Memiliki Weton Sama, Aku dan Ibu Tak Pernah Akur Tapi Saling Rindu

Fimela diperbarui 26 Feb 2018, 14:30 WIB

Hubungan ibu dan anak selalu memiliki ceritanya sendiri-sendiri. Seperti kisah Sahabat Vemale yang disertakan dalam Lomba Bukan Cinta Biasa ini.

***

Hubunganku dengan ibu tak seindah dalam lagu. Sering kami berselisih pendapat tentang berbagai hal, sering pula kami salah paham sehingga menyebabkan hubungan kami renggang. Namun anehnya jika kami berjauhan seperti ada kehilangan besar. Kami saling mencari, bertanya-tanya kapan kembali. Mungkin kami hanya tak pernah menyadari bahwa sebenarnya kami saling mencintai.

Perihal hubungan kami yang macam Tom and Jerry ini, menurut kepercayaan Jawa karena weton (hari kelahiran) kami sama. Biasanya orang dengan weton yang sama akan tidak akur. Sedikit-sedikit salah paham dan bertengkar. Tapi, kalau salah satu tidak ada serasa ada sebagian dari dirinya yang hilang. Ini sudah kubuktikan. Dari kecil sampai sekarang siklus hubunganku dengan ibu selalu saja seperti itu. Mesra-bertengkar-mesra lagi-bertengkar lagi. Kami sama-sama keras. Sama-sama susah mengalah. Dan biasanya Ayah lah yang menjadi penengah di antara kami ketika bermasalah.

Rasanya hampir tidak ada hari yang terlewati tanpa ribut-ribut kecil dengan ibu. Saking terbiasanya, aku tidak pernah menganggap itu sebagai hal yang besar. Demikian juga ibu. Kalau lagi akur kami akur banget kayak sahabat, tapi kalau lagi berselisih pendapat bisa saling melemparkan kata-kata pedas. Aku sendiri selama ini berusaha keras untuk mengubah situasi, namun sering gagal mengendalikan emosi. Aku tak tahu cara apalagi yang bisa kulakukan agar aku bisa bersikap dewasa sebagai anak dan memaklumi watak keras ibuku. Sampai suatu ketika jalan itu terbuka sendiri.



Tiga tahun lalu, aku memperoleh kesempatan emas untuk mendapatkan pekerjaan impianku di Kalimantan Timur. Kabar ini disampaikan bagian kepegawaian pada saat aku merasa pengajuan pindahku tak akan diterima sebab sudah dua tahun proses itu berjalan nyaris tak ada ujungnya. Alhamdulillah. Aku bersyukur sekali kepada Allah yang telah memberiku kesempatan menggapai pekerjaan yang sesuai dengan panggilan jiwaku. Dengan gembira aku mengabari ibu kalau aku akan segera pindah ke luar pulau. Ini bakal jadi langkah awal untuk menggapai karir baru sebagai pengajar.

Tak kusangka respon ibu malah berkebalikan. Ia nampak sedih membayangkan kepergianku ribuan kilometer dari rumah. Lagipula menurut ibu karierku di tempat semula cukup bagus sehingga sayang kalau aku harus memulai dari nol lagi. Aku butuh beberapa hari untuk meyakinkan ibu kalau aku akan baik-baik saja di rantau. Juga, berusaha meyakinkannya bahwa aku akan lebih sukses dari semula di tempat baru.



Ibu bercucuran air mata ketika aku berpamitan. Beda sekali dengan Ayah dan adik-adikku  yang melepasku penuh haru, namun tak sedikit pun menitikkan ari mata. Ibu nampak tak rela melepaskanku meski selama ini kami kerap tak akur. Ibu begitu khawatir karena aku bakal berada di tempat baru sendirian tanpa sanak saudara. Aku peluk ibu dan meminta doanya agar aku nanti baik-baik saja di sana. Lagian selama ini aku sudah biasa melanglang buana sendirian. Seharusnya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku berjanji untuk sering-sering menelepon ibu dan seluruh keluarga.

Bulan-bulan awal di tempat baru terasa berat. Selain karena penyesuaianku yang agak lambat, juga karena setiap kali kutelepon ibu selalu menangis. Ibu merasa sedih memikirkanku. Hal-hal yang dipikirkan ibu seringkali terlalu berlebihan. Misalnya, apakah aku punya cukup uang, cukup makan, atau diperlakukan baik oleh orang. Ibu khawatir jika aku menjalani kesulitan seorang diri. Karena bagaimanapun sebagai orang baru, tentu akan banyak sekali tantangannya. Aku bilang pada ibu baik-baik saja. Meskipun pada saat-saat tertentu aku menjawab telepon sambil menahan tangis karena kondisi yang sulit, namun aku berusaha meyakinkan ibu kalau apa yang dikhawatirkannya tidak benar.



Lama-lama kekhawatiran ibu mulai reda. Hubungan kami pun nampaknya jauh lebih baik ketika jarak memisahkan. Memang seperti lagu, “Kalau sudah tiada baru terasa, bahwa kehadirannya sungguh berharga." Ketidakhadiran secara fisik justru menguatkan ikatan emosionalku dengan ibu. Aku dan ibu lebih bisa mengerti satu sama lain. Di telepon, ibu biasa curhat lama-lama tentang apa saja di rumah, soal adik-adikku yang nakal, kucing kesayanganku yang mati, kolam ikan yang baru diisi benih dan sebagainya. Kami nampak seperti dua sahabat lama yang saling merindukan.

Seiring waktu juga aku menyadari bahwa kasih sayang orangtua pada anak-anaknya seringkali salah dipahami. Seperti sikap ibuku padaku selama ini. Aku baru merasa kasih itu menusuk hati saat hari ulang tahunku tiba, ibuku adalah orang pertama yang mengucapkan selamat padaku. Menjelang pagi, kubuka SMS dari ibu, “Selamat ulang tahun, mudah-mudahan sukses selalu, panjang umur, dan tercapai cita-citanya." Air mataku menetes. Ingin rasanya kupeluk ibu. Namun apa daya jarak terlalu jauh. Aku menyesali sikap kerasku pada ibu selama ini, begitu menyadari betapa cinta ibuku padaku jauh lebih besar dari yang kumengerti.

Setelah itu sikap dan hormatku pada ibu bertambah besar. Hampir tiap hari ibu kutelepon sekadar bertanya bagaimana keadaannya. Ibu juga nampak jauh berubah. Tak ada lagi kata-kata pedas di setiap percakapan kami. Setiap tahun, setidaknya dua kali aku pulang ke kampung halaman. Ibu selalu menyambutku dengan hangat. Tak ada lagi percekcokan kami. Kami ternyata jadi saling menyayangi setelah merasakan betapa berartinya setiap pertemuan.







(vem/nda)
What's On Fimela