Menjalin Hubungan Jangan Cuma Asal 'Jalani Dulu' Tapi Juga Perlu Kepastian

Fimela diperbarui 31 Jul 2018, 13:45 WIB

“Jadi, kapan?" Ah, bencinya aku. Tak bisakah coba menjalani saja and we’ll see? Kini aku baru sadar setelah ada di posisi tersebut. Hatiku tak pernah henti bertanya kapan. Ternyata begini selama ini yg dirasakan tiga lelaki itu. Tiga lelaki yang datang untuk mencoba merebut hatiku dan menghalalkanku. Tapi aku menggantung mereka dengan begitu tragis.

Awalnya aku merasa itu biasa saja. Yang namanya suatu hubungan kan butuh proses, jalani sajalah. Tapi kini aku tahu, hubungan bukan hanya tentang proses tapi tentang suatu kepastian. Untuk apa kau menjalani hubungan tersebut. Apa yang kau inginkan di akhir hubungan tersebut. Tentu saja saat ini kita membicarakan hubungan yang menuju ke halal. Nah, dari kata-kata itu saja sudah tau tujuannya adalah hubungan yang halal di mata manusia dan Sang Khalik.



Lelaki pertama, John. Aku sangat menyayanginya, begitu juga dengannya. Kami sudah pacaran 2 tahun lebih. Dia  menginginkanku di awal-awal kami pacaran, tetapi aku merasa saat itu aku belum siap. Dia selalu bertanya kapan aku siap. Dan aku hanya menjawab, biar kita jalani saja dulu, nanti waktu yang akan menjawabnya. Dan ketika aku sudah siap, dia sudah lelah dengan hubungan kami, hingga akhirnya hubungan kami pun kandas.

Lelaki kedua, Anan. Aku tidak mencintainya. Aku dikenalkan kepadanya oleh saudaraku. Usiaku 27 tahun kala itu yang sudah cukup untuk menikah. Usiaku itu yang membuatku berpikir apa ku terima saja, karena dia sudah berulang kali bertanya kapan aku siap dinikahi. Tapi hatiku benar-benar tidak bisa terbuka untuknya. Hingga akhirnya aku mengatakan, “Aku tidak bisa."

Dan kemudian hal yang sama terulang kembali kepada lelaki ketiga, Mahmud. Dan yang membuat aku jengkel, tak hanya dia yang bertanya kapan aku akan menjawab lamarannya, tetapi keluarganya juga mendesakku untuk segera menjawab, karena baik Mahmud dan keluarganya menginginkan agar dia bisa segera menikah. Dan aku sangat benci dijejali dengan pertanyaan kapan itu hingga aku memutuskan untuk kembali mengatakan, “Aku tidak bisa."



Dan kini aku tahu perbedaan perspektif akan menyebabkan pertanyaan itu akan timbul. Misal saat orang-orang menanyakan, “Kapan nikah?” Saat itu perspektif mereka melihatmu adalah, “Apalagi yang dia tunggu? Toh dia sudah mapan, dia juga nggak jelek-jelek amat, umurnya juga sudah cukup, apalagi yang dia cari?”

Sedangkan perspektif kita yang saat itu menjawab dalam hati, “Duh rese amat sih, ngapain ngurusin hidup orang, emang kalian tahu apa yang aku rasain, aku juga maunya sekarang kalau bisa, tapi aku kan yang nantinya menjalaninya, banyak yang harus aku pertimbangkan." Dan mungkin saja ketika aku melihat orang lain dengan perspektif sudah matang, aku juga akan bertanya kapan. Dan itulah yang kurasakan saat ini.

Kali ini aku bertemu dengan seorang laki-laki, lebih tepatnya dipertemukan dan diperkenalkan. Aku sudah mengenalnya sebagai tetanggaku sewaktu aku kecil. Dan dia sudah lama pindah keluar kota, tetapi aku masih mengingatnya. Usiaku terpaut 13 tahun lebih muda darinya, tapi aku menyukainya. Aku merasa dia adalah sosok laki-laki yang aku cari selama ini. Dan aku berharap agar bisa segera menjadi halal baginya. Tapi ternyata karena dia sudah pernah gagal membina rumah tangga, dia pun menjadi sangat berhati-hati.



Walau secara garis besar dia sudah menyukai dan serius ingin menjadikanku permaisuri rumah tangganya, tetapi mungkin masih ada ketakutan yang menghantuinya. Setelah dia mengatakan keinginannya itu secara tidak langsung, sekarang entah kenapa dia tidak lagi membahas hal itu. Aku ingin menanyakan kapan. Kapan dia akan meminangku secara resmi karena aku merasa aku sudah siap. Dan banyak orang termasuk keluargaku yang tau tentang hubungan serius yang saat ini sedang kami jalani.

Mereka pun sibuk menanyakan, "Kapan?” Dan aku tak tahu harus menjawab apalagi karena saat ini juga aku selalu bertanya dalam hatiku, “Kapan?” Tapi aku tak berani menanyakan kata-kata itu padanya karena aku tahu betapa menjengkelkannya pertanyaan itu dan membuat muak orang yang harus menjawabnya. Dan ternyata memberhentikan pertanyaan kapan dari hati jauh lebih berat daripada menanggapi pertanyaan kapan dari orang lain. Jadi, wahai hati, stop bertanya kapan. Percayakan saja pada Sang Pemilikmu. DIA yang akan menjawab segalanya.




(vem/nda)