Belum Terlambat untuk Memulai, 2018 Pasti Bisa Jadi Tahun yang Lebih Baik

Fimela diperbarui 29 Jan 2018, 14:30 WIB

Apa resolusimu tahun ini? Apakah seperti resolusi sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba New Year New Me ini?

***

Pagi itu sunyi senyap, tidak seperti biasanya. Bahkan keheningannya masih bertahan hingga siang hari. Nampaknya segelintir orang yang menyambut kedatangan 2018 dengan suka cita di malam sebelumnya tengah tertidur pulas di kasur masing-masing.

Aku bukan bagian dari mereka. Tepat pukul 03.30 pagi aku sudah terbangun dan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu – melaksanakan tahajud – sebagai salah satu resolusiku di tahun yang baru ini. Tak hanya kesunyian pagi itu, aku pun turut ditemani dengan dinginnya Bandung yang menusuk-nusuk badanku, juga sisa-sisa aroma mesiu tanda ada kembang api lagi di langit malam. Ah, damainya pagi ini.

Waktu Subuh masih cukup lama, sekitar satu jam lagi, atau bahkan kurang. Kumainkan handphone dengan kedua tanganku, sekadar mengisi waktu tanpa membuatnya menjadi sia-sia. Kulihat notes yang sudah kuubah latarnya dengan latar polos berwarna merah, lengkap dengan tag arsip berjudul ‘Build My Future’. Kupindai catatan yang kubuat beberapa hari lalu itu sampai ke bawah, kembali lagi ke atas, kubaca lagi sampai bawah, begitu seterusnya. Entah kenapa senyum itu tak bisa lenyap dari bibirku. Senang sekali membacanya. Resolusiku di tahun 2018.



This year is going to be the year,
My year.
Soon!
To be or not to be!

Catatan itu bukan hanya sekedar resolusi, melainkan sebuah target yang benar-benar harus kucapai tahun ini. Memang banyak sekali yang aku cantumkan di sana. Mulai dari rutin melaksakan sunnah Tahajud dan Dhuha, mengubah pola makan dengan puasa sunnah Senin Kamis, rajin berolahraga setiap minggu, lebih produktif dengan menghasilkan banyak naskah, bisa mengunjungi enam kota besar di Indonesia, sampai target untuk lulus dari SMA dan diterima di perguruan tinggi negeri (PTN). Sungguh, bagiku itu semua tidak berat, melainkan menjadi sebuah tantangan yang terus membuatku bersemangat untuk menjalani hidup.

Berkaca dari pengalaman di tahun 2017. Tepat di hari ulang tahunku yang ke-17, ayah memberiku berbagai macam nasihat mengenai tumbuh menjadi dewasa. Tentu saja, itu semua tidak benar-benar aku maknai dan hanya menjadi sebuah masukan yang tak begitu berarti buatku. Tahun itu kujalani dengan bebasnya. Menjadi dewasa, bagiku, ialah bebas melakukan apa yang menurutku baik tanpa perlu diingatkan oleh orang tua lagi. Lihatlah aku kala itu, jarang sekali aku pulang ke rumah jika adzan Maghrib belum berkumandang. Bercengkrama dengan teman sebaya hanya untuk menyebarkan hal yang belum tentu benar adanya. Menanti si doi lewat hanya untuk terhanyut dalam pesonanya yang tampan. Mencari lagu-lagu terbaru untuk diperdengarkan kepada teman-teman yang lain. Meski sungguh aku menikmatinya, timbul satu pertanyaan yang cukup meresahkan bagiku.

Apa arti dari semua ini?
Apa tujuan aku melakukan semua ini?
Apakah Tuhan akan mempertanyakan berapa tempat yang telah aku kunjungi bersama teman-teman? Apakah Tuhan akan mempertanyakan bahwa sekarang Siti sudah berpacaran lagi dengan Asep? Dan Dodi menjadi cemburu karenanya? Apakah Tuhan akan mempertanyakan seberapa banyak album yang telah ku hafal dan ku koleksi selama ini?
Tentu tidak!

Sebaliknya, mungkin Tuhan akan bertanya, hidupmu, kau pergunakan untuk apa?

Sayangnya, semua itu baru kusadari di penghujung tahun 2017. Masih ingat dalam benakku, kala itu kajian dakwah dari Ustadz Hanan Atakki melantun dari speaker handphone-ku. Aku yang kala itu tengah asyik bermain gim, sempat terhentak mendengar ulasan yang beliau sampaikan. Kajian itu tidak berdurasi lama, hanya sekitar 19 menit, namun cukup membuat hatiku bergetar dan meragukan diriku sendiri. Siapa aku?

Entah mengapa hari-hari berikutnya jadi terasa berbeda. Ada sesuatu dalam diriku yang berubah, dari caraku memandang hidup ini. Aku tidak lagi memposisikan dunia sebagai ‘aku’ – yang segala sesuatunya harus seusai keinginanku, yang segala sesuatunya harus bisa memenuhi kebutuhanku – melainkan sebagai ‘kalian’. Apa yang bisa aku perbuat untuk dunia ini? Apa yang bisa aku tinggalkan untuk dunia ini? Dan apa yang bisa aku ambil dari dunia ini?



Bersamaan dengan itu aku menemukan sebuah kutipan yang kini menjadi prinsip hidupku, yang sangat kupegang erat dan kubawa ke manapun aku pergi, "Take memories, leave footprints."

Ke manapun aku pergi, aku akan membawa kenangannya bersamaku. Dan ke manapun aku pergi, aku akan meninggalkan jejakku di situ, menjadikannya kesan agar semua orang bisa mengingatku dalam hatinya.

Hidupku seolah hidup oleh api yang nyalanya bukan merah, kuning, atau jingga, melainkan biru. Ada ketenangan di sana. Ada rasa damai di sana. Dan tentunya ada kesederhanaan di sana. Api yang selama ini hanya kunyalakan dengan kertas, yaitu uang yang dulu kuanggap bisa membahagiakan semua orang, kini kunyalakan dengan kayu jati yang super kuat, yaitu harapan yang mungkin akan bertahan hingga lima atau sepuluh tahun ke depan, cukup lama untuk membuatku tetap hidup. Aku tidak lagi mencari uang. Kini aku mencari pengalaman. Pengalaman hidup, pengalaman mendengar kisah orang lain, pengalaman mendengar tawa orang lain, dan pengalaman berbagi kasih dengan orang lain. Ada kepuasan tersendiri bisa melihat orang lain tersenyum atau bahkan tertawa karena aku. Dan, bahagiaku datang dari sana.



Tahun 2018, 18 pula usiaku. Sempat terpikir dalam benakku bahwa itu semua sudah sangat terlambat untuk dimulai. Tapi sisi dalam diriku yang lain menyatakan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Setidaknya aku masih bisa merasakannya barang sehari.

Dengan semangat yang baru, aku menulis itu semua resolusiku di tahun 2018. Bukan sekadar catatan yang kelak tenggelam dalam catatan lainnya, melainkan sebuah target dan tugas yang harus kuselesaikan di tahun ini.

Bayangkan apa yang bisa aku lakukan dengan rutin berolahraga setiap minggu? Tubuhku akan menjadi lebih ringan, dan dengan itu aku dapat membantu orang lain dengan mudah.



Bayangkan apa yang bisa aku lakukan dengan menjadi lebih produktif dan menghasilkan banyak naskah? Akan ada banyak orang yang terhibur dengan tulisanku, dan dengan itu mereka bisa mendapatkan pelajaran atau bahkan inspirasi yang baru.

Bayangkan apa yang bisa aku lakukan dengan mengunjungi enam kota besar di Indonesia? Akan ada banyak cerita yang bisa kubagi kepada semua orang. Mungkin saja cerita itu mewakili jiwa-jiwa yang belum sempat mengunjunginya, dan dengan membaca cerita yang kubagi mereka merasa semakin bergairah untuk menjelajah.

Bayangkan apa yang bisa aku lakukan dengan lulus SMA dan diterima di PTN? Betapa bangganya kedua orang tuaku. Menangis haru memelukku dan mengucapkan banyak ungkapan bahagia di telingaku. Itulah kebahagiaan yang hakiki!



Dan bayangkan apa yang bisa aku lakukan dengan rajin melaksanakan sunnah tahajud, dhuha, dan puasa Senin Kamis? Dengan begitu aku bisa senantiasa berdoa kepada Tuhan untuk keselamatan dan kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarku. Tidak ada hal yang lebih baik di dunia ini melainkan doa dari sesama saudara muslim, dan Tuhan senantiasa mendengar doa tersebut.

2018. Kuharap menjadi tahunku. Tahun di mana aku terlahir kembali menjadi sosok yang baru, sederhana, anggun, cerdas, dan ramah. New year, new me!




(vem/nda)