Ibu, Terima Kasih Telah Menjadi Wakil Tuhan Untukku di Dunia Ini

Fimela diperbarui 14 Des 2017, 13:00 WIB

Kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Surat untuk Ibu ini begitu indah. Apa yang ditulisnya pasti dirasakan juga oleh sebagian besar anak perempuan di dunia ini.

***


Aku tahu Bu, surat ini tak sempurna, tak setulus dan semurni kasihmu kepadaku. Surat ini tak ubahnya setetes ucapan terima kasih di tengah samudera cinta yang telahku terima darimu. Sehingga kesegarannya tak kan memadai untuk membalas apa yang sanggup dan rela kau berikan.

Surat yang selama ini terkatung-katung di luasnya lautan hati, masih tergantung di langit-langit harapan, akan segera dibaca oleh Ayah dan Ibuku. Jika tak mengutarakannya, hati ini seperti diselimuti tirai kebodohan yang terbentang, terduduk dalam singgasana kenestapaan yang sekian lama terpendam semakin terasa sakit jadinya.

Terima kasih telah merawat dan menemaniku bertumbuh hingga dewasa. Meski sudah barang tentu, amat menggemaskan jika aku selamanya tetap menjadi anak kecil. Terima kasih telah mengajari dan membiarkanku berbicara dan mengoceh tak karuan. Selama masa-masa itu, terima kasih telah dan selalu mendekap juga melindungiku dari gemerlap dan kebisingan  dunia.
 
Terima kasih karena Ibu tidak ada dalam keadaan mewah ketika aku lahir dan dibesarkan, karena di sana kami belajar arti kesederhanaan. Terima kasih karena Ibu tak memiliki cukup uang dan tak dapat selalu membelikan apa yang kumau, seperti layaknya anak-anak lain. Namun, di sana aku dibentuk untuk kuat tahan banting. Aku belajar arti melipat tangan dan menutup mata untuk berharap hanya pada-Nya. Di masa depan, jika aku mempunyai uang, aku belajar untuk tidak menghambur-hamburkannya dan tidak khawatir ketika tak memilikinya.



Terima kasih karena pada masa itu, Ibu tak selalu memberiku ‘kenyamanan’ karena sekarang aku telah beranjak dewasa dan menikmati hidup. Aku bisa hidup di mana saja, makan dengan apa juga, dan tidur beralaskan tikar sekalipun tak jadi soal, aku pasti tetap bersyukur. Terima kasih karena telah membawaku dalam hidup yang sederhana. Di sana aku belajar berbagi dan mengutamakan saudaraku yang lain – satu telur dibagi tiga -  belajar tidak mengeluh, tetapi juga tidak pasrah dengan keadaan.

Terima kasih telah membawaku dalam keadaan hampir tidak makan, karena di sana aku belajar berharganya sebutir nasi. Terima kasih ketika sering terlambat membayar biaya sekolahku, karena di sana aku belajar menghargai pendidikan. Terima kasih karena mengajarkanku tetap percaya diri dengan apa yg kumiliki dan tidak bersusah hati dengan apa yg tidak kupunyai.



Ketika aku beranjak remaja, nakal dan susah diatur, terima kasih karena engkau telah banyak bersabar. Terima kasih karena tidak memperlakukanku dengan makian, pukulan, tendangan dan bentuk kekerasan yang lain, sehingga kelak, aku tak akan melakukannya pada anak-anakku. Meski dulu aku tak mengerti, terima kasih karena Ibu tetap minta maaf jika Ibu salah, karena sekarang aku mengerti bahwa seorang anak belajar dari keteladanan.

Terima kasih telah menjadi wakil Tuhan untukku di dunia ini. Ada saatnya kita berpisah, meski aku tak sanggup membayangkan hari itu datang, tetapi aku harus siap. Aku berharap, aku lah yang mendahuluimu, sehingga takkan pernah kurasakan rasanya ‘kehilangan’ itu. Karena itu, sebelum waktunya tiba, aku berterima kasih atas semua hal yang telah engkau beri tanpa pamrih. Aku tak dapat berbuat banyak untuk menggantinya. Namun, selama engkau masih bernapas, doa dan perhatianku, itulah ucapan terima kasihku. Aku dilahirkan, untuk menghormatimu. Cium dan peluk untukmu, Ibu!




(vem/nda)