Menikah Tak Cukup Cuma dengan Cinta, Tapi Juga Restu Orangtua

Fimela diperbarui 02 Mar 2018, 13:00 WIB

Aku termasuk seorang wanita yang tak mudah jatuh cinta. Sejak masa remaja, banyak teman lelaki yang naksir tapi tak pernah aku balas perhatian mereka. Dalam kamus hidupku waktu masa sekolah dulu, aku harus membanggakan orangtuaku dengan cara rajin belajar sehingga bisa menjadi yang terbaik di sekolah.

Aku menjadi anak yang suka belajar. Kerja kerasku membuahkan hasil. Aku selalu mendapat peringkat satu sejak SD sampai SMA. Bahkan aku mendapatkan beasiswa untuk kuliah di pulau Jawa saat tamat SMA. Singkatnya, di masa remajaku, aku tak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta. Teman-temanku tak banyak. Aku menjadi orang yang cenderung tertutup dalam pergaulan.

Ketika aku menjadi perantau di kota Bandung, aku mulai membuka diri dalam bergaul karena jauh dari keluarga. Kalau aku tidak bisa menjalin hubungan baik dengan orang lain, tidak ada yang akan menolongku jika aku sedang ada masalah.

Aku mulai aktif di kampus dan mengikuti kegiatan yang ada. Temanku mulai banyak baik laki-laki maupun perempuan. Aku sudah tidak kaku lagi dalam menjalin suatu hubungan pertemanan. Sekitar satu tahun kuliah, aku mulai dekat dengan salah satu teman lelaki satu jurusan. Ia sering datang ke tempat kosku atau sering mengajakku jalan-jalan. Dengan frekuensi pertemuan kami yang sering terjadi, aku mulai jatuh cinta padanya. Aku merasa bahwa ia adalah cinta pertamaku. Begitupun sebaliknya. Akhirnya kami berkomitmen untuk menjalin cinta setelah satu tahun saling mengenal.

Awalnya hubungan kami berjalan mulus. Keluargaku sudah merestui hubungan kami. Walaupun mereka belum pernah bertemu langsung tapi mereka percaya dengan pilihanku. Saat aku dikenalkan pada keluarga pacar, ternyata hubungan kami ditentang. Terutama dari ayahnya.



Alasannya karena aku bukan berasal dari daerah yang sama dengan mereka. Beliau masih berpegang teguh pada prinsip “Bibit, Bebet, Bobot”. Tentu saja aku merasa sedih. Tapi kami tetap menjalin hubungan cinta kami dengan harapan akan mendapat restu dengan berlalunya waktu. Aku sering berkunjung ke rumah pacarku kalau ada kesempatan. Walau belum mendapat respon yang baik, aku tetap tegar.

Tahun berganti tahun. Kami sudah lulus kuliah dan bekerja tapi tetap belum ada perubahan. Keluargaku sudah menanyakan kapan menikah setiap kali mereka telepon (aku bekerja di Jakarta sejak lulus). Aku paham dengan kekhawatiran mereka. Dua adikku sudah menikah mendahului aku. Aku hanya meminta mereka untuk bersabar.

Sekuat-kuatnya aku, di tahun ke-9, aku merasa tidak baik kalau hubungan kami tidak ada kejelasannya. Aku mulai mendesak pacarku, hubungan kami mau berakhir manis di pelaminan atau putus saja. Dia sempat kaget dengan ultimatumku itu. Dia memintaku untuk sabar.

Sahabat-sahabatku pun terus memberi semangat padaku untuk bertahan. Aku mendapat sebuah kartu dari pacar yang membuatku mulai semangat lagi. Di kartu tersebut ada sebuah kutipan yang berbunyi,

"Seseorang yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah melepaskanmu. Bahkan jika ada ratusan alasan untuk menyerah, dia punya satu alasan untuk bertahan."

Aku menyimpulkan bahwa pacarku memang sungguh-sungguh mencintaiku.



Singkat cerita, selama satu tahun sejak aku memberi ultimatum, aku mencoba untuk lebih mendekatkan diri dengan keluarganya. Walaupun tidak mendapat sambutan yang hangat, aku terus berusaha menjadi seorang calon menantu yang menghormati seluruh keluarga.

Usahaku tidak sia-sia. Di tahun ke-10 hubungan cinta kami, restu dari Bapak kami dapatkan. Suatu berita yang sangat membahagiakan buat kami berdua. Persiapan pernikahan langsung diadakan.

Di bulan November 2007 kami resmi menjadi suami dan istri. Kini sudah masuk tahun ke-11 usia pernikahan kami. Tuhan mempercayakan dua putri cantik yang menambah kebahagiaan keluarga kecil kami. Semoga pernikahan ini langgeng sampai maut yang memisahkan kami. Dan kami bisa membuktikan bahwa CINTA KAMI BUKAN CINTA BIASA. Amin.       



(vem/nda)