Punya Suami Pemalas, Ria Berjuang Hidupi Anaknya dengan Jadi Driver Ojek

Fimela diperbarui 14 Mar 2018, 13:00 WIB

Setiap wanita punya kisah hebatnya masing-masing. Banyak inspirasi yang bisa didapat dari cerita seorang wanita. Seperti tulisan dari sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Rayakan Hari Perempuan Sedunia ini.

***

Tulisan ini cerita hebat seorang wanita yang memberikan inspirasi dan motivasi untukku untuk bisa berpikir, bergerak dan bermanfaat. Cerita tentang ketangguhan seorang wanita yang harus menerima takdirnya sebagai pekerja keras demi menghidupi lima orang anaknya.

Ia adalah Ria, sosok wanita yang menjadi driver ojek langganan di komplek perumahanku. Awal mengenalnya aku menyukai paras wajahnya yang cantik tetapi karena sering tersengat sinar matahari wajah manisnya dihiasi flek-flek hitam, tetapi hal itu tidak mengurangi kecantikannya. Selain cantik ia disukai oleh ibu-ibu komplek karena dikenal sebagai  pekerja keras, karena Ibu-ibu komplek sering minta tolong dibelikan keperluan rumah tangga seperti air isi ulang, bahkan bantu bersih-bersih rumah.

Suatu hari aku memiliki kesempatan berbincang dengannya pada saat aku memintanya mengerjakan pekerjaan rumah karena pembantuku pulang kampung. Kesempatan itu kugunakan untuk mengetahui tentang dirinya dan bertanya mengapa ia memilih pekerjaan sebagai tukang ojek.



Sambil membersihkan rumahku ia bercerita bahwa sebenarnya sebelum menikah ia memiliki kehidupan yang sangat baik. Ayahnya seorang pejabat daerah dan ibunya memiliki usaha kuliner. Bermula ketika ia memutuskan menikah dengan pria pilihannya dan dari situlah drama kehidupannya dimulai. Suaminya ternyata seorang pemalas dan pemilih dalam urusan pekerjaan karena latar belakang suaminya sebagai anak sulung dan selalu mendapat fasilitas kemewahan dari sang Ayah.

Karena malu dan tidak ingin membebani orangtuanya maka Ria memutuskan pindah dari lingkungan orangtua agar orangtuanya tidak mengetahui kehidupan yang sebenarnya. Tidak mau bertengkar dengan sang suami Ria memilih diam dan berpikir untuk mencari uang dengan caranya, yaitu melakukan pekerjaan apa saja yang penting halal. Ia berpikir bahwa masih ada lima orang anak yang harus ia beri makan dan anak-anaknya butuh  biaya untuk sekolah. Baginya, anak adalah titipan Tuhan dan semua rezeki ada di setiap anak.



Ia bercerita bahwa anaknya yang tertua sudah lulus di akademi pelayaran, dan nomor dua tahun ini lulus Sekolah Tinggi Akuntansi (STAN). Suatu kebanggaan yang tidak ternilai baginya ketika dapat menghadiri wisuda Taruna Pelayaran anak sulungnya. Sementara ketiga anaknya yang lain masih sekolah di SMA dan SMP. Ia rela bekerja keras demi menghidupi anak-anaknya agar anak-anaknya  kelak memiliki kehidupan yang layak dan bangga padanya sebagai ibu yang bertanggung jawab. Walaupun suaminya tidak mau bekerja yang penting baginya adalah anak-anak memiliki ayah dan kelak anak-anaknya bangga punya orangtua yang bisa menyekolahkan mereka sampai ke jenjang pendidikan tertinggi. Ia yakin dalam waktu beberapa tahun lagi semua jerih payahnya akan berbuah manis.

Azan Ashar berkumandang, tiba-tiba Ria menghentikan pekerjaannya dan izin padaku untuk pulang, "Pekerjaan saya sudah selesai Bu, saya pamit dulu mau shalat di rumah saja.” Aku terhenyak dan diam-diam mengagumi kegigihannya. Mendengar ceritanya saja aku belum tentu sanggup melakukan semua pekerjaan yang ia lakukan, tetapi ada hikmah yang dapat kupetik dari ceritanya bahwa pejuang sejati itu adalah seseorang yang mampu bertahan hidup dan rela berkorban apa saja berjuang demi masa depan anak-anaknya. Sebuah proses pembelajaran bahwa seseorang yang nothing akan menjadi something bila mau bekerja keras, apapun jenis pekerjaannya atau profesinya. Ia adalah Ria sosok wanita yang menginspirasiku untuk menjadi I’M Possible!

Jakarta, 12 Maret 2018




(vem/nda)
What's On Fimela