Bertahan sebagai Anak Rantau, Hidup yang Sederhana Janganlah Dibuat Rumit

Fimela diperbarui 24 Agu 2018, 13:10 WIB

Untuk bisa bertahan di tanah rantau, kadang kita perlu mengorbankan banyak hal. Tapi hidup pada dasarnya jangan sampai dibikin rumit. Seperti kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Kisah Pahlawan dalam Hidupmu ini.

***

Hai! Untukmu yang tengah berjuang dengan keras di tanah rantau atau mungkin kelelahan dengan aktivitasmu. Kuharap ceritaku dapat menginspirasimu. Semoga sepenggal motivasi diri ini dapat bermanfaat.

Setiap orang tentunya memiliki cita-cita, bukan? Ya. Begitupun dengan seorang perempuan muda ini. Pada usianya yang belum genap 17 tahun, ia telah memiliki banyak pengalaman hidup yang pantas diacungi jempol. Ia tumbuh sebagai gadis yang kritis dan cerdas. Ia menyukai tantangan, ia mandiri dan berjiwa sosial tinggi.

Gadis ini tidak terlahir dan tumbuh di lingkungan yang baik-baik saja. Kedua orangtuanya merantau di sebuah perkampungan yang pada masa itu belum berkembang. Biaya hidup saat itu sangat sulit. Pada mula kedatangan keluarga kecilnya di tanah rantau, mereka tidak mengenal siapapun, tidak memiliki tempat tinggal, dan tidak memiliki uang yang cukup. Waktu dini hari kedua orangtuanya membungkus kerupuk untuk dijual, lalu pagi harinya ayahnya mencari job sebagai fotografer dengan berkeliling. Ibunya saat itu masih berstatus ibu rumah tangga (sekarang PNS).



Hidup dengan keterbatasan ekonomi orangtua bukan menjadi keluhan. Ia berani untuk merantau jauh dari orangtua. Ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMP sendirian. Baginya untuk menjadi seorang pembelajar unggul, ia harus mampu keluar dari zona nyaman. Ia memutuskan untuk mencari ilmu di kota. Ia tinggal bersama nenek dan keluarga pamannya. Dan di sinilah lika-liku kehidupannya dimulai. Ia mulai merasakan perbedaan drastis, ia yang biasanya hanya menengadahkan tangan kepada orangtua untuk memenuhi keinginannya, kini ia mesti lebih sabar. Ia tinggal di rumah orang, ia harus berkelakuan baik walau terkadang tak mendapat perlakuan baik. Ia yang saat itu belum genap 12 tahun harus melawan keegoisan masa transisinya menuju remaja.

Hampir setiap malam ia menangis, menghubungi orangtuanya, namun ia tetap bersikeras melawan dirinya sendiri, baginya pendidikanlah yang dapat mengubah masa depan keluarganya. Sudah cukuplah ia melihat kesusahan orangtuanya, ia harus berubah. Ia adalah satu-satunya putri keluarga. Jika ia tak jadi bintang, maka ia akan menahan pedihnya menjadi budak. Begitulah pikirnya.

Di sekolah ia merupakan siswi aktif, ia menyeimbangkan antara akademik dan non-akademik. Ia belajar dengan giat dan juga aktif di organisasi, bahkan ia mengikuti ekskul bela diri taekwondo semasa SMP. Ia mudah untuk berteman dengan siapa saja. Dalam kehidupannya sebagai anak rantau, ia hidup mengejar kesempurnaan. Baginya, ia harus dapat menjadi baik dan terus menjadi baik. Tentu saja melelahkan, hidup dengan kepalsuan sungguh tidak mengenakkan. Tapi inilah perjuangannya. Ia mengorbankan masa muda demi impiannya. Ia mengorbankan ‘family time’ demi martabat keluarganya nanti. Ia berkorban pikiran, kesehatan, dan segala kenikmatan anak muda seusianya.

Ia pernah mengalami sakit parah dan tak satupun orang yang berada di sampingnya. Ia menahan sakitnya sendirian bahkan orangtuanya pun tak tahu keadaannya pada saat itu. Di lain kejadian, ia pernah kehilangan seluruh uangnya saat ia mengikuti kegiatan keagamaan, hal ini membuatnya cukup depresi, bahkan seribu rupiah pun ia tak punya. Banyak lagi hal yang telah ia lewatkan. Tapi yang perlu diketahui bukanlah apa yang terjadi saat ia jatuh, tapi apa yang terjadi hingga ia mampu melewati setiap rintangan hidup.



Bagaimana mungkin gadis tersebut mampu bangkit setelah jatuh tak berdaya. Ia pernah berkata kepada pendengar kisah hidupnya, “Hidup ini sangat sederhana, kita saja yang merumitkannya. Bukankah Tuhan tak akan membebankan sesuatu yang tak mampu dihadapi hamba-Nya?" Tentu saja berarti aku mampu. Tuhan telah menjamin kehidupanku, kini tinggal aku saja memilih jalan mana yang akan aku tempuh untuk bertahan hidup.

Kau mungkin menganggapku gila karena terlalu yakin dengan hidupku. Kau tahu? Aku ini tak punya siapa-siapa, aku hanya punya Tuhan. Dan Tuhanku memiliki segalanya, bukankah dunia terlalu kecil untuk Ia berikan padaku? Tuhanku pernah mengatakan bahwa Ia itu sebagaimana prasangka hamba-Nya saja. Maka dari itu tugasku hanya mencintai-Nya agar Ia pun mencintaiku.

Kini telah memasuki tahun ke-6 kehidupannya di tanah rantau. Kelaparan, kehausan, sakit, rindu, hinaan, caci maki kini bukanlah persoalan besar yang sukar ia hadapi. Kini pengorbanannya tak hanya itu, namun sepenuh dirinya telah ia korbankan demi cita-citanya. Ia berkomitmen kuat untuk mengorbankan masa mudanya untuk kehidupan di masa mendatang.

Kondisinya dari tahun pertama mengalami peningkatan drastis. Ia mengedepankan hubungan dengan Tuhan, ia selalu berusaha berkelakuan baik, hidup dengan kesederhanaan yang penuh syukur, ia aktif di kegiatan sosial dan keagamaan. Dan begitulah hidup petarung perempuan muda tersebut, dengan bermodalkan motivasi dari diri sendiri, ia mampu dan siap menatap masa depannya.

Ah, begitu bangganya aku menceritakan hidupku, Iya. Aku lah "dia", tokoh utama ceritaku tadi, aku memang suka sekali membagikan cerita hidupku, aku senang ketika orang lain dapat melongo dengan beberapa pengalamanku.

Namaku Rani Regita Mutiara Fiqih. Aku suka mengkritisi perkara hidup, aku suka politik, aku suka berorganisasi dan aku suka menulis. Untukmu yang membaca tulisanku ini, kuharap kau tak pernah takut hidup sendiri, tak pernah takut untuk berkorban diri, tak ada kata terlambat untuk berjuang dalam melawan keterbatasan. Tingkatkan hubunganmu kepada Tuhan, sesama manusia, alam semesta dan dirimu sendiri. Berikan energi positifmu kepada lingkunganmu. Jangan pernah takut berkarya karena kehidupanmu perlu diperjuangkan!

-R.R Mutiara Fiqih

(vem/nda)
What's On Fimela