Bersabar dalam Penantian Itu Tak Mudah, Sayangnya Tak Semua Orang Paham

Fimela diperbarui 16 Jul 2018, 17:00 WIB

Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.

***

"Sudah nikah lama, kapan hamil nih?"
"Itu yang baru nikah aja sudah hamil, kamu kapan nyusul?"
"Kapan hamil nih, aku udah mau nambah loh ini!"

Selama lima tahun usia pernikahan, saya sudah mendapatkan puluhan bahkan ratusan pertanyaan semacam ini. Pertanyaan itu muncul, entah dari keluarga, kerabat, teman, tetangga, bahkan pedagang keliling saja sering meneror saya dengan pertanyaan 'kapan' yang legendaris itu.

Saya pribadi suka bingung untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Karena bagi saya, di dunia ini ada beberapa pertanyaan yang kadang tak perlu dijawab. Namun sayangnya banyak orang memilih bertanya sebuah pertanyaan yang kadang mereka sudah tahu dengan jelas jawabannya. Entah itu sekadar basa-basi atau memang rasa peduli, tapi nyatanya hal itu kadang tak mengenakkan untuk didengar.



Pernahkah sesekali mereka berpikir sebelum mengucapkan kata 'kapan', bahwa ada wanita yang sudah sampai jenuh harus memakan kecambah setiap harinya? Tahukah mereka, bahwa orang yang mereka tanyai itu sudah sampai bosan berkonsultasi dan memeriksakan diri ke dokter kandungan dengan membayar harga yang tidak murah? Pernahkah mereka memahami bahwa orang di hadapannya itu sudah sampai putus asa mencoba segala macam makanan dan obat-obatan tradisional demi bisa mengandung? Dan pernahkah mereka sadari bahwa sudah ada ribuan doa yang terlantun dengan ratusan tetes air mata di tengah malam yang telah mereka panjatkan demi bisa menjadi seorang ibu? Andai mereka tahu.

Saya yakin, setiap wanita yang sudah menikah tentu mengharapkan bisa lekas hamil dan menjadi seorang ibu. Itu manusiawi. Tapi hidup ini seperti yang dikatakan oleh Einstein, bahwa "Tidak semua yang dapat dihitung diperhitungkan, dan tidak semua yang diperhitungkan dapat dihitung."



Kita bisa merencanakan kehidupan yang kita miliki dengan rapi dan begitu indah, tapi pada akhirnya Tuhanlah yang mengatur jalan cerita dalam hidup kita. Seharusnya mereka paham, bahwa ada sebagian orang yang setelah menikah langsung diberi momongan namun ada juga yang harus menunggu dalam waktu yang tidak sebentar untuk mendapatkan keturunan. Bersabar dalam sebuah penantian itu tidaklah mudah, maka jangan tambah beban mereka dengan pertanyaan omong kosong tersebut.

Cobalah, sebelum mengajukan kata 'kapan', posisikan diri kita sebagai mereka. Pahamilah, tidak mudah berusaha tegar dan terus menahan sabar dalam sebuah penantian. Kadang segala usaha dan kerja keras yang sudah dibangun, luluh lantak begitu saja dengan pertanyaan sepele seperti 'kapan'.



Saya sendiri beruntung, memiliki hati berlapis-lapis seperti bawang merah, sehingga tak terlalu 'down' dengan pertanyaan semacam itu. Tapi tidak semua wanita tegar, dan tidak semua wanita memiliki kepercayaan diri yang sama. Jangan jatuhkan semangat mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang kadang tak bermanfaat.

Stop bertanya 'kapan'. Mau sampai kapan kalian akan bertanya 'kapan'?

Jika memang ada rasa peduli, maka genggamlah tangan mereka dan semangati mereka dari rasa putus asa dan menyerah. Jadilah manusia yang lebih memanusiakan manusia dengan pertanyaan yang manusiawi.





(vem/nda)