Jika Hanya Menuruti Nafsu dan Emosi, Tak Akan Ada Jalan Keluar yang Baik

Fimela diperbarui 25 Mei 2018, 19:30 WIB

Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Berawal sekitar 8 tahun yang lalu, tepatnya saat aku duduk di bangku SMP. Sebuah kejadian yang sampai sekarang masih sering membuatku menangis, dalam doa maupun saat aku tengah sendiri. Bagai menelan pil pahit rasanya. Membayangkan bagaimana kejadian itu terjadi hingga mempengaruhi kehidupanku saat ini. Kenangan pahit yang selalu mengingatkanku untuk memunculkan rasa amarah, kesal, tangis, dan penyesalan.

Peristiwa Malam Itu Pertanda Bahwa Segalanya Akan Berubah
Di hari itu, tepatnya saat malam. Dengan hanya bercahayakan lilin, aku dan adikku melihat Ibu tergesa-gesa dengan mata sembabnya, masuk ke dalam kamar. Selang beberapa waktu setelah itu, beliau keluar dan menyambar sepeda lalu berlalu pergi. Saat itu, aku sempat bertanya padanya. Pergi kemanakah Ibu malam-malam begini? Apa yang sebenarnya terjadi? Tapi sayang, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Ibuku. Beliau hanya diam menatapku.

Tak berselang lama juga, keluarlah Ayahku dari samping ruang keluarga. Menghampiri aku dan adikku yang masih bingung dengan apa yang sudah terjadi. Ayah pun bertanya padaku kemana Ibu pergi. Aku mengatakannya sesuai dengan apa yang aku lihat. Di tengah suasana dingin malam yang kelam dan mencekam itu, Ayah mengambil motor di bengkelnya dan datang ke arahku untuk mengajak serta aku dan adikku. Belum sempat aku bertanya akan kemanakah kita malam itu, aku yang sudah mulai remaja sedikit demi sedikit mulai memahami pergerakan kejadian yang terjadi di depan mataku.

Di tengah dinginnya malam itu, kami menyusuri setiap jalan raya yang mungkin dilewati oleh Ibu. Ya, kami mencarinya. Di perjalanan malam itu, aku bertanya pada diriku sendiri. Adakah aku telah menyakiti hati Ibu sehingga beliau pergi? Terus saja pertanyaan itu menghantui pikiranku sambil berharap aku segera menemukannya.

Aku sungguh tak percaya, ini menimpa keluargaku. Apa yang sudah terjadi? Sehingga aku melewatkannya. Setiap gang kecil pun kami susuri untuk mencari Ibu dengan sepeda kayuhnya. Sudah hampir 1 jam berlalu, tetap tak ada hasil. Akhirnya kami pulang. Sempat terlintas pikiran buruk dikepalaku. Tak mungkin kan Ibu tak kembali ke rumah? Aku takut itu terjadi.

Bagaimana aku melanjutkan hidup tanpanya? Terlebih lagi adikku masih kecil saat itu. Aku meyakinkan diriku sendiri dan berusaha menjelaskan ke adik bahwa tak terjadi apa-apa. Tak berani kutanyakan perihal ini pada Ayah. Selang satu jam berikutnya, terdengar suara sepeda yang sedang dikayuh di keheningan malam datang ke arah rumahku. Ibu datang masih dengan mata sembabnya. Bahkan lebih bengkak dari yang tadi. Beliau datang memeluk kami berdua lalu pergi ke kamarku sampai tertidur. Ayah yang tahu jika Ibu sudah pulang cuma menatapku kosong lalu berlalu pergi ke kamarnya. Semuanya berlalu begitu saja sampai esok hari tanpa ada kejelasan.

Akhirnya Aku Tahu Apa yang Terjadi
Beberapa hari telah berlalu. Hari kemarin kuanggap seperti tak pernah terjadi. Aku tak berani untuk bertanya lebih jauh lagi. Mungkin itu urusan kedua orangtuaku. Sampai saatnya Ibu menghampiriku untuk bercerita. Beliau menganggapku sudah mampu menjadi tempat keluh kesahnya. Dan ya mungkin aku harus tahu hal ini. Saat itu aku menguatkan diriku sendiri untuk mendengarkannya.



