Wanita yang Pernah Dikhianati, Hatinya Bisa Lebih Tegar dari Karang

Fimela diperbarui 22 Jul 2018, 12:00 WIB

Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.

***

Aku adalah satu dari banyak perempuan yang pernah terluka hatinya. Aku berantakan sejak ditinggalnya beberapa minggu lalu, semua terasa menyesakkan kala namanya terlintas di pikiranku.

Dia adalah laki-laki yang sukses membuat perempuan berhati dingin ini mencair kemudian membuatnya beku mati rasa. Sejak dulu, aku terbiasa bergaul dengan lawan jenis, pembawaanku yang cuek sebagai perempuan, mudah bergaul dan berbeda dari perempuan biasanya membuat teman laki-laki merasa nyaman ketika aku berada di antara mereka.

Banyak di antara mereka yang menganggap aku adalah orang yang tepat untuk berkeluh kesah, beberapa muncul perasaan istimewa namun aku tak menghiraukannya, dan mereka terima dengan sikapku yang acuh atas apa yang mereka rasakan. Iya aku tak ingin merusak pertemanan dengan rasa yang lebih jauh, terkubur lah semua, dan mereka yang menyimpan rasa untukku tetap bersamaku, aku tak pernah meninggalkan mereka, aku ada untuk mereka.

 

Hingga suatu hari aku bertemu dengannya, yang berusaha keras menaklukkan hatiku. Ketika itu aku tak roboh, seberapa pun dia memintaku untuk mencoba menjalin hubungan dengannya, aku tak bergeming. Aku tetap berada di antara kesulitannya, tanpa memberi harapan apa pun. Kukatakan padanya bahwa aku tak bisa menjalani hubungan tak jelas, jika ingin memulainya, maka aku tak bisa bertahan lama. “Datanglah ke rumah dan bicara pada bapak,” kataku. Dia mengiyakan permintaanku, dia sangat meyakinkan.

Sejak bertemu denganku, sejak dia belum begitu akrab mengenalku dan belum menyimpan perasaan apapun untukku, dia selalu memenuhi apa pun permintaanku, permintaan yang notabenenya untuk mendongkrak karier yang sedang ia rintis. Dia merasa aku orang yang tepat, cara berpikirku berbeda dengan perempuan yang pernah ia temui. Katanya, "Aku tidak mengerti kenapa setiap kalimat yang kamu ucapkan seolah menghipnotisku untuk segera kulakukan," dan aku tak merasa istimewa dengan pujiannya itu.

 

Semakin aku mengenalnya semakin berbeda rasa di hatiku, dia seperti melengkapi semua yang tidak aku tahu. Iya, kami saling melengkapi, aku tahu dia tidak. Dia tahu aku tidak. Di sisi lain kami saling menyempurnakan. Seni yang mempersatukan aku dengannya. Banyak hal yang kami lalui, hingga muncul lah keyakinan, untuk pertama kalinya aku yang sangat tertutup pada orangtuaku memberanikan diri untuk bercerita tentangnya, sontak keluargaku kaget.

Seberani itu aku menceritakannya pada keluarga. Mereka bertanya kapan dia datang? Kusebut tanggal dimana dia akan berkunjung ke rumah. Hubungan kami semakin dekat, aku berada di sela kesibukannya, begitu pun dia. Berbicara lewat telepon berjam-jam hingga saling tertidur tanpa memutuskan sambungan. Banyak hal yang tak bisa kulupakan dengannya, termasuk janji dan semua permohonan untuk tidak pernah berpaling darinya.

Hingga tiba suatu hari tanpa badai tanpa angin dia bicara soal perjodohan yang dilakukan ibunya. Awalnya dia seolah sedih dan marah pada keadaan, dia bermain drama dengan epik, namun dia salah jika memainkan peran di hadapanku. Aku tahu, aku sedang dipermainkan, dibodohi, dibohongi namun hatiku berkali-kali menyangkalnya. Aku hanya sedang mencari di mana letak kebohongannya. Aku terus mencari tahu, terus berdoa agar semua bertemu jalannya. Berhari-hari aku menangis, terluka, kehilangan selera makan, tidur berantakan pekerjaan berserakan semua dibuatnya kacau.

 

Lalu kapan aku menyudahi kebodohanku? Ketika aku tersungkur di hadapan Allah-ku, aku menyangkal prinsipku untuk tidak menjalin hubungan sebelum akad, aku menyadari kesalahanku. Sepuluh hari tanpa kepastian, namun kita tetap berhubungan meski dia mulai mengacuhkan. Akhirnya aku menyadari perlahan kubaca semua alurnya, memahami setiap kalimat yang ia tulis, seolah ingin tapi tak ingin, seolah mempertahankan padahal memaksa ingin dilepaskan.

Dia memanipulasi keadaan agar tangannya tetap bersih dalam hubungan. Oh aku tahu dia kembali pada masa lalunya. Dia meninggalkan aku untuk perempuan yang pernah mampir dalam hidupnya, dia membuat drama yang luar biasa. Padahal jelas pernah kubilang bahwa tinggalkan saja aku jika dia tak lagi mencintaiku, jelaskan saja padaku jika ada orang lain di hidupmu. Itu akan lebih mudah untukku melupakanmu. Tapi dia membungkusnya dengan sandiwara. Membuatku limbung dengan rasa cintanya yang seolah nyata.

Kapan aku bisa melupakannya? Tidak, ini bukan sebuah usaha melupakan, ini caraku untuk membiasakan, terbiasa tanpanya seperti saat dia belum datang dalam hidupku. Dia membuatku merasa dicintai biarpun rasa itu cuma pura-pura. Dia hanya penasaran dengan kepribadianku, dia memuaskan keingintahuannya. Baginya menaklukkanku adalah prestasi. Biarlah.

Pertanyaan terbesar dalam benakku hingga saat ini adalah, kapan aku akan berhasil membiasakan hidup tanpanya lagi? Aku belum menemukan jawabannya, sebab hatiku kosong, jangankan cinta benci pun tak ada.

Kubiarkan semua, tak ada dendam, aku hanya berharap dia benar dengan pilihannya, dan aku akan bahagia dengan hidupku yang sekarang. Dia telah membuang percuma rasa cintaku, dia mempermainkan hati yang tulus untuknya, maka dia akan merasakan betapa cintaku akan mengusik ketenangannya. Bukan aku yang akan membalas, tapi rasa bersalahnya yang akan membuat hidupnya berantakan, membuatnya bahkan tak sanggup berkaca, karena bayangan pun enggan menatap wajahnya.

Kapan waktunya tiba? Ketika dia menggantikan posisiku, mencintai dengan sangat tapi dibuang secepat kilat. Bukan doa buruk sayang, karma bagiku tak ada, tapi sistem tanam tuai tidak pernah lenyap di muka bumi.

 (vem/nda)
What's On Fimela