Keraguanku Terjawab, Ternyata Sudah Ada Wanita Lain yang Jadi Calon Istrimu

Fimela diperbarui 27 Jul 2018, 17:00 WIB

Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan 'kapan'? Kata 'kapan' memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang. Seperti kisah sahabat Vemale yang disertakan dalam kompetisi Stop Tanya Kapan! Ungkapkan Perasaanmu Lewat Lomba Menulis Juli 2018 ini. Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan 'kapan'.

***

Malam itu sungguh aku merasa semakin bersalah. Pesan singkatmu lagi-lagi menanyakan kapan kesiapanku untuk menikah denganmu. Apalagi yang harus aku katakan padamu. Jika aku ungkapkan isi hati bahwa aku tidak seyakin itu denganmu maka aku takut kamu berhenti dan akan pergi. Lalu aku melewatkan lelaki baik sebagai pendamping hidup.

Meskipun aku memang bersalah dengan menunda-nunda memberikan jawaban. Namun, wanita memang begitu, terlalu rumit! Berharap kamu mengerti isi hati walaupun aku tidak pernah sukses mengungkapkannya. Seperti aku tidak ingin kamu pergi tetapi aku tidak ingin juga kamu selalu menanyakan kapan kesiapanku untuk menikah denganmu. Mungkin aku hanya takut. Entahlah aku tidak pernah memiliki jawaban untuk itu.

Sekali lagi aku bersalah. Iya aku mengakuinya. Kamu sudah sangat jelas mengungkapkan bahwa kamu lelah menjalani setiap hari dalam kesendirian. Kamu memiliki segalanya dan bisa melakukan apa saja untuk membunuh kesendirian itu, kataku berdalih di satu kesempatan. Lalu kamu menjawab dengan sangat manusiawi bahwa rasanya tidak sama dengan status hubungan sebagai suami-istri.



Maafkan aku, saat itu aku tidak paham dan tidak juga mencoba untuk mengerti. Lagi-lagi ini hanya alasanku, entah mengapa aku tidak pernah bisa seklik itu denganmu. Hatiku selalu berkata bukan kamu orangnya. Namun logikaku membela kamu layak untuk dipertimbangkan. Ah, aku biarkan hati dan logikaku berkompromi. Memberi waktu untuk melihat lagi sejauh mana hubungan kita bisa dijalani.

Kemudian waktu berlalu. Tidak terasa. Seminggu. Sebulan. Setengah tahun. Dalam diam aku membuka seluas-luasnya hatiku untuk menerimamu. Jika kamu berubah sedikit saja lebih perhatian atau mengganggu hidupku lebih sering maka aku akan pastikan kapanpun kamu memintaku, aku akan siap!

Lalu semua hal itu tidak pernah aku dapatkan. Kamu tidak pernah melakukan apa-apa. Kamu justru hanya sesekali menghubungiku. Aku berusaha lebih baik tetapi kamu tetap sama seperti dulu. Keras kepala dan tidak pernah mendengarkan. Kamu selalu berkata bahwa kamu merupakan sosok dewasa tetapi tidak pernah menjadi dewasa di hadapanku. Kenapa?



Sampai di malam itu, kamu menanyakan kembali kapan kesiapanku. Sesaat sebelum aku sempat menjawab kamu menyimpulkan jika aku masih butuh waktu untuk mempertimbangkanmu. Aku hanya memilih diam membiarkanmu dengan pikiran dirimu sendiri. Entah itu adalah sebuah kesalahan atau tidak.

Kini semua jelas dan terang. Kamu datang mengabarkan pernikahan yang akan kamu selenggarakan bulan depan. Bagiku, kini kamu hanyalah pecundang! Selalu menanyaiku kapan lantas berakhir datang membawa kabar pernikahan. Dan kini aku hanya ingin bertanya satu hal padamu. Sejak kapan kamu mendekati wanita itu? Sejak kapan? Jawab aku, sejak kapan? Kamu berhenti menanyaiku kapan, kini giliranku merongrongmu dengan pertanyaan kapan.

(vem/nda)
What's On Fimela