Aku tak dapat membendung air mataku saat Ibu mengatakan bahwa Ayahku tak mau beribadah lagi. Tangisku pecah saat itu juga. Betapa berat cobaan ini. Malam kemarin adalah puncak pertengkaran mereka. Betapa kecewanya Ibu pada Ayah. Kembalinya Ibu malam itu adalah untuk aku dan adikku. Ibu tak mau membiarkan anaknya kurang kasih sayang Ibunya jikalau saat itu Ibu benar-benar pergi.

Ibu berusaha meyakinkan Ayah untuk tak mengambil jalan yang salah. Tetapi sepertinya Ayah tetap pada pilihannya. Bukan karena apa Ibu sampai seperti itu. Beliau tahu bahwa berubahnya Ayahku karena hasutan dari temannya yang sangat dipercayainya. Lidahku kelu tak bisa percaya. Orang yang sudah aku anggap sebagai seseorang yang baik ternyata memiliki hati yang jahat. Dadaku sesak mendengar setiap cerita yang Ibu katakan. Saat itu, mendengar namanya saja aku langsung marah, kesal dan ingin kumuntabkan semua itu kepadanya. Karenanya, Ayahku tak lagi sama.

Ayahku adalah seorang yang tegas dalam mengarahkanku untuk beribadah, namun memiliki hati yang penyayang. Dulu, saat aku mendengar azan tapi tak bergegas untuk salat, maka telingaku lah yang menjadi sasarannya. Tanpa kata dan telinga ini ditariknya hingga merah. Ayah menjadi imam salatku saat itu. Sekarang Ayah tak akan begitu lagi.

Tak akan ada yang menarik telingaku saat aku lalai dalam beribadah. Aku seperti kehilangan sosok Ayah yang selama ini aku kenal. Lagi-lagi aku teringat akan siapa yang sudah membuat Ayahku seperti itu. Dia lah yang mempengaruhi Ayahku untuk tak melakukan ibadah. Dia juga yang sudah membuatku menjadi seseorang yang pemarah. Kalian tau, Ayahku langsung berubah 180 deraajt. Beliau jadi orang yang malas bekerja. Sehingga setiap hari aku melihat Ibu banting tulang sendiri mencari nafkah. Setiap kali Ibu berusaha mengingatkan Ayah untuk kembali ke jalan yang benar, selalu berakhir dengan pertengkaran. Dan ya lagi-lagi karena ‘orang itu’. Aku benci sekali kepadanya. Sangat benci. Entah apa yang sudah ia lakukan sampai Ayahku mau menurutinya.

Perjuanganku untuk Membawa Ayah Kembali Seperti Dulu
Bagaimana denganku? Sudah aku lakukan untuk mengingatkan Ayah agar kembali ke pribadinya yang dulu. Dan setiap kali aku berkata, Ayah seperti meremehkanku. Seorang anak tak pantas menasehati orang dewasa. Mungkin begitu pikirnya. Berkali-kali aku dan adikku melakukannya. Begitu diingatkan, Ayah akan langsung marah besar.



Sampai pada titik tertentu aku seakan ingin menyerah. Aku sudah kehabisan cara untuk mengingatkan Ayah. Sampai suatu ketika, ada seorang Ustadz sedang berceramah di masjid sekolahku. Seakan-akan itu mungkin jawaban yang diberikan oleh Allah atas cobaan yang sedang kuhadapi. Bahasan beliau adalah tentang seseorang yang meninggalkan perintah-Nya.

Sampai sekarang kata-katanya menjadi pegangan hidupku. Beliau berkata, "Jikalau orangtuamu lalai dalam ibadah, maka ingatkanlah beliau dengan cara yang sopan dan sabar. Jika tetap tak mengindahkan sampai 3 kali maka cukupkanlah saja. Jangan sampai menyakiti perasaan mereka. Langkah terakhir yang harus kamu lakukan yaitu jadilah orang sukses, maka orangtuamu dengan otomatis akan kembali kepadamu. Pada saat itulah, ajaklah mereka untuk kembali menyembah Allah. Saya yakin mereka akan kembali." Begitu kuat pengaruh kata-kata itu terhadapku. Aku harus jadi orang yang sukses untuk mengembalikan Ayah seperti dulu. Itu adalah salah satu tujuan hidupku.

Setelah mendengar ceramah ustaz itu, aku tak pernah menyerah untuk terus mengingatkan Ayah. Meski hasil akhirnya akan tetap sama, aku tak akan berhenti. Aku perjuangkan Ayahku untuk kembali seperti dulu. Karena aku yakin mukjizat itu ada. Beberapa tahun belakangan aku mulai menyadari. Betapapun marahnya aku dengan ‘orang itu’, itu tak akan mengubah apapun. Justru bisa menambah semuanya menjadi rumit.

Aku bercermin pada Ibu yang lebih pemaaf dan sabar dalam menghadapi semua cobaannya. Perlahan kuikhlaskan semua yang sudah terjadi. Karena aku percaya Allah tak akan pernah menguji umat-Nya melebihi kesanggupannya. Aku benar-benar berusaha untuk memaafkan ‘orang itu’ dan lebih mendoakannya agar segera mendapat Hidayah dari-Nya. Seiring berjalannya waktu, aku juga mulai mengontrol emosiku untuk tak lagi menjadi seorang yang pemarah dan lebih sabar untuk menunggu mukjizat itu datang. Karena aku yakin waktu itu pasti datang. Waktu di mana Ayah kembali menjadi imam salat kami.

Aku Dapatkan Hasil dari Usahaku Meski itu Sedikit Demi Sedikit
Setelah aku lebih bersabar dan ikhlas untuk memaafkan serta menyerahkan ujian hidup ini kepada Sang Pemberi Hidup, jiwaku lebih tenang dan damai. Dan benar saja. Apa yang aku inginkan, satu per satu mulai menampakkan hasilnya. Ayah sering mengingatkan kami untuk beribadah tepat waktu, meski saat itu beliau sendiri belum melakukannya.



Ayah juga sering mengucapkan kalimat hamdalah seusai beliau mendapatkan sesuatu yang menyenangkan hatinya. Dan perubahan lainnya adalah Ayah kembali menjadi sosok yang penyabar. Tak lagi tersulut emosi. Lebih penyayang dan bertanggung jawab dengan keluarganya. Ya Allah, betapa bersyukurnya aku melihat sendiri perubahan yang terjadi pada Ayahku meski itu sedikit demi sedikit. Sekarang pun perubahan itu tetap menunjukkan sesuatu yang positif. Aku akan lebih bersabar lagi dan terus berdoa untuk menjemput mukjizat itu.

Seseorang pasti pernah melakukan kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak. Pasti mengalami yang namanya ujian hidup. Kita tahu seberapa besar ujian itu, pasti akan ada jalan keluar yang telah disiapkan Allah untuk kita tempuh. Bagaimana caranya tergantung bagaimana kita menjemputnya.

Jika kita hanya menuruti nafsu dan emosi, tak akan ada jalan keluar yang baik, yang ada adalah jalan yang salah. Untuk itu, pelajaran hidup ini mengajarkanku untuk menjadi manusia yang lebih sabar, ikhlas, dan pemaaf atas apa yang terjadi dalam hidup. Itu pun terbukti menuntunku untuk menjemput mukjizat yang aku harapkan. Dan sungguh, aku akan menjadi orang sukses untuk membawa Ayahku kembali kepadaku dan tentunya ketika saat itu tiba, akan kutuntun Ayah untuk kembali ke jalan-Nya. Bismillahirrahmanirrahim.

(vem/nda)
What's On Fimela