Sukses

FimelaMom

Waspada Parental Burnout, Kenali Tanda-tandanya

ringkasan

  • Parental burnout adalah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental kronis yang spesifik terkait stres pengasuhan anak.
  • Gejala utamanya meliputi kelelahan ekstrem, jarak emosional dari anak, perasaan tidak efektif, dan rasa muak dengan peran orang tua.
  • Kondisi ini juga dapat memicu iritabilitas, peningkatan perilaku adiktif, serta berbagai masalah kesehatan mental dan fisik lainnya.

Fimela.com, Jakarta - Menjadi orangtua adalah perjalanan yang penuh kebahagiaan, namun tak jarang juga diwarnai tantangan. Di tengah padatnya rutinitas dan tuntutan mengasuh, tak sedikit orangtua yang diam-diam bergulat dengan apa yang disebut parental burnout. Kondisi ini merujuk pada kelelahan fisik, emosional, dan mental yang mendalam akibat stres pengasuhan yang berkepanjangan, mirip dengan occupational burnout namun terjadi dalam konteks peran sebagai orangtua.

Mengenali gejala parental burnout menjadi langkah awal yang krusial untuk bisa mengatasinya. Berikut adalah beberapa tanda yang perlu diperhatikan:

Salah satu gejala paling menonjol dari parental burnout adalah kelelahan fisik dan mental yang luar biasa. Orangtua yang mengalaminya akan merasa terkuras dan kehabisan energi secara kronis, bahkan setelah beristirahat. Mereka mungkin terbangun di pagi hari sudah dalam keadaan lelah, hanya dengan memikirkan hari yang akan dijalani bersama anak-anak. Pikiran untuk melakukan sesuatu untuk atau bersama anak-anak bisa terasa seperti harus mendaki Gunung Everest. Kelelahan ini juga dapat memicu masalah tidur, seperti sulit terlelap atau tetap terjaga, meskipun tubuh terasa sangat letih. Selain itu, beberapa orang tua melaporkan lebih rentan terhadap penyakit, seperti flu, karena kondisi fisik dan mental yang terkuras.

 

Jarak Emosional dan Perasaan Tak Berdaya

Seiring waktu, orangtua yang mengalami burnout mungkin mulai merasakan jarak emosional dari anak-anak mereka. Mereka bisa merasa terlepas dari kehidupan sehari-hari, seolah hanya "menjalani saja" tanpa keterlibatan emosional yang berarti. Ini seringkali merupakan mekanisme pertahanan diri untuk menghemat energi yang tersisa, di mana orangtua yang kelelahan secara emosional melepaskan diri dari anak-anak mereka. Sayangnya, penelitian menunjukkan bahwa tahap jarak emosional ini berisiko menyebabkan pengabaian anak dan bahkan kekerasan.

Di samping itu, muncul perasaan tidak efektif sebagai orangtua. Mereka merasa tidak mampu menjadi orang tua yang baik atau meragukan kemampuan diri dalam mengasuh. Ada kontras yang mencolok antara sosok orangtua ideal yang mereka impikan dengan kenyataan yang mereka alami. Perasaan ini bisa menimbulkan rasa malu, bersalah, dan hilangnya motivasi pada aktivitas yang dulunya dinikmati. Bahkan, ada perasaan "muak" dengan peran sebagai orangtua, di mana mereka mungkin mencintai anak-anaknya namun tidak lagi tahan berada di dekat mereka atau tidak lagi menikmati peran pengasuhan.

Dampak pada Perilaku dan Kesehatan Mental

Parental burnout juga memengaruhi perilaku sehari-hari. Orangtua cenderung menjadi lebih mudah tersinggung, frustrasi, dan cepat marah, bahkan pada hal-hal kecil. Kesabaran menipis dan kontrol impuls menurun. Sebuah studi dari The Ohio State University bahkan menemukan bahwa orang tua yang mengalami burnout lebih mungkin untuk menghina, mengkritik, dan membentak anak-anak mereka.

Sebagai upaya untuk menenangkan diri atau melarikan diri dari tekanan, peningkatan perilaku adiktif seperti minum alkohol atau merokok juga bisa menjadi tanda parental burnout. Kondisi ini juga terkait erat dengan risiko masalah kesehatan mental lainnya, termasuk depresi dan kecemasan. Dalam kasus yang lebih parah, dapat muncul ide untuk bunuh diri atau melarikan diri, karena perasaan terjebak. Gejala fisik seperti sakit kepala dan nyeri otot, serta "brain fog," kebingungan, dan pelupa juga sering dilaporkan. Selain itu, tingkat stres yang meningkat, perasaan isolasi, dan menghindari orang lain, serta perasaan dendam juga merupakan bagian dari kompleksitas gejala parental burnout.

Tak hanya itu, parental burnout juga dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas konflik antara orangtua, merusak komunikasi dan meningkatkan ketegangan dalam hubungan. Pada akhirnya, orangtua yang mengalami kondisi ini mungkin kehilangan kegembiraan atau koneksi dengan anak, tidak lagi merasakan kesenangan dalam interaksi pengasuhan sehari-hari yang dulunya memberikan kebahagiaan.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading