Tuak yang Bikin Mabuk, Modal Ibu Sekolahkan Aku Sampai ke Perguruan Tinggi

Fimela diperbarui 27 Des 2017, 19:30 WIB

Kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Surat untuk Ibu ini sungguh menyentuh hati. Tentang betapa besarnya perjuangan serta pengorbanan seorang ibu demi anak-anaknya.

***

Kusaksikan dia. Kedua tangannya masih menghitung lembaran rupiah. Begitu sigap, ibu paruh baya itu lalu menuju dapur. Segera mengisi sebotol minuman primadona berwarna putih yang dikenal bernama tuak. Lalu mengantarkan ke meja si pemesan. Sejurus kemudian kembali lagi beliau melayani pelanggan lapo-nya. Kekuatan dalam raganya entah datang dari mana. Ingin kucuri ilmunya. Kemerdekaan telah berhasil diraihnya. Sungguh bangga kubisa menyebutnya ibu. Ya, sepotong kasih dalam surat ini kupersembahkan untukmu.

Ibu entah bagaimana rasanya kubalas jasamu. Kata orang kata-kata bisa menguap begitu saya bagai asap. Maka, kutulis semua ungkapan di dada agar saat rindu menyapa kita bisa saling membaca.



Benar yang engkau katakan, Bu. Tuhan pasti mengetahui hati umat-Nya yang memohon rezeki. Sejarah telah terukir. Dari uang berjualan tuak, seorang anak boleh meraih mimpi. Seorang penjual tuak berhasil menamatkan anaknya sampai ke perguruan tinggi. Ini aku anakmu, terpatri akan bahagiakan dirimu.

Dikisahkan, hari demi hari berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun lapo tuak ini menjadi sumber rezeki kita. Walau kata mereka kami berdosa menyediakan minuman yang membuat orang mabuk-mabukan. Aku ingat pernah orang berkata, “Pekerjaan ibu ini membuat orang lain mabuk." Menatap bola matanya, kuyakin jauh dalam benaknya pastilah bergema, ”Biarlah mereka berkata apa, yang penting aku berjualan dan mampu menghidupi keluargaku.” Betapa luar biasanya ibuku.

“Hidup harus terus berjalan, semua sudah diatur Tuhan." Itu prinsipmu yang kita imani. Namun sering kulihat engkau tertegun. Seperti sore ini, engkau menatap tajam ke arah sudut pintu lapo kita. Kuarahkan bola mataku ke arah yang sama. Kembali berhembuslah napas kita bersamaan. Pintu yang dipasang di sudut depan lapo karya tangan bapak ketika ia masih hidup. Meja ini juga karya tangan dan hatinya. Ia si tukang bangunan yang jenius dan bijaksana. Walau raganya tak tampak menemani ibu mencari nafkah, namun rohnya dan cintanya melingkupi lapo kita ini. Tetaplah semangat, bu.



Hanya doa yang selalu bisa kupanjatkan agar engkau selalu sehat, bu. Maafkan segala luka yang pernah sengaja dan tak sengaja membuatmu pilu. Aku masih saja egois dan manja padamu. Tiada engkau berkeluh, lelah, dan lemah di hadapanku. Wanita terkuat yang pernah ada bagiku. Semoga aku bisa sepertimu ibu. Aku tak bisa berucap langsung akan rasa salutku padamu. Tulisan ini mewakilinya, bu. Terpana akan pengorbananmu sebagai seorang hawa. Benarlah kata mereka bahwa malaikat tak selamanya memiliki sayap.

Terdiam sejenak dalam renungan
Kala bayang wajahmu datang menyapa
Waktupun berputar ke belakang
membuka memori kenangan kecilku

Tetesan keringat dan air mata
berjuang melawan maut
Demi kehadiran sang buah hati
Mendengar tangisan pertamaku
jadi kebahagian tak ternilai bagimu

Saat kumulai belajar berjalan
kau dengan setia menjagaku
Kumulai belajar bicara
engkau dengan sabar mengenalkanku pada kata-kata

Hingga kudewasa kasih sayang itu tetap sama
Tak pernah pudar dan terkikis oleh waktu

Bekerja tanpa mengenal kata lelah
Tidur tanpa mengenal kata lelap
Terjaga dalam gelapnya langit subuh
Demi mencari sesuap nasi untukku

Tapi, balasan apa yang kuberi
Hanya goresan luka dan air mata
Meskipun begitu kasih sayang itu tak berkurang sedikit pun

Selalu kau sebut namaku dalam setiap doamu
Air mata ini jatuh berlinang dengan derasnya
Mengingat betapa mulianya engkau wahai ibu

Pepatah berkata,
“Surga di bawah telapak kaki ibu”
Izinkanlah daku mencium surga itu
ibu...

Keterangan:
Tuak: Minuman khas suku Batak Toba yang terbuat dari pohon tanaman/pohon aren atau kelapa.
Lapo: Warung atau kedai dalam bahasa Batak Toba.
Lapo tuak: Warung atau kedai yang menjual minuman tuak.






(vem/nda)
What's On Fimela