Pesan Genit yang Dialami Via Vallen, Pelecehan Atau Bukan?

Fimela diperbarui 06 Jun 2018, 11:05 WIB

Pedangdut Via Vallen merasa dilecehkan karena sebuah pesan yang dikirimkan terduga pesepakbola nasional kepadanya. Ia pun memposting pesan tersebut di akun sosial medianya. Sontak hal itu menjadi viral di dunia maya.

Berbagai komentar datang. Banyak orang yang membela Via, tapi tak sedikit juga yang menganggapnya berlebihan. Hal ini terungkap dari beragamnya komentar netizen di postingan akun gosip yang membahas kasus Via Vallen ini.



Lalu apakah yang dialami Via adalah pelecehan? Psikolog Tara de thouars, BA, M.Psi dengan korespondensinya dengan vemale.com menyampaikan pendapatnya.


Menurut Tara, Perempuan sejatinya berhak melindungi dirinya saat mengalami sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Jadi jika memang Via merasa terganggu dengan pesan genit tersebut, itu sudah bisa dibilang memang dia dilecehkan.

Masalahnya, di Indonesia, masih banyak anggapan bahwa perempuan adalah objek. Perempuan juga diharapkan menjadi sosok yang nerimo, pasif dan tidak emosional.

“Sering kali perempuan itu dilihat berdasarkan tubuh dan objek seksual, itu yang menyebabkan perempuan menyadari apapun itu tubuhnya akan selalu dinilai oleh orang lain. Selain itu perempuan dari segi sosial dikonstruksikan jadi sosok yang tidak boleh agresif, melainkan menjadi sosok yang lebih diem, harus sabar menahan segala emosi, dan tidak bersikap berlebihan,” ungkap Tara.

Baca Juga: CatCalling, Pelecehan Berbalut Pujian

Alasan di atas yang kemudian membuat kebanyakan perempuan yang mengalami pelecehan (terutama yang sifatnya masih ringan) memilih untuk mengacuhkan apa yang dialaminya, walaupun ia tidak merasa nyaman. Ia takut, reaksinya akan dianggap berlebihan oleh orang lain, atau bahkan mereka yang dianggap memancing pelecehan tersebut.


Bagaimana harus bersikap?
Bagaimana jika kita mendengar orang terdekat kita merasa dilecehkan? Sebagai sesama perempuan, justru kita harus berempati. Walau fakta tetap harus dicek kebenarannya, namun jangan terbiasa untuk menyalahkan korban. Jangan menganggap tuduhannya tidak valid karena baju yang digunakan, apalagi bertanya apa yang ia lakukan hingga ia mengalami pelecehan.

Tak ada perempuan manapun yang pantas dilecehkan. Menyalahkan korban hanya akan memberi “izin” bagi pelaku untuk terus melecehkan. Korbanlah yang harus dirangkul, jangan justru memaklumi pelaku.

Say no to sexual harrasment!

(vem/kee)
What's On Fimela