi ini, namun banyak yang justru mencari dokter lain yang mau melakukan operasi ini. Beberapa dokter bahkan menaikkan harga operasi krachap ini jadi dua kali lipat agar permintaan menurun. Namun ternyata semakin banyak saja wanita yang ingin mengubah bentuk bibir mereka. Tren ini pun hanya ada di Thailand dan belum ditemui di negara lain.

Wanita yang melakukan operasi ini pun sangat mudah dikenali. Bagian tengah bibir mereka lebih maju dan lancip. Ini karena proses pengurangan jaringan di bagian kiri dan kanan bibir sehingga bibir terlihat lebih tipis.

Prosedur ini disukai karena kepercayaan Thailand yang mengungkapkan bahwa bibir tipis dan lancip akan membuat mereka jadi tenar dan punya keberuntungan yang besar. Orang Thailand pun sangat mudah terpengaruh tren dan kepercayaan tertentu.

Untuk biayanya sendiri terbilang cukup menguras kantong. Biayanya antara lain 30.000 baht (Rp.11,5 jutaan) per bagian bibir atau 55.000 baht (Rp.21,2 jutaan) untuk kedua bagian bibir. Para dokter bedah mengaku bahwa operasi ini jadi 90% penghasilan mereka.

Prosedur ini ternyata punya komplikasi dan berisiko. Bibir yang terlalu tipis nantinya jadi tak proporsional sehingga tak bisa menutup atau mengatup sempurna. Bibir bahkan tampak hilang saat tersenyum saking tipisnya. Banyak orang yang melakukan operasi ini mengaku bahwa efek buruknya antara lain senyum yang tak simetris, timbul keloid, dan juga munculnya jaringan baru yang sakit sehingga mereka tak bisa menutup bibir dengan benar. Beberapa ingin agar bentuk bibir mereka kembali, namun bibir yang terlalu tipis tak bisa lagi dikembalikan seperti semula.

(vem/ivy